Saturday, 31 October 2026 |Saturday, 19 Jum. Awal 1448 H
Online Visitors : 0
Today
:
4.314
Yesterday
:
33.507
Last week
:
9.404
Last month
:
11.429.130
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
02 desember 2015 06:37
Peluncuran Buku Comparative Religion an Islamic Perspective
Yogyakarta, Melayuonline - Selasa 01/12 Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) menjadi saksi peluncuran buku Comparative Religion an Islamic Perspective tulisan Prof. Ghazali Basri serta dialog mengenaiilmu perbandingan agama.
Dalam sambutannya, ketua BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH., MM., MA. menuturkan, bahwa dialog ini sangat penting untuk menggugah kesadaran sikap saling menghargai antar penganut agama, disamping juga menepis isu-isu negarif yang diterakan pada satu agama tertentu yang berpotensi menjadi penghalang perdamaian dalam dunia keberagamaan.
Sementara itu, Prof Ghazali Basri, dalam pemaparannya mengemukakan bahwa buku ini sangat sesuai diluncurkan di Indonesia. “Indonesia adalah negara multi etnis dan agama yang memberikan ruang kebebasan kepada warganya sesuai undang-undang yang berlaku,” kata Ghazali memberikan alasan.
Ditambahkan oleh Dosen salah satu Universitas di Malaysia ini, Indonesia juga memiliki tradisi yang sangat baik untuk selalu duduk bersama di antara kelompok-kelompok atau komunitas beragama dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.
Buku yang di tulis oleh Ghazali Basri ini menggunakan pendekatan Fenomenologi/morfologi dengan memaparkan kenyataan terkini umat beragama di penjuru dunia. Perbandingan agama menarik untuk dibicarakan karena dalam setiap agama memiliki kesamaan konsep baik dalam Islam, Nasrani, maupun yang lainnya. Misalnya, dalam ajaran Hindu dikenal ajaran Brahma yang ketika ditarik dari sudut pandang Islam ada kesamaan dengan kisah Ibrahim. Walaupun hanya sedikit, akan tetapi ada pesan tersembunyi yang perlu dikaji lebih lanjut.
Dalam realitas umat beragama selalu muncul klaim kebenaran yang diikuti sikap tertutup bagi pemeluknya untuk mengetahui lebih jauh tentang agama lain. Hal ini terjadi karena adanya keyakinan kuat bahwa agama yang dipeluknya adalah satu-satunya yang baik dan benar. Padahal, apabila agama telah memasuki ranah budaya yang melingkupi suatu tatanan sosial yang ada, maka pasti akan muncul perbedaan-perbedaan karena pengaruh lokalitasnya.
Menurut Pendeta Agustina Elga Joan Sarapung, salah satu pembahas dalam forum ini, menuturkan semua klaim tentang universalitas sebuah agama merupakan sesuatu yang logis. Akan tetapi perbedaan dari masing-masing agama akan dapat dilihat bila merujuk kepada satu kesamaan yakni perbuatan baik.
Bagi Pendeta Elga, begitu ia kerap di sapa, kesalahpahaman yang terjadi di dalam penganut agama antara lain disebabkan adanya keinginan untuk memurnikan agama sebagaimana agama tersebut dilahirkan. Contoh di dalam ajaran Kristen, pembabtisan dirasa akan lebih sempurna apabila dilakukan di Israel tempat Yesus dahulu dibaptis.
“Konsep pemurnian agama dan anggapan mengenai agama yang dianut oleh satu golongan lebih baik dari golongan lainnya ini yang pada dasarnya dapat merusak silaturahim antar umat beragama,” Tegas Pendeta Elga.
Senada dengan Pendeta Elga, Dr. H.M Habib Chirzin berpendapat, ketidakfahaman mengenai agama-agama yang ada (buta agama) pada akhirnya menjadikan jembatan menuju kedamaian dan kebahagiaan kian jauh. Adanya diskusi maupun bertukar ilmu mengenai agama-agama niscaya akan memberikan pemahaman yang akan menghindari terjadinya konflik di dalam beragama.
Acara ini juga dihadiri oleh ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Yogyakarta, pemuka agama Hindu, para dosen dari berbagai Universitas di Yogyakarta, dan para aktivis dialog keagamaan. Suasana akrab dan hangat dalam kebesamaan hingga usai acara.
“Karena dari kebersamaanlah kita akan saling belajar dan saling mencerahkan,” tutur Habib Chirzin penuh makna. *(boki koto)