Wednesday, 20 May 2026   |   Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 1.608
Today : 23.112
Yesterday : 25.387
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

09 mei 2008 04:03

Batik Tulis yang Terlupakan

Batik Tulis yang Terlupakan

Jakarta- Bisa jadi, tahun 1994 merupakan masa kejayaan bagi batik Indonesia. Ketika itu batik menjadi seragam wajib para pemimpin negara dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Indonesia. Perancang Busana Iwan Tirta dipercaya untuk membuat delapan busana batik, khusus, untuk para kepala negara yang mengikuti KTT. Busana batik, ujar Iwan di situs Iwan Tirta Private Collection, memang merupakan seni kebangsawanan Indonesia (royal art of Indonesia).

Sampai hari ini, batik tampaknya semakin mengemuka. Kain ini bukan lagi milik para petinggi kerajaan atau negara, melainkan menjadi konsumsi masyarakat luas. Terbukti dengan menjamurnya beberapa kios batik di pusat perbelanjaan ibu- kota.

"Tampaknya, batik booming ya, tapi yang tradisional itu tetap harus dijaga. Kita jangan lengah loh, lama-lama hilang saja," kata Ketua Sahabat Batik Indonesia, Neneng Iskandar dalam seminar tentang batik di Jakarta, Selasa (6/5).

Popularitas batik saat ini, ujar Neneng, baru sebatas jenis batik cetak. Dia menyebutkan, batik sebenarnya bisa digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu batik tulis, batik cetak, dan kombinasi. Ketiganya dibedakan berdasarkan proses pembuatannya. Batik tulis dibuat melalui proses menulis dengan menggunakan lilin malam. Sedangkan, batik cetak lebih tepat disebut sebagai batik tekstil karena dibuat dengan peralatan tekstil. Sementara itu, batik kombinasi adalah perpaduan antara batik tulis dan batik cetak.

"Justru yang budaya kita pertama-tama yang makin hilang itu, ya batik tulis. Jangan sampai budaya batik tulis malah hilang atau diambil negara lain," ujar Neneng yang juga membuka Galeri dan Pelatihan Batik Srihana.

Ketua I Himpunan Ratna Busana Noes Moelyanto Djojomartono pun memiliki pendapat senada. Perhimpunan ini, ungkap Noes, bertujuan melestarikan batik dan kain nasional Indonesia. Noes menuturkan, wilayah Indonesia yang luas sesungguhnya menyimpan ragam kekayaan budaya kain nasional yang besar.

Pada kain batik, embrio kemunculannya memang berasal dari batik tulis. Awalnya, batik tulis digunakan sebagai bahan pelengkap suatu religi dan adat, serta komoditas perdagangan. Batik tulis, kata Noes, juga bukan sekadar diharapkan sebagai penutup tubuh tetapi juga bernilai artistik yang dapat memberi kepuasan batin bagi pemakainya.

"Di masa lalu, batik tulis dibuat dengan menyepi, puasa, menghidari tabu, serta dengan memanjatkan harapan dan doa supaya batik bisa bermanfaat dan membawa berkah untuk pemakainya," ujarnya.

Kehadiran batik cetak seolah menggeser filosofi yang terkandung dalam kain batik. Saat ini, batik diproduksi dalam skala massal tanpa mempertimbangkan orisinalitas sebuah batik.

"Menurut saya, yang namanya printing, bukan batik. Itu tekstil dengan motif batik karena prosesnya tidak melalui malam (lilin untuk membatik, Red), dicetak seperti mesin fotokopi saja, yang namanya membatik itu pakai malam," kata Neneng.

Minim Perhatian

Neneng mengatakan, popularitas batik tulis terkendala oleh minimnya perhatian pemerintah kepada pengrajin batik.

Saat ini, perajin batik hanya terfokus di daerah-daerah sentra batik. Padahal ujar Neneng, perajin di kota-kota besar juga memerlukan perhatian yang sama. Selain itu, dia mengungkapkan kebijakan pemerintah juga harus mampu menyentuh sampai tingkat daerah.

"Pemerintah dari daerah apa, katakanlah kalau dari Makasar ada hari-hari tertentu pakai sutra Makasar lah, dari Sumatera, harus pakai apa dalam hari tertentu, dengan begitu paling tidak mempekerjakan perajin," tutur Neneng yang mengoleksi ratusan batik.

Proses regenerasi pengrajin pun menjadi tantangan pelestarian batik tulis. Batik tulis selalu diidentikkan dengan kaum ibu alias ketinggalan zaman untuk kalangan muda saat ini.

Padahal kata Neneng, di dalam proses membatik terkandung etos kerja yang baik. Pembuatan sebuah kain batik membutuhkan ketelitian dan ketelatenan perajin.

Sumber : www.suarapembaruan.com (8 Mei 2008)
Kredit foto : blog.baliwww.com


Read : 4.072 time(s).

Write your comment !