Wednesday, 10 June 2026 |Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 4.248
Today
:
47.503
Yesterday
:
25.426
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
04 mei 2015 09:24
Tenun Songket Melayu Riau Mendunia
Ilustrasi: Buku Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau terbitan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
Pekanbaru, Riau - Tidak berlebihan rasanya bila menyebutkan tenun songket melayu Riau, khususnya yang diproduksi di rumah kerajinan tenun Winda, yang berada di Jalan Inpres Pekanbaru, telah mendunia.
Pasalnya sejumlah songket yang dihasilkan di sana, telah dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, bahkan hingga keluar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga ke negeri kicir angin, Belanda.
Di dalam negeri, hasil kerajinan tenun sogket melayu Riau dari rumah kerajinan milik Winda, sudah sangat terkenal, dan dipasarkan hampir diseluruh provinsi di tanah air.
Pemilik rumah kerajinan bernama Winda, yang ditemui di pusat kerajinan tenun, pada Sabtu (2/5/2015) mengatakan berbagai motif songket melayu dihasilkan dari rumah kerajinan itu. Tidak kurang ada 30 motif tenun songket melayu yang bisa dihasilkan. Untuk pembuatan satu sogket tenun membutuhkan waktu yang lumayan lama, 3-4 hari.
Harga satu kain tenun songket melayu bervariatif teegantunf bentuk dan motif yanf dihasilkan. Umumnya harga kain songket yang ditawarkan berkisar Rp.300 ribu - Rp. 5 Juta.
Diceritakannya, usaha tenun itu telah dimulai sejak tahun 1995 lalu. Dia memulai dengan hanya mengandalkan satu alat tenun. Kemudian usahanya semakin meningkat seiring tingginya permintaan akan kain tenun songket melayu.
"Sekarang sudah ada 35 mesin tenun dirumah kerajinan ini," kata Winda.
Dia menambahkan, usaha yang digelutinya itu bukan tanpa hambatan. Banyak kendala yang dihadapinya dalam menjalankan usaha kerajinan itu. Apalagi dengan kondisi naiknya harga BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah.
Hal itu memicu tingginya biaya produksi, yang berimbas pada menurunnya permintaan atau daya beli masyarakat. Selain it juga, Winda mengaku kesulitan untuk mendapatkan bahan baku pembuatan tenun songket seperti benang emas.
Bahan baku itu sulit didapatkan karena hanya di produksi di luar negeri, seperti Singapura dan India. Dia berharap agar pemerintah bisa memberikan perhatian untuk para pengerajin tenun di Indonesia.