Saturday, 20 June 2026 |Saturday, 4 Muharam 1448 H
Online Visitors : 389
Today
:
11.035
Yesterday
:
25.082
Last week
:
184.896
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
11 juni 2007 08:19
Potensi Budaya Kampar Kurang Promosi
Kampar- Banyak potensi besar di Kabupaten Kampar terutama yang berkaitan dengan potensi budaya yang tidak dikenal banyak orang dan tidak bisa dikembangkan. Hal ini disebabkan adanya kendala dalam bidang promosi, sehingga lama-kelamaan potensi budaya tersebut menjadi tenggelam dan bahkan ada yang hilang.
Hal ini dikatakan Bupati Kampar Drs H Burhanuddin Husin MM melalui Kasubdin Pariwisata dan Kesenian, Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Kampar Ir H Zamhir Basem MM, dalam acara kunjungan Menteri Pengurusi Jawatan Kuasa Pelancongan, Kesenian dan Warisan Negara Bagian Melaka, Malaysia, Datuk Abd Rahaman bin Abd Karim, di Kanagarian Kampar, Kecamatan Kampar Timur, Kamis (7/6).
Dalam acara tersebut hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Warisan Negara Bagian Melaka, Kepala Musium Melaka Drs Mohd Nasruddin bin Abd Rahman, tim kajian sejarah Melaka. Sementara dari Riau hadir sejarawan Riau Prof Soewardi MS, Kadis Pariwisata Riau, LAM Riau, Camat Kampar Timur Nurhamdi BA, ketua tim kajian sejarah Kerajaan Kampar Drs Abd Latif Hasyim, ninik mamak Kanagarian Kampar dan tokoh masyarakat Kampar Timur.
Diakui Zamhir, selama ini promosi dan sosialisasi tentang potensi budaya Kampar ini kepada masyarakat sangat kurang, baik yang dilakukan Pemkab maupun oleh masyarakat Kampar sendiri, apalagi belum banyak masyarakat yang melahirkan referensi tertulis mengenai itu. ”Akibatnya banyak potensi itu yang tidak diakui dan malah ada yang dibelokkan,”ujarnya.
Misalnya, Kampar mempunyai situs budaya yaitu Candi Muara Takus yang dibangun pada abad ke 3 masehi hingga ke 4 masehi. Muara Takus merupakan pusat pembelajaran agama Hindu dan Budha dunia, sementara Candi Borobudur di Jawa dibangun pada abad belasan masehi. Sayangnya karena promosi yang kurang maka masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia lebih mengenal Candi Borobudur daripada Candi Muara Takus.
Begitu juga dengan bekas bekas kerajaan yang pernah jaya di Kampar, seperti Kerajaan Kampar, Kerajan Gunung Sahilan dan kerajaan-kerajaan lainnya, namun keberadaan ini hilang dalam sejarah karena tidak pernah disosialisasikan dan dipublikasikan kepada masyarakat.
”Untuk itu kita sudah mulai menggali kembali potensi yang ada dan mencanangkan 2007 sebagai tahun kebangkitan budaya di Kampar,” ujarnya.
Untuk itu berbagai cara dilakukan Pemkab kampar, salah satunya dengan mengadakan kajian-kajian sejarah termasuk sejarah Kampar, selain itu Pemkab juga mengadakan kerja sama dnegan berbagai pihak untuk mengadakan penggalian-penggalian budaya.