Sunday, 1 November 2026   |   Sunday, 20 Jum. Awal 1448 H
Online Visitors : 0
Today : 11.679
Yesterday : 40.758
Last week : 51.501
Last month : 11.429.130
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

09 oktober 2015 03:32

Komunitas Teater DIY Pentas Drama Kolosal

Angkat Cerita Wayang dengan Tata Panggung Modern

Latihan Cupu Manik di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com – Resi Gotama marah ketika Indardi istrinya selingkuh dengan Batara Surya. Maka istrinya dikutuk menjadi batu. Sementara Cupu Mank Astagina yang diperebutkan oleh Anjani, Sugriwa, dan Subali dibuang jauh-jauh oleh Resi Gotama dan pecah menjadi dua dan berubah jadi sendang yakni Sumolo dan Nirmolo. Ketika Sugriwa dan Subali masuk dalam sendang, ia berubah menjadi kera. Sementara Anjani yang hanya cuci muka wajahnya berubah menjadi kera. Untuk memulihkannya Resi Gotama meminta mereka bertiga untuk bertapa di tempat yang berbeda.

Itulah penggalan ceritera ‘Rebutan Cupu Manik Astagina’ pentas drama kolosal yang akan dipentaskan di lapangan Paseban Bantul, Sabtu (24/10) malam. Pentas yang melibatkan 250 pemain dari berbagai komunitas teater di DIY didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY. Naskah ditulis oleh Iman Budhi Santosa, Anes Prasetyo, Tri Wahyudi, dan S. Arimba.

Cerita yang diangkat dari dunia pewayangan ini mengandung nilai-nilai luhur yang kontekstual dengan situasi zaman sekarang. Inti ceritanya adalah perjuangan manusia dalam menghadapi berbagai macam persoalan hidup yang kerap menjerumuskan dan membuat orang lupa akan hakikat dirinya sebagai manusia. Manusia yang terjerumus tersebut akan memiliki derajat yang bahkan lebih rendah daripada binatang.

Adegan drama berbahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa dan dibumbui beragam istilah pewayangan ini mengangkat Sugriwa sebagai tokoh utama. Pesan yang ingin disampaikan adalah hati bersih dari sifat angkara. “Melalui tokoh utama Sugriwa, pesan yang ingin disampaikan adalah, sebagai manusia jangan memiliki sifat angkara murka dalam diri,” tutur Anes Prasetya, Kamis (8/10).

Bantul dipilih sebagai tempat menyelenggarakan pementasan ini karena dianggap lebih representatif. Salah satunya kultur masyarakat yang sangat kuat. Semua kalangan dapat menikmati pentas ini. “Karena di pementasan ini terdapat banyak kejutan dan humor yang cerdas,” cetus Anes berpromosi.

Sementara itu, menurut Ahmad Hasfi Asmaralaya selaku sutradara, untuk menyuguhkan suatu tontonan yang istimewa, sudah banyak hal yang dilakukan. Pementasan Rebutan Cupu Manik Astagina akan dikemas secara menarik dengan mengusung konsep audiovisual, penataan cahaya, tata panggung, dan live music.

Pementasan ini dikombinasikan dengan tarian, menggunakan tiga panggung dengan kapasitas besar, dan semua yang terlibat adalah para pemuda di bawah usia empat puluh tahun. “Panggung utama ukuran 20 X 14 X 1. Sisi kanan kiri dua panggung ukuran 10 X 8 X 1,” ujar Hasfi.

Lakon ini ditangani 6 astrada, dengan penata musik Farindo Reska Gemar ‘Kijing’, Faroh Ruri dan Rahmat ‘Mamate’. Penata artistik Herdina Anna ‘Trinil’ dan Dwi Widodo. Sedang pendukung Septiana (Sugriwa tua), Sri Rangga (Sugriwa muda), Hendra (Subali), Ganin Darmi (Anjani), Rizky Cahya (Indradi), Kris Cahyono (Resi Gotama), dan Silvester Agung KP (Maesasura).* (Teguh R Asmara)


Read : 2.841 time(s).

Write your comment !