You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
05 februari 2008 06:31
Rida K Liamsi Jadi Seniman Perdana
Rida K. Liamsi
Pekanbaru- Rida K. Liamsi ditetapkan Dewan Kesenian Riau (DKR) secara aklamasi sebagai Seniman Perdana dalam Anugerah Seni 2007. Sastrawan yang terkenal dengan buku kumpulan sajak Tempuling dan novel Bulang Cahaya ini, dipilih tim dewan juri yang terdiri dari kalangan seniman, budayawan, jurnalis, dan perwakilan perempuan.
Penetapan Rida sebagai Seniman Perdana, diumumkan dewan juri dan Ketua Umum DKR, Senin (4/2), di aula DKR di Komplek Bandar Serai Pekanbaru. Chief Executive Officer (CEO) Riau Pos ini merupakan seniman keempat yang meraih anugerah bergengsi tersebut. Sebelumnya sejumlah seniman ternama di Riau seperti Sutardji Calzoum, Hasan Junus dan Taufik Ikram Jamil juga pernah menerima anugerah Seniman Perdana. Di depan para seniman terpilih ini berhak memakai gelar SP.
Ketua panelis DKR Dr Yusmar Yusuf mengatakan, sebelum ditetapkan sebagai penerima anugerah, panelis telah melakukan penyaringan dan tahapan penilaian yang cukup lama dimulai sejak akhir Desember lalu. Seniman yang dipilih sebagai penerima Anugerah Seni DKR dinilai berdasarkan berbagai kriteria. Di antaranya pengaruh kekaryaan, kreativitas, ketunakan, orisinilitas dan sejumlah kriteria pendukung lainnya.
“Jadi kami menetapkan penerima yang berhak atas anugrah Seni Perdana dan Seniman Pemangku Negeri mengacu kepada kriteria penilaian itu. Dan akhirnya kami memutuskan mereka yang berhak menerima Anugerah Seni Dewan Kesenian Riau,” tambahnya.
Menurut sekretaris tim dewan juri Kazzaini Ks, terpilihnya Rida sebagai Seniman Perdana adalah atas dedikasinya yang dianggap memberikan kontribusi seni di daerah. Karya-karya Rida juga diakui mempunyai kualitas tinggi sehingga diakui tidak hanya di Riau, tapi sudah sampai ke seluruh pelosok nusantara.
“Nanti penabalan Seniman Perdana akan dilaksanakan 17 Februari mendatang di Hotel Sahid Pekanbaru,” ujar Kazzaini.
Selain Rida, panelis juga telah memilih dan menetapkan tiga seniman ternama Riau sebagai penerima Seniman Pemangku Negeri (SPN).
Mereka adalah Fakhrunnas MA Jabbar (kategori sastra), Arman Rambah (kategori musik) dan Masteven Romus (seni rupa). Ketiganya, menurut panelis, juga dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh panitia.
Ketua DKR Eddy Akhmad RM menyebutkan, pihaknya tidak ikut sama sekali dalam penilaian itu. DKR menyerahkan bulat-bulat kepada panelis untuk memilih dan menetapkan seniman penerima anugerah tahun keempat tersebut.
“Kami sengaja membentuk panelis yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang agar nantinya penilaian juga benar-benar dilaksanakan seobjektif mungkin dalam rangka menjaga gengsi anugerah DKR,” ucapnya.
Kepada empat seniman ternama itu, akan diberikan hadiah berupa uang tunai, piagam, dan plakat. Untuk Seniman Perdana akan mendapatkan Rp75 juta, sedangkan Seniman Pemangku Negeri akan mendapatkan hadiah senilai dan Rp25 juta per orangnya.
“Memang bila dibandingkan dengan hadiah bagi atlet yang berhasil memenang pertandingan/lomba uang itu belum sebanding. Namun kami dari DKR telah berupaya memberikan penghargaan untuk menghargai jasa-jasa mereka dalam mempertahankan dan mengembangkan seni di Negeri Melayu ini,” tambahnya.
Dorongan Berkreasi
Bagaimana komentar Rida K Liamsi setelah dinyatakan sebagai penerima anugerah Seniman Perdana?
Rida menyatakan bahwa anugerah ini merupakan sebuah dorongan berkreasi bagi insan seniman. “Saya mengucapkan terima kasih jika DKR menetapkan diri saya sebagai Seniman Perdana. Jujur saya tidak tahu apa kriteria yang dinilai oleh dewan juri sehingga menetapkan saya sebagai Seniman Perdana,” kata Rida K Liamsi Senin (4/2) di ruang kerjanya.
Rida menyatakan bahwa anugerah ini akan menjadi cemeti lecut baginya untuk terus berkarya. Menurutnya, setelah sukses menerbitkan dan memasarkan novel Bulang Cahaya tahun 2007 lalu, saat ini ia berkeinginan untuk menjadikan Bulang Cahaya menjadi sebuahtrilogi. Namun karena keterbatasan waktu, keinginan tersebut tidak bisa direalisasikan dalam waktu dekat.
“Keinginan saya, setelah Bulang Cahaya pertama dinilai baik, tentu Bulang Cahaya ke dua dan ke tiga harus lebih baik. Untuk mencapai itu semua, diperlukan waktu yang cukup. Sebenarnya garis besar cerita trilogi tersebut sudah ada, namun belum ditulis menjadi sebuah cerita,” ungkapnya.
Rida dalam kesempatan itu juga mengungkapkan, bahwa selama ini peran DKR dalam mengembangkan dan menjadi wadah bagi kreatifitas berkesenian dinilai sudah sangat baik.
“Apa lagi dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau selama ini luar biasa besarnya bagi pengembangan berkesenian di Riau. Sehingga tidak mengherankan, DKR sebagai sebuah institusi sejauh ini telah mampu memposisikan diri menjadi wadah bernaungnya insan seni,” katanya.