Thursday, 30 April 2026   |   Thursday, 13 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 8
Today : 7.090
Yesterday : 22.835
Last week : 169.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

08 januari 2008 08:23

Maestro Wayang Gong

Maestro Wayang Gong
H Bakhtiar Sanderta

Banjarmasin- Umur boleh tua, tapi bukan berarti urusan berkarya harus mandeg di tengah jalan. Begitulah prinsip H Bakhtiar Sanderta, yang hingga kini tetap eksis melestarikan seni tradisional di Kalimantan Selatan. Di berbagai pementasan khususnya seni tradisional, seperti mamanda, wayang gong dan lamut, ia selalu ambil bagian. Entah itu sebagai pelakon, penulis naskah, ataupun sutradara.

Begitu pula di berbagai dialog dan seminar tentang perkembangan seni daerah, sang seniman selalu duduk sebagai pembicara. Ia dikenal memiliki pengetahuan dan kepedulian, khususnya terhadap seni tradisional lisan.

Atas perannya itulah, di usianya yang telah berkepala enam, Bahktiar bakal menerima anugerah baru. Pria yang pernah dipercaya memimpin Taman Budaya Kalsel selama 12 tahun itu, terpilih di antara 27 seniman di Indonesia untuk menerima penghargaan sebagai maestro seni tradisi dari Departemen Kebudayaan dan pariwisata (Depbudpar).

Dari hasil seleksi, Bakhtiar dianggap memenuhi kriteria sebagai orang yang telah mengembangkan seni tradisi yang kini telah langka. Ia pun layak bergelar maestro seni tradisional wayang gong dan mamanda.

Meski kabar gembira ini belum diterimanya secara resmi dari pemerintah, Bakhtiar sendiri mengaku telah mendapatkan info tersebut dari teman-teman sesama seniman maupun media cetak.

“Yang jelas, saya bersyukur terhadap penghargaan yang diberikan oleh pemerintah. Dan semakin memacu saya untuk terus memberikan nilai lebih terhadap seni tradisi yang semakin terkikis,” tutur anggota Lembaga Budaya Banjar itu.

Ia pun dengan santai menyikapi penghargaan yang belum jelas waktu penyerahannya itu. Namun, baginya, ada atau tidak penghargaan, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berkreasi. Dalam masa ke depan, ia berniat mengumpulkan kembali naskah-naskah mamanda, wayang gong dan lamut yang telah diolahnya selama puluhan tahun.

Ketika ditemui BPost, di rumahnya yang sederhana di kawasan Kayu Tangi, Banjarmasin, Bakhtiar kembali mengurai `rekaman` pengalamannya, mulai dari masa perkenalannya dengan seni di masa mudanya, hingga benar-benar tidak bisa berpaling dari dunia ini.

“Lingkungan semasa kecil di kampung kelahiran saya, di Awaian (HSU) lah yang membuat saya mengenal seni. Di sana waktu itu banyak pelaku seni seperti penari kuda gepang, mamanda dan palamutan,” beber suami dari Hj Astiah ini.

Semasa mudanya, ia juga kerap tampil di panggung menyusur dari kampung ke kampung lain, baik sebagai penari, pemain mamanda maupun pelakon wayang gong. Diakuinya, darah seni sang ayah, Hasan (alm)-- yang dikenal sebagai pemain hadrah dan pamannya, Abdullah (alm) sebagai pelamutan, turut andil membentuk jati dirinya sebagai seniman.

Namun tak hanya di tingkat daerah. Pada level nasional ia juga bersinar. Pada Festival Nasional Seni Tradisi Kemasan Baru, beberapa waktu lalu, misalnya, naskah karyanya dalam pementasan wayang gong meraih juara kedua. Dengan dedikasinya, ia pun kerap dipercaya sebagai pembicara di tingkat nasional. “Dan sampai mati, saya akan terus berkesenian,” ucap pimpinan grup Teater Banjarmasin yang kondang lewat lakon-lakon mamanda itu.

Sumber : www.banjarmasinpost.co.id


Read : 3.075 time(s).

Write your comment !