Tuesday, 5 May 2026   |   Tuesday, 18 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 2.617
Today : 37.065
Yesterday : 26.680
Last week : 192.091
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

08 november 2007 02:33

Komunitas yang Bernama Asli `Sama`

Komunitas yang Bernama Asli `Sama`

MakassarSistem navigasi orang Bajo membentuk segitiga samakaki. Meski ganjil, tak ada orang Bajo yang tersesat saat melaut. Kehidupan Suku Bajo memang unik sehingga menarik minat banyak peneliti dari dalam maupun luar negeri. Alimaturahim dari Yayasan Sama misalnya.

Untuk diketahui terlebih dahulu, "Bajo" merupakan istilah orang luar yang dikenakan pada "Orang Bajo" seperti halnya pengistilahan "Bugis" untuk "Tau Ugi" atau "Makassar" untuk "Tau Mangkasarak".

Nama asli Bajo adalah "Sama". Karena itu, Yayasan Sama merupakan semacam lembaga non-pemerintah yang mengadvokasi komunitas Bajo, khususnya di Sulawesi Tenggara.

Alimaturahim menuturkan, Orang Bajo hanya mengenal tiga mata angin. Yakni; utara, bara` (barat), dan salatang (selatan). Jika digambarkan di atas kertas, sistem navigasi ini membentuk segitiga samakaki. Tapi salatang dalam sistem navigasi pelaut Bajo tidak identik dengan selatan pada umumnya.

Salatang di sini sudah mencakup arah antara utara dan selatan, yaitu arah timur laut, timur dan tenggara. Meski ganjil, namun kenyataannya, jangan didapati orang Bajo tidak pernah tersesat saat melaut.

Orang Bajo menggunakan "Soppe" sebagai alat transportasi utamanya. Di perkampungan Bajo di Toronipa, Soppe mudah dijumpai di belakang atau di kolong-kolong rumah terapung Orang Bajo.

Bentuknya sama dengan katinting. Soppe dipakai sebagai alat transportasi jarak jauh, semisal menangkap ikan di lautan. Bisa juga untuk mengunjungi mengunjungi tetangga.

Di suku-suku pedalaman Bajo, Soppe sekaligus menjadi rumah hunian. Orang Bajo di zaman dahulu memang dipercaya mengembara dan menghabiskan seluruh hayatnya di atas perahu.

Karena mengidentifikasi arah hanya dengan tiga mata angin, praktis rute pelayaran Orang Bajo tidak pernah jauh-jauh. Namun untuk ukuran lautan orang Bajo, mengarungi lautan dari Teluk Kendari hingga ke Benua Australia masih dikategorikan "tidak terlalu jauh".

Syahdan, seorang peneliti kebudayaan dari luar negeri bernama Pieter Spillet ingin membuktikan kepiawaian orang Bajo mengarungi lautan.

Pasalnya, orang Bajo dikenal mampu berlayar hanya dengan Soppe dan sistem navigasi tiga arahnya hingga ke Australia. Spillet pun terdorong menjajali keampuhan alat transportasi Suku Bajo ini menuju ke Australia.

Berbekal Soppe dan alat navigasi tiga arah orang Bajo, Spillet memulai ekspedisinya. Kendati memang dia mendapat pengawalan helikopter dan sejumlah perangkat transportasi laut canggih. Yang pasti, dia akhirnya mencapai Australia dengan selamat sekaligus membuktikan sendiri kemampuan melaut orang Bajo.

Yang mengherankan, kata Alimaturrahim, Suku Bajo banyak ditemukan hampir di seluruh pelosok dunia. Mulai dari Indonesia, Australia, Filiphina, Jepang, Madagaskar, hingga Hongkong.

Malah di Sabah sana, orang-orang Bajo telah mendirikan partai politik bernama Persatuan Sabah Bajau Bersatu (PSBB) dan mendominasi parlemen setempat.

Di setiap negara di Asia Tenggara, barangkali ada Orang Bajo-nya. Fakta ini tentu bertentangan jika dikaitkan dengan kemampuan berlayar mereka yang tidak bisa jauh-jauh itu.

"Jadi kami berpikir, persebaran ini bisa saja terjadi jika orang Bajo menumpang kapal-kapal besar seperti phinisi lalu singgah, menetap dan beranak pinak di sana," jelas Alimaturrahim yang juga sering tampil dalam seminar internasional yang membahas permalasahan Bajo.

Namun yang lebih mengherankan lagi, lanjut Alimaturrahim, Orang Bajo juga diakui sebagai pribumi/penduduk asli di wilayah setempat atau "Indegenous People".

Sama halnya dengan Suku Indian di Amerika atau Aborigin di Australia. Orang Bugis-Makassar, bisa saja ditemukan di Afrika Selatan. Tapi mereka tidak diakui sebagai penduduk asli.

"Istilahnya, Suku Bajo adalah komunitas lokal yang mengglobal. Mereka lokal karena ada dari dulu dan terisolasi secara geografis, ekonomi, sosial budaya dan politik. Disebut global karena mereka berada di mana-mana. Ini kan unik," ujarnya.

Sumber : www.fajar.co.id
Kredit foto : www.sinarharapan.co.id


Read : 3.050 time(s).

Write your comment !