You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
23 november 2015 06:39
Group Lagu Puisi dari Malaysia Turut Ramaikan SBP Yogyakarta
Kelompok Kavya dari Magelang
Bantul, Melayuonline.com – Lima kelompok dari komuntas musik akan tampil dalam Sastra Bulan Purnama (SBP) yang akan digelar di Tembi Rumah Budaya Bantul, Yogyakarta, Jumat (27/11) malam. Lima kelompok musik ini akan membawakan lagu-lagu puisi. Mereka adalahGroup Lagu Puisi dari Malaysia, Kavya dari Magelang, Alfris and Friend’s, Doni Suwung, dan Memet Chairul Slamet and Friend’s. Setiap kelompok musik akan mengolah puisi menjadi lagu, atau merespon puisi dengan karya musik.
Lagu puisi di Yogyakarta sudah lama dikenal, seringdisebut sebagai musikalisasi puisi. Padahal musikalisasi puisi dan lagu puisi dua hal yang berbeda meski keduanya mengambil puisi sebagai basis kreasi.“Lagu puisi mengambil puisi sebagai bahan untuk menciptakan lagu dan musikalisasi puisi bisa dalam bentuk membaca puisi diiringi musik, tapi bisa juga puisi dibuat menjadi lagu,” ujar Ons Untoro.
Masing-masing kelompok musik yang akan tampil ini menggarap puisi dari beberapa penyair, dan mengolah puisi karya sendiri. Doni Suwung, yang telah mengeluarkan album lagu puisi akan menampilkan puisi-puisi karya sendiri. Daladi Ahmad, personil Kayfa yang juga penyair dari Magelang, selain menampilkan puisi karya sendiri yang dibuat lagu, juga mengolah puisi penyair lain.
Alfris, kelompok musik anak-anak muda akan mengolah puisi, diantaranya karya penyair Slamet Riyadi Sabrawi. Sedang Group Lagu Puisi, satu istilah musikalisasi puisi dari Malaysia dan dikenal dengan sebutan GLP, telah mengeluarkan beberapa album dalam bentuk CD, dan dalam penampilannya ini GLP akan menyajikan karya-karya terbaru.
Sementara Memet Chairul Slamet, seorang musisi dari Yogya, yang menggabungkan musik etnik dan modern dalam setiap pementasan, pada SBP edisi 50 yang bertajuk ‘Lagu Puisi di Bulan Purnama’ ini, akan merespon puisi dengan bunyi, sehingga tak ada lagu dalam musik puisi karya Memet.“Karena pada dasarnya, puisi sudah mengandung musik, dan dalam konteks pertunjukan ini saya menempatkan musik memiliki otonomi sehingga tidak perlu diposisikan sebagai alat pengiring pembacaan puisi,” kata Memet Chairul Slamet yang dihubungi secara terpisah. *(Teguh R Asmara)