Tuesday, 26 May 2026   |   Tuesday, 9 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 717
Today : 16.995
Yesterday : 23.907
Last week : 221.971
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

27 juli 2016 06:32

Dari Pagelaran Wayang Orang Multietnis di Eks Pendopo Kabupaten Pekalongan

Pekalongan, Jateng - Forum Masyarakat Seni Kota Kreatif bersama Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan (Dishubparbud) Kota Pekalongan, dan Polres Pekalongan Kota mengadakan Pagelaran Wayang Orang Multietnis di Eks Pendopo Kabupaten Pekalongan, Jalan Nusantara 1, Alun-alun, Kota Pekalongan, Minggu (24/7) malam.

Meski baru digelar, pagelaran wayang orang itu berjalan sukses dan mampu menyedot minat ratusan warga untuk menonton. Dengan mengambil lakon ‘Punakawan Kembar’, pagelaran wayang orang ini melibatkan 75 orang sebagai pemain, penari, dan pengiring maupun penabuh gamelan.

Mereka yang terdiri dari etnis Jawa, Arab, dan Tionghoa, dan berasal dari berbagai latar belakang profesi itu selama kurang lebih dua jam berkolaborasi di panggung. Sehingga tercipta sebuah tontonan seni budaya yang menarik.

Dalam lakon wayang orang tersebut, para penabuh gamelan berasal dari Pekumpulan Seni Budaya Jawi Rahayu Raras Kota Pekalongan yang dikomandani Karya Budiman. Sementara sang dalang dan sejumlah sinden didatangkan dari Solo.

Tampil pula beberapa anggota Polres Pekalongan Kota yang memerankan tokoh Punakawan. Sedangkan penampil lainnya, diantaranya dari Sanggar Ibu Pertiwi, Sanggar Seni Sufi Multikultur, serta Dishubparbud.

Pada pementasan yang juga digelar dalam rangka HUT Bhayangkara ke-70 itu, diselipi pula pesan-pesan kamtibmas oleh anggota Polres Pekalongan Kota yang tampil sebagai Punakawan. Diantaranya, ditampilkan melalui wayang gunungan bertuliskan ‘Balon Maut’.

Hal ini menceritakan insiden meledaknya petasan di Banyurip Ageng, Pekalongan Selatan, beberapa waktu lalu. Petasan yang rencananya akan dipasangkan pada balon udara untuk memeriahkan tradisi syawalan, pada saat dirakit tiba-tiba meledak dan melukai 12 orang.

Pagelaran wayang orang tersebut dihadiri sejumlah pejabat di kota batik, diantaranya Walikota Pekalongan HA Alf Arslan Djunaid, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Enriko Sugiharto Silalahi, perwakilan Kodim 0710/Pekalongan, sejumlah anggota DPRD, tokoh agama, pecinta seni budaya, organisasi kepemudaan, serta masyarakat umum.

Pemrakarsa Pagelaran Wayang Orang, Karya Budiman, menjelaskan kegiatan tersebut sudah direncanakan sejak tahun lalu. “Untuk anggarannya sebelumnya sudah kita ajukan ke Parbud sejak tahun 2015, dan telah direncanakan pagelaran tari dan wayang orang diadakan bulan Juli ini,” jelas pria yang juga menjabat sebagai anggota DPRD, serta Pembina Pekumpulan Seni Budaya Jawi Rahayu Raras Kota Pekalongan ini.

Dia menuturkan, kegiatan tersebut juga merespon keinginan dari para seniman agar di kota batik diadakan pentas seni budaya. “Termasuk pula menanggapi respon dari teman-teman seniman di Surakarta. Mereka siap membantu. Sebab, pagelaran wayang orang seperti ini jarang terjadi di Kota Pekalongan,” bebernya.

Ternyata, pagelaran tersebut mendapat respon bagus dari masyarakat maupun instansi terkait di Kota Pekalongan. “Teman-teman seniman juga memberikan bantuan dan dukungan luar biasa, sehingga acara bisa berjalan sukses,” katanya.

Dia menyampaikan, tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah untuk melestarikan seni budaya, untuk ngur-yri budaya Jawa. Menurutnya, seni budaya lokal merupakan jati diri bangsa.

Pagelaran seni budaya tersebut juga menjadi salah satu sarana perekat persatuan dan kesatuan berbagai elemen bangsa. “Terbukti bahwa kegiatan seni budaya seperti ini bisa menjadi perekat berbagai elemen masyarakat dari berbagai etnis dan agama. Seni budaya lokal perlu dilestarikan,” tegasnya.

Apalagi, pihaknya mencermati bahwa selama ini program kegiatan seni budaya jawi di Kota Pekalongan masih sangat kurang. Padahal, dalam peraturan pemerintah maupun Undang-Undang sudah ada pembahasan mengenai pelestarian budaya lokal.

“Jadi, kegiatan seni budaya sudah ada payung hukumnya. Maka Pemda tidak perlu khawatir untuk menganggarkan,” katanya. “Kebetulan saya di DPRD, jadi program-progam seperti ini kita perhatikan. Kemarin sudah kami bahas dalam RPJMD,” ungkapnya.

Dia juga mengingatkan bahwa pada tahun-tahun mendatang akan ada jalan tol dan jalan lingkar yang melintasi Kota Pekalongan. Dikhawatirkan, jika Kota Pekalongan tidak punya daya tarik khusus, orang-orang dari luar kota enggan berkunjung ke kota ini.

“Dengan adanya jalan tol dan jalan lingkar, Kota Pekalongan harus punya daya tarik, khususnya daya tarik wisata. Sehingga Kota Pekalongan tidak hanya akan jadi kota ‘ampiran’ (persinggahan) saja, tetapi sebagai kota tujuan. Pelestarian seni budaya lokal juga sesuai dengan visi misi Walikota,” imbuh dia.


Read : 2.399 time(s).

Write your comment !