Wednesday, 20 May 2026   |   Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 1.711
Today : 25.489
Yesterday : 25.387
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

16 juni 2008 04:37

Kejayaan Leiden, `Past Perfect Tense?`

Kejayaan Leiden, `Past Perfect Tense?`

Leiden, Belanda- Sejak tahun lalu, Fakultas Sastra Universitas Leiden—dipelopori sang dekan—sibuk melakukan reorganisasi fakultas.

Mungkin lebih baik menyebut pembongkaran daripada reorganisasi karena titik tolaknya mengurangi jumlah anggota staf pengajar/peneliti.

Mengapa? Alasannya, katanya, jumlah mahasiswa yang terdaftar kian berkurang, padahal universitas harus membuat keuntungan dalam bentuk euro. Universitas tak ubahnya perusahaan.

Tidak lama sebelum diluncurkan rencana pembongkaran itu, di fakultas telah terjadi suatu kecongklangan kebijakan. Direktur pengelola Fakultas Sastra telah banyak menggunakan dana untuk membiayai terbentuknya komisi ini, komisi itu, bagian ini, bagian itu, padahal dana yang digunakan untuk pendidikan/penelitian kian kecil.

Salah satu korban terbesar pembongkaran ini adalah jurusan-jurusan yang jumlah mahasiswanya lebih kecil dibandingkan dengan jumlah staf, antara lain Jurusan Bahasa dan Budaya Indonesia. Setiap tahun di jurusan ini ada sekitar 10 mahasiswa yang mendaftarkan diri. Dan semakin jauh jenjang studi, semakin kecil jumlah mahasiswanya karena tidak semua mahasiswa mampu atau mau menyelesaikan studi hingga master. Jumlah stafnya ada 6,5 fte (fulltime-equivalent), terdiri dari 11 orang (ada staf yang hanya dipekerjakan, misalnya, untuk 0,2 fte), dan semua memiliki expertise masing-masing dan amat bervariasi. Mereka antara lain terdiri dari ahli agama Hindu, Islam, linguistik, bahasa daerah, dan linguistik Austronesia, dari Jawa Kuno dan Melayu Klasik sampai bahasa Minang, dari Majapahit sampai sejarah Indonesia modern, dari filologi dan epigrafi sampai leksikografi.

Memperkecil

Fakultas Sastra, dalam sosok sang dekan, ingin ”menyulap” jumlah tenaga fulltime 6,5 itu menjadi 3,1 fte. Ini berarti, jumlah expertise-nya menjadi lebih kecil. Kenyataan yang membuat jurusan mempunyai nama di mata dunia antara lain adalah karena adanya expertise yang beragam itu, selain tersedianya bahan-bahan koleksi yang tak ternilai harganya di perpustakaan Universitas Leiden dan KITLV.

Lebih memprihatinkan lagi, ”nasib” guru besar khusus bahasa Jawa. Bahasa Jawa diajarkan sejak tahun pertama dan merupakan mata kuliah wajib. Ini satu-satunya guru besar bahasa Jawa di seluruh dunia! Menurut rencana, meski tidak secara eksplisit disebutkan, ada kemungkinan bahasa Jawa ”dihilangkan” dari daftar mata kuliah wajib, atau justru sama sekali ditiadakan. Di lain pihak justru karena ada expertise inilah antara lain Leiden menarik bagi mahasiswa dari luar negeri, misalnya dari Indonesia, untuk menyelesaikan master atau doktor di Leiden.

Seandainya jumlah expertise diperkecil, modal apa yang bisa digunakan jurusan untuk tetap menarik mahasiswa dari luar negeri? Dan siapa yang akan mampu menggarap/meneliti koleksi naskah-naskah kuno yang ada?

Di masa lalu, saat jurusan masih jaya, telah banyak diadakan kerja sama antara lain dengan Indonesia sehingga ada program ILDEP (Indonesian Linguistics Development Project) yang menghasilkan doktor-doktor linguistik (dan kini banyak dari mereka itu telah menjadi guru besar), ada program kerja sama di bidang hukum, dalam studi Islam, Javanologi, dan sebagainya.

Seandainya, sekali lagi seandainya, expertise yang ada di Leiden bisa dipertahankan tentu masih ada kemungkinan untuk mengembangkan kerja sama bilateral semacam itu di masa depan. Namun, saat ini tidak atau belum ada kepastian tentang masa depan para ahli di jurusan ”yang tidak dibutuhkan” oleh fakultas.

Apakah kejayaan Jurusan Bahasa dan Budaya Indonesia yang hingga kini amat terasa di seluruh dunia akan menjadi past perfect tense dan menjadi sebuah momen sejarah di masa lampau yang tak akan (pernah) muncul lagi?... (I Supriyanto Anggota Staf Jurusan Bahasa dan Budaya Indonesia Universitas Leiden)

Sumber : cetak.kompas.com (16 Juni 2008)
Kredit foto : www.cwts.nl


Read : 1.485 time(s).

Write your comment !