Tuesday, 25 August 2026   |   Tuesday, 11 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 2.290
Today : 27.140
Yesterday : 23.903
Last week : 178.006
Last month : 11.454.048
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

06 mei 2007 05:47

Lama di Balikpapan, Artefak Diserahkan ke Pemkab

Lama di Balikpapan, Artefak Diserahkan ke Pemkab

Sengata- Setelah lama disimpan di Balikpapan, sejumlah artefak alias bukti sejarah yang merupakan hasil penelitian di pegunungan Karst Kutai Timur (Kutim) akhirnya diserahkan ke Pemkab dua hari lalu. Benda-benda cagar budaya dan purbakala ini diharapkan bakal menjadi embrio pendirian museum arkeologi di Kutim ke depan.

Bupati Kutim H Awang Faroek Ishak yang menyaksikan penerimaan benda-benda purbakala itu mengatakan banyak yang tak mengetahui apa itu arti artefak. Untuk itu, dia meminta kepada seluruh staf Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kutim ikut menyaksikan acara serah terima tersebut.

Serah terima sejumlah artefak yang bersifat arkeologis itu dilakukan tim peneliti Pusaka Budaya Kawasan Karst Kalimantan yang diwakili Pindi Setiawan dan diterima Kadis Lingkungan Hidup (LH) Didi Suryadi disaksikan Bupati Awang Faroek yang juga menandatangani berita acara serah terima. “Hasil penemuan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan tak bisa dibeli dengan uang Rp 1 triliun. Untuk itu saya minta benda-benda ini dijaga dengan baik, sehingga nanti setelah ada museum akan ditaruh di tempat sebagaimana mestinya,” kata Bupati Awang Faroek.

Mengenai hasil temuan artefak di kawasan pegunungan karst ini, pihaknya telah mempromosikan ke berbagai daerah, termasuk duta-duta besar yang ada di Indonesia. Sebagian besar pada kagum dengan benda-benda temuan yang dilakukan tim peneliti tersebut, karena benda-benda ini bernilai tinggi dan menyimpan sejarah dunia.

Dikatakan, di luar negeri banyak museum yang menyimpan benda-benda seperti ini, dengan penjagaan cukup ketat. Untuk masuk saja, harus melalui satu pintu dan yang memegang kunci seorang profesor.

Pihaknya berencana menggelar lokakarya nasional yang membahas masalah kawasan Karst dan cagar budaya seperti ini. Tokoh-tokoh dan tim penelitian serta ahli di bidangnya diundang untuk membahasnya. Sehingga Kutim semakin dikenal dengan kekayaan arkeologi ini di dunia internasional.

“Sejak tahun 2000 lalu, saya sudah berkeinginan membangun museum arkeologi di Kutim. Dengan adanya temuan-temuan yang dilakukan tim peneliti itu, akan mendatangkan turis asing di masa mendatang,” papar Awang.

Pada kesempatan itu, orang nomor satu di Kutim ini juga menyampaikan terima kasih kepada Balai Arkeologi Kalimantan Banjarmasin, Pusat Penelitian Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), Le Kalimanthrope dan Maison Asie Pasifique CNRS, Marseillie France.

Sebelumnya, Pindi Setiawan dari tim peneliti mengatakan, pelestarian cagar budaya alam ini perlu dilakukan. Pihaknya juga mengaku berterima kasih kepada Pemkab Kutim yang serius untuk membangun museum arkeologi dan menyimpan benda-benda tersebut.

“Benda-benda ini ditemukan mulai tahun 1994 sampai 2007 ini. Jika semula benda-benda ini disimpan di tempat penyimpanan sementara di Balikpapan, kini dialihkan ke Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kutim,” katanya.

Pindi menyebutkan, apabila terjadi kerusakan lingkungan seperti adanya pabrik semen atau batubara, akan terlihat di kawasan sungai Bengalon. Untuk itu, diperlukan pencegahan kerusakan agar benda-benda purbakala yang ada di kawasan pegunungan karst tetap terjaga dengan baik.

Jika di Kutim dibangun museum arkeologi, akan sama seperti yang berada di Serawak dan beberapa negara luar. Bahkan bisa sejajar dengan museum di luar negeri. Selama ini, museum yang ada 70 persen untuk pajangan dan 30 persennya dimanfaatkan untuk kajian. Diharapkan ke depan, museum di Kutim ini juga beridri dan sejajar dengan museum dunia.

Sedangkan Kadis LH Kutim Didi Suryadi mengatakan, untuk pengelolaan benda-benda purbakala ini, pihaknya juga akan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Untuk itu, akan dilakukan kerjasama antara berbagai pihak untuk meningkatkan SDM dalam menjaga dan melestarikan artefak yang ada. “Kita ingin melakukan kerjasama dengan Balai Arkeologi Banjarmasin dan Jakarta untuk meningkatkan SDM ini ke depan,” kata Didi.

Sumber : www.kaltimpost.web.id


Kredit foto : www.subterra.or.id

Read : 3.420 time(s).

Write your comment !