Friday, 1 May 2026   |   Friday, 14 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 344
Today : 15.283
Yesterday : 24.716
Last week : 192.091
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

23 mei 2016 12:28

Ronggeng Melayu Deli “Sihir” Masyarakat Yogyakarta


Penonton ikut larut dalam tarian Ronggeng Melayu Deli

Yogyakarta, Melayuonline.com – Pementasan Ronggeng Melayu Deli di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) kemarin, Minggu (22/05), berlangsung meriah. Pementasan yang dibawakan oleh Komunitas Ronggeng Melayu Deli, Anjungan Sumatra Utara TMII tersebut bahkan menyihir para tamu undangan yang hadir baik dari kalangan akademisi, pecinta dan pemerhati seni, maupun mahasiswa. Para tamu yang hadir juga berlatar belakang budaya yang beragam, tidak hanya bersuku Melayu akan tetapi terdapat pula yang berasal dari suku lainnya seperti Jawa, Batak, Minang, dan lain sebagainya.

Acara yang digelar mulai pukul 13.00 wib. tersebut didahului dengan dialog budaya sebagai sarana pengenalan Ronggeng Melayu Deli oleh bapak Wan Tatan Daniel, S.Sos. selaku kepala Anjungan Sumatra Utara TMII sekaligus bagian dari Komunitas Ronggeng Melayu Deli.


Dialog tentang Ronggeng Melayu Deli tengah berlangsung

Dialog yang berlangsung lebih kurang satu jam tersebut juga dihadiri oleh ketua sekaligus pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Dato’ Cendekia Hikmatullah Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M., M.A.  dan Konsultan BKPBM Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum. yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Gajah Mada.

Selain itu turut hadir para tamu undangan, di antaranya Dra. Daruni, M.Hum (Kepala Pusat Studi Wanita Institut Seni Indonesia/ISI Yogyakarta), Dr. Hendro Martono, M.Sn. (Ketua Jurusan Seni Tari ISI Yogyakarta), Trie Wahyuni, M.Pd. (Dosen Jurusan Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta/UNY), Haryanto, M.Ed. (Ketua Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta), Dr. Irwan Djamaludin, S.S., M.A. (Budayawan dan Penyair Kepulauan Riau), Dra. Martha Sinaga, M.Th (Penulis dan Penyair Kepulauan Riau), drh. Chaidir, M.M (Budayawan dan Tokoh Masyarakat Riau), Drs. Mustari, M.Hum (Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta) serta para perwakilan Ikatan Mahasiswa Riau, Indragiri Hilir, Kepulauan Riau, Tanjungpinang, Karimun, Anambas, Sumatra Utara, Langkat, Kalimantan Barat, Pontianak, Gorontalo, dan Mahasiswa Pattani (Thailand Selatan).


Wan Tatan Daniel menerima cindera hati dari Dato’ Cendekia Hikmatullah
Mahyudin Al Mudra

Dalam penjelasannya, Pak Tatan, Sapaan akrab Wan Tatan Daniel, menyampaikan bahwa Kesenian Ronggeng Melayu Deli ini merupakan kesenian yang telah lama tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir timur Sumatra, khususnya Deli. Kesenian yang sudah jarang atau dapat dikatakan hampir punah tersebut kemudian dibangkitkan lagi oleh para seniman-seniman Melayu yang sebagian besar berdomisili di Jakarta dan tergabung dalam Komunitas Ronggeng Melayu Deli.



Ronggeng yang selalu diidentikkan dengan makna “negatif” tentunya tidak dapat disematkan pada kesenian Ronggeng Melayu Deli. Hal itu dikarenakan di dalam Ronggeng Melayu Deli, tidak terdapat ronggeng (penari) khusus sebagaimana ronggeng-ronggeng lainnya. Ronggeng Melayu Deli mengedepankan unsur sastra lisan yakni berupa pantun yang spontan disampaikan oleh para penyanyi sehingga kesenian ini disebut sebagai kesenian “cerdas”.

Penyanyi dalam kesenian Ronggeng Melayu Deli juga tidak terbatas hanya kepada penyanyi komunitasnya saja, melainkan dibebaskan bagi para penonton yang ingin berbalas pantun untuk dapat turut serta menyampaikan pantun dalam bentuk dendangan atau lagu. Penonton juga dibebaskan untuk ikut serta menari sesuai alur musik yang dimulai dari senandung kemudian mak inang dan lagu dua (joged) dengan gerak mengikuti irama ketukan alunan musik dari para musisi yang memainkan musik pengiring kesenian Ronggeng Melayu Deli.



Kesenian Ronggeng Melayu Deli sebenarnya memiliki “kesamaan” dengan kesenian-kesenian yang berkembang di kawasan Melayu lainnya. Di Riau dan Kepulauan Riau masyarakat mengenal kesenian sejenis dengan istilah “Dangkung”, “Tandak”, sedangkan Siak Riau mengenalnya dengan sebutan “Ngebeng”. Sementara itu istilah-istilah berbeda juga dijumpai di kawasan lainnya, seperti “Bermukun”, “Jogi”, “Ngibing”, “Dondang Sayang”, dan lain sebagainya. Berbagai istilah tersebut dapat dikatakan memiliki kesamaan dikarenakan kosepnya sama yakni interaksi antara pemain dan penonton. Kendati memiliki kesamaan tentunya terdapat pula perbedaan yang menjadi karakteristik tersendiri dari kesenian tradisional tersebut. Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi dikarenakan perbedaan serapan maupun konsep penyajiannya.


Tari Persembahan

Pada kesempatan tersebut, turut juga ditampilkan Tari Persembahan Makan Sirih yang dibawakan oleh Sanggar Sultan Syarif Qasim, Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta (IPRY) dan Tari Kreasi Dangkung oleh Sanggar Selendang Delime, Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kepulauan Riau Kabupaten Karimun Jogjakarta (KPMKR-KKJ).


Tari Dangkung

Sebelum tampil di Balai Melayu ini, Komunitas Ronggeng Melayu Deli terlebih dahulu turut tampil dalam Festival Musik Tembi di Tembi Rumah Budaya, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (21/5) malam. Antusiasme penonton di Tembi juga turut menambah semarak pertunjukan Ronggeng Melayu Deli dengan turut sertanya para penonton “meronggeng” bersama atau menari, berpantun, dan bernyanyi. Hal ini membuktikan bahwa kesenian Ronggeng Melayu Deli dapat diterima oleh masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta. (Boki Koto)


Read : 1.311 time(s).

Write your comment !