Wednesday, 10 June 2026 |Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today
:
3.697
Yesterday
:
58.870
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
07 mei 2008 03:55
`Burisrawa` Memecah Kebekuan Teater Makassar
Makassar- Ahmadi Haruna, pemeran konglomerat Burisrawa, bermesraan dengan Sumbadra (Sri Handila) salah satu istri arjuna, di atas sampan. Adegan ini bagian dari pementasan sandiwara Konglomerat Burisrawa di gedung kesenian Societeit de Harmonie, Makassar, baru-baru ini.
Lakon teater "Konglomerat Burisrawa" dipentaskan kelompok teater Studi Teater Tambora (STT) di gedung kesenian Societeit de Harmonie, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), baru-baru ini. Sandiwara karya N Riantiarno itu berhasil memecah kebekuan para seniman teater di kota "Anging Mammiri" Makassar. Selama empat hari pementasan, "Konglomerat Burisrawa" memikat banyak penonton.
"Konglomerat Burisrawa" adalah sandiwara yang dulu dianggap tabu oleh rezim Orde Baru. Kali ini, lakon tersebut diangkat kembali oleh sutradara Ridwan Effendy, dosen ilmu budaya dan humaniora Universitas Hasanuddin (Unhas), melibatkan para seniman senior dari kelompok teater Studi Teater Tambora (STT) yang sekian lama absen di panggung.
Pementasan itu didukung seniman teater andal, di antaranya Andi M Mochtar, Ahmadi Haruna, Bahar Merdu, Syahrial Tato, Luna Vidia, Rudhi Barsit, Rudiy Farouc, Asia Ramli Prapanca, Aliem Prasastie, Jayadi Haruna, Irwanto Danumulyo, Irwan Parawansa, Rini Mustakim, dan sederet aktor dan artis generasi baru, di antaranya Sri Handila, Airin, Indah Mustika Sari, Anita Damayanti, Dewi, Oliver, dan bintang tamu Asmin Amin.
Konglomerat Burisrawa diperankan Ahmadi Haruna, mengisahkan tentang ksatria buruk rupa yang menyimpan gejolak asmara kepada Sumbadra (Sri Handila) salah satu istri Arjuna. Akibat cinta asmara menggelegak bagai ombak laut Hindia, sang konglomerat muda itu pun bertekuk lutut tanpa daya dijerat senyum Sumbadra. Sayang, meski memiliki segudang uang dan dibantu banyak dukun, Burisrawa tak mampu merebut hati Sumbadra. Segalanya pun kemudian baru bisa membara dan berbunga lantaran cinta serta pelbagai akibat yang ditimbulkannya.
Sandiwara tersebut diwarnai kritikan sosial dan banyolan yang kadang membuat penonton terpingkal-pingkal. Ilustrasi musiknya ditata apik oleh Abdi "Cucut" Bashit, Ardi JK, Uki Fathi dan Edwin Antartika. Sedangkan, penata cahaya Sukma Sillanan, dan peņata artistik Djamal Dilaga merangkap stage manager.
Ahmadi, pemeran Burisrawa, mengaku sangat puas bisa mentas kembali dengan munculnya sandiwara tersebut. "Saya sudah lama tidak pernah manggung dengan teman-teman, paling hanya baca puisi atau pementasan teater monolog," kata wakil pimpinan redaksi SKM Tegas itu.
Ridwan Effendy sengaja mengangkat Burisrawa untuk reuni sesame anggota teater STT dan seniman teater di Makassar. Menurut dia, STT telah melahirkan cukup banyak seniman teater sejak kemunculannya awal 1970 di Makassar, meraih puncak kejayaan dengan menyabet juara festival, diantaranya pada saat pementasan sandiwara Datumuseng dan Maipa Diapati, Masyitoh, Shangdiyakala ning Majapahit, dan I Segong ri Panaikang.
Sayangnya, apresiasi seni di kalangan pejabat di daerah itu sangat rendah, meskipun sudah diberikan undangan dan tiket tanda masuk, mereka tak hadir. Padahal diharapkan pemerintah dapat membantu pembinaan kesenian dengan menghidupkan kembali pementasan-pementasan seni, tidak hanya seni teater saja, tetapi juga kesenian lainnya.