Sunday, 26 April 2026   |   Sunday, 9 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 957
Today : 16.365
Yesterday : 23.172
Last week : 7.342.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

29 mei 2008 01:38

Diskusi Terbuka mengenai “Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia” di New York

New York- Sebagai warga negara Indonesia yang berkesempatan berinteraksi di negara maju, seperti di Amerika Serikat, banyak hal yang dapat disumbangsihkan kepada bangsa dan tanah air, baik melalui penguasaan ilmu pengetahuan itu sendiri, penguatan dan perluasan jejaring ilmu pengetahuan di luar negeri, maupun upaya menularkan pengetahuan dan praktek-praktek keilmuan negara maju ke tanah air.

Demikian sambutan tertulis Konjen RI New York yang disampaikan oleh Acting Konjen Wiwit Wirsatyo dalam pembukaan diskusi terbuka dengan tema “Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia” di Ruang Pancasila KJRI New York (24/5). Dalam diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama KJRI New York dengan Permias NYC tersebut telah dihadirkan empat orang akademisi asal Indonesia yang berkiprah di berbagai universitas di Amerika Serikat sebagai pembicara.

Tampil berturut-turut sebagai pembicara adalah Indriyo Sukmono (Senior Lecturer pada Council on Southeast Asia Studies, Yale University), Iwan Syahril (Graduate Teacher College, Columbia University), Prof Dr Kustim Wibowo (Professor of MIS and Decision Sciences Department, Indiana University of Pennsylvania), dan Nelson Tansu PhD (Assistant Professor of Electrical and Computer Engineering, Lehigh University). Diskusi dipandu oleh Rianne Subijanto mahasiswa S2 dari New York University penerima beasiswa Fullbright.

Diskusi antara lain telah menghasilkan analisa dan rekomendasi bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia, serta dalam bentuk yang lebih konkret menghasilkan beberapa kegiatan yang dapat dikontribusikan oleh para perantau Indonesia khususnya yang berkiprah di bidang akademis untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Diakui oleh para pembicara bahwa mutu SDM Indonesia tidak kalah dibanding negara-negara besar lainnya, terlihat dari banyaknya mahasiswa asal Indonesia yang memperoleh peringkat atas saat belajar di perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat.  Selain itu kurikulum yang diajarkan pun tidak ada masalah, terbukti dengan banyaknya pelajar Indonesia yang meraih juara pada berbagai lomba tingkat internasional, seperti dalam olimpiade fisika dan matematika.

Namun demikian para pembicara secara umum menyampaikan concern terhadap kondisi dan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan tingginya, yang dikatakan telah kalah bersaing dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Dikatakan oleh para pembicara bahwa hal tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya dana pendidikan yang dialokasikan, rendahnya gaji guru dan dosen, tidak adanya universitas yang dapat menjadi magnet, dan kurangnya kerjasama dengan kalangan industri dan bisnis.

Sebagai bentuk kontribusi masyarakat perantau Indonesia di Amerika Serikat beberapa kegiatan yang mengemuka dalam diskusi, antara lain pemberian kursus online, pemberian sertifikasi, penyebaran informasi beasiswa dan grant, informasi sekolah, dan kerjasama universitas yang dapat diinisiasi oleh para akademisi asal Indonesia yang mengajar di berbagai universitas di Amerika Serikat.

Diskusi yang diadakan dalam rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini telah dihadiri sekitar 200 orang peserta yang berasal dari kalangan akademisi, mahasiswa dan pelajar, wakil Permias New York City, Permias Boston dan Permias Washington DC, kalangan profesional Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat, Forum Perbankan Indonesia serta wakil organisasi masyarakat Indonesia di New York dan sekitarnya. Meskipun menghadapi libur panjang dalam rangka Memorial Day yang jatuh pada hari Senin, para undangan tampak antusias berbagi pemikiran dan pengalaman dalam diskusi yang diselenggarakan pada hari Sabtu siang hingga sore tersebut.

Sebelum acara diskusi telah diadakan upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Acting Konjen, Wiwit Wirsatyo, dalam pidato sambutannya juga menggarisbawahi Perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional sebagai momentum yang tepat untuk melakukan refleksi seabad perjalanan bangsa, untuk digunakan sebagai alat introspeksi diri sehingga dapat memahami kekurangan dan keunggulan bangsa. Kedua hal tersebut sangat penting bagi Indonesia dalam melakukan proyeksi upayanya di tahun-tahun mendatang.

Sumber : www.deplu.go.id (28 Mei 2008)


Read : 3.139 time(s).

Write your comment !