Wednesday, 20 May 2026   |   Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 280
Today : 11.655
Yesterday : 25.387
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

31 desember 2007 04:19

27 Maestro Seni Tradisi Mendapat Penghargaan

Jakarta- Upaya mencegah punahnya budaya tradisi lisan, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) memberikan penghargaan kepada 27 maestro seni tradisi. Penghargaan itu diberikan kepada para seniman tradisi yang masih mengalihkan ilmunya kepada masyarakat sekitar. 'Jadi ada upaya dari maestro yang terpilih untuk melestarikan budaya itu,' kata Ketua ATL Pudentia di Jakarta, kemarin.

Para dewan juri yang ditunjuk panitia yakni Nano Riantiarno, Mukhlis Paeni, Sardono W Kusumo, Sapardi Djoko Damono, dan beberapa anggota lainnya sempat berdebat dalam menentukan kriteria maestro. Namun akhirnya disepakati kriteria maestro ialah seniman yang berusia di atas 50 tahun dan minimal selama 20 tahun berturut-turut menekuni seni tradisi.

Maka muncullah 27 maestro terpilih yakni Abdullah Abdul Ramhan (Aceh), Ismail Saroeng (Aceh), Alistar Nainggolan (Sumatra Utara), Zulkaedah Boru Harahap (Sumatra Utara), Ibrahim Ahmad (Kepulauan Riau), Ali Ahmad (Tanjung Pinang, Riau), Sawir St Sati (Sumbar), Islamidar (Sumbar), Sahilin (Palembang), Saidi Kamaludin (Palembang), H Bodong (DKI), H Surya Bonang (DKI), Encim Masnah (DKI), Taham (Cirebon), Mimi Rasina (Indramayu), Tan Daseng (Bandung), Euik Muhtar (Bandung), Ki Sugito Adiwarsito (Yogyakarta), Kandar (Kediri), Arimun (Malang), I Made Sija (Bali), Amaq Raya (Lombok), Jeremiah Paah (NTT), Bakhtiar Sanderta (Kalsel), Serang Dakko (Gowa), Mak Coppang (Gowa), dan Sermalina Maniburi (Papua).

Menurut Pudentia, para maestro itu sudah selayaknya mendapat penghargaan dari negara. 'Mereka telah mewarisi dan menghidupi tradisi dengan jiwanya bukan karena didorong faktor-faktor yang bersifat kebendaan.'

Dalam kesempatan sama, Dirjen Nilai Budaya Mukhlis Paeni sekaligus salah satu juri mengakui pemberian penghargaan bagi para maestro agak terlambat. Akan tetapi, pemerintah akan mewujudkan gagasan itu dalam bentuk kebijakan, berupa pemberian tunjangan hidup senilai Rp1 juta per bulan.

Diharapkan tunjangan itu bisa merangsang para maestro untuk terus berkarya. 'Bantuan tunjangan hidup ini untuk mendorong mereka mewariskan kepada generasi muda. Bahkan, kita juga berencana memberikan beasiswa bagi pelajar atau mahasiswa yang berminat nyantrik (berguru), dan serius menekuni seni tradisi dari sang maestro,' jelasnya.

Sumber : cabiklunik.blogspot.com


Read : 1.943 time(s).

Write your comment !