Thursday, 11 June 2026 |Thursday, 25 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 1.165
Today
:
18.053
Yesterday
:
58.870
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
20 november 2007 05:01
Para Sultan Enggan Dukung Reformasi Pemilu
Kuala Lumpur- Sultan Negara Bagian Pahang, Sultan Ahmad Shah, mendesak warga Malaysia tak mengikuti langkah kelompok oposisi yang berunjuk rasa menuntut reformasi pemilu. Ia menegaskan pihak kesultanan tetap akan memberikan dukungan pada pemerintah.
Sultan Ahmad mengatakan, unjuk rasa bukan merupakan bagian dari budaya negara. Menurut dia para pengunjuk rasa tak baik.``Mereka juga menentang kehendak seluruh warga Malaysia,`` kilahnya seperti dilaporkan oleh The Star, Ahad (18/11).
Menurut Sultan Ahmad, para sultan juga tak ingin masuk ke dalam ranah politik. ``Kami mendukung pemerintah yang mendapatkan mandat dari rakyat. Pemerintah membutuhkan dukungan penuh dari rakyat agar negara bisa berkembang,`` katanya seperti dikutip harian New Straits Times.
Kelompok oposisi dan aktivis sosial melakukan unjuk rasa pada 10 November lalu. Ini merupakan unjuk rasa politik terbesar di Malaysia dalam hampir satu dekade ini. Mereka berharap intervensi pihak kesultanan akan membuat tuntutan reformasi pemilu akan kian besar.
Menurut kelompok oposisi, mereka juga mengorganisir sebanyak 30 ribu orang yang berjalan menuju istana raja di mana mereka menyerahkan sebuah petisi ke raja. Meski Raja Mizan Zainal Abidin, pada Jumat (16/11) menyatakan, penyesalan atas terjadinya aksi massa itu.
Meski Raja Mizan memberikan pernyataan seperti itu, kelompok oposisi akan tetap melakukan kampanye reformasi pemilu. Yaitu pemilu yang lebih bersih dan sistem pemilu yang lebih adil. Kampanye ini, akan terus berlangsung agar pemilu tahun depan bisa berubah.
Pada Sabtu (17/11) polisi menghentikan kampanye sejumlah anggota kelompok oposisi di Kuala Lumpur. Mereka menyebarkan pamflet di sebuah stasiun kereta api mendesak warga Malaysia mengenakan pakaian kuning setiap Sabtu sebagai tanda desakan adanya reformasi pemilu.
Sumber : www.republika.co.id Kredit foto : www.iium.edu.my