Wednesday, 29 April 2026   |   Wednesday, 12 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 1.794
Today : 22.060
Yesterday : 25.766
Last week : 169.256
Last month : 101.098.282
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

24 maret 2008 05:24

Pattani, Perkampungan Muslim Melayu di Thailand yang Sedang Bergolak (1)

Setiap Lima Kilometer Hadapi Pos Militer

Pattani di kawasan selatan Thailand yang mayoritas dihuni etnis Melayu hingga kini masih bergolak. Padahal, Pattani–Bangkok bukan dua wilayah berjauhan. Seperti Jakarta–Surabaya, hanya memerlukan satu jam penerbangan. Namun, ibarat pepatah, mereka dekat di mata jauh di hati. Laporan ABDUL ROKHIM, Pattani, Thailand

Setelah lima hari tinggal di Bangkok, saat memasuki kawasan Thailand Selatan Sabtu lalu (22/3), suasana terasa sangat berbeda. Keluar dari Bandara Internasional Hat Yai, Provinsi Songkhla (satu di antara empat provinsi di Thailand Selatan), hiruk pikuk dan kemegahan Bangkok, ibu kota Thailand, langsung sirna.  

Yang menandakan bahwa Hat Yai masuk wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol dan bendera kuning kerajaan yang bertebaran di setiap perempatan jalan. Mobil-mobil yang terparkir di area jemputan bandara bertempelkan stiker bertuliskan Allah dan Muhammad. Pemandangan yang sukar ditemui di Bangkok.

Kebingungan karena nama-nama jalan dan gedung ditulis dengan huruf Siam, seperti di Bangkok, tidak terjadi di Hat Yai. Alfabet Latin dan Arab mendampingi huruf Siam yang meliuk-liuk seperti ”ha na ca ra ka” tertera pada papan nama instansi pemerintah, markas tentara, sekolah, dan stadion olahraga.

Mengutip buku Thailand 2007 yang diterbitkan pemerintah setempat, Hat Yai adalah kota terbesar di Provinsi Songkhla yang penduduknya 50 persen muslim. Bersama dengan Provinsi Pattani, Yala, dan ( Narathiwat, keempatnya dijuluki sebagai Pattani Darussalam yang berarti gabungan dari empat provinsi mayoritas muslim di selatan Thailand.

JPNN tiba di Hat Yai Jumat (21/3) petang. Menurut M Makmun Chalifah, Kepala Konsulat Republik Indonesia di Songkhla, ketegangan di daerah tersebut meningkat setelah ledakan bom di Hotel CS Pattani. Padahal, daerah itu pernah diklaim pemerintah Thailand sebagai yang paling aman. ”Pada malam hari, Pattani seperti kota mati. Sangat berbahaya beraktivitas di luar,” ujar diplomat senior itu sambil menawarkan penginapan di Konsulat RI di Songkhla.

Sabtu (22/3) pagi, JPNN berangkat ke Pattani. Jalan satu arah yang mulus dan lebar dengan dua jalur terpisah, foto-foto raksasa Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, hamparan sawah, serta kendaraan dua kabin adalah pemandangan utama perjalanan antara Hat Yai dan Pattani. ”Infrastruktur memang diprioritaskan pemerintah Thailand. Sebab,  itu yang tampak mata dan dirasakan langsung oleh pendatang,” ujar Suwit Binwang, staf Konsulat RI dari penduduk lokal.

Setelah melaju dengan bus angkutan umum berkapasitas 10 orang selama 40 menit, Kota Pattani mulai tampak di ujung pegunungan. Warna budaya muslim langsung terasa. Para muslimah berjilbab. Tua muda berseliweran dengan berjalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum. Thailand yang menetapkan Buddha sebagai agama negara justru absen di Pattani.

Penduduknya lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Melayu ketimbang bahasa Thai yang terdengar sengau. Namun, bahasa Melayu Pattani terdengar berbeda dibandingkan dengan Melayu serumpun di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Jika berbicara cepat, percakapan Melayu Pattani sulit dimengerti. Lidah mereka seperti ditekuk.

Namun, bahasa formalnya amat mirip dengan Melayu ”normal” yang mudah dipahami telinga Indonesia. Saat salat Ashar di Masjid Besar di pusat kota dan mengikuti majelis taklim usai salat, JPNN menemui bahasa khutbah ustadz Pattani di mimbar amat mudah dicerna. Demikian juga bahasa Melayu penyiar di radio pemerintah, Sowotto Radio, yang terdengar sepanjang perjalanan cukup mudah dipahami.

Memasuki Pattani juga berarti harus siap menemui sekian banyak military checkpoint. Sepanjang 70 kilometer jalur Hat Yai–Pattani hampir setiap lima kilometer ada pos pemeriksaan. Persis Aceh ketika darurat militer sebelum tsunami dan perjanjian Helsinki.

Pengamanan ketat dan darurat militer tak resmi di Pattani, serta kota tetangganya, Yala dan Narathiwat, sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan momen ketika ketiga provinsi tersebut dilebur ke dalam Kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh kolonial Inggris pada awal abad ke-20. Padahal, sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, Pattani adalah Kesultanan Islam yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara.

Konflik berskala meluas dan brutal berlangsung mulai 2004. Pada April tahun itu, terjadi penyerbuan ke Masjid Krue Se. Eskalasi konflik terus meningkat, hingga setengah tahun kemudian terjadi pembantaian Tak Bai di Narathiwat yang mengakibatkan banyak warga muslim gugur. Sejak itu, pemerintah di bawah Thaksin Sinawatra (PM Thailand saat itu) menerapkan jam malam dan darurat militer lebih tegas.     

Konflik itu ibarat bara dalam sekam yang hingga saat ini terus berlangsung. Setelah ledakan yang menewaskan dua orang di Hotel CS Pattani pada Ahad (16/3), kekerasan oleh militer semakin sering terjadi di wilayah selatan. Sebuah pondok pesantren dikepung ratusan polisi Narathriwat. Yang terbaru, pada Jumat (21/3), terbaca di Bangkok Post, seorang ustadz tewas di Kantor Polisi Narathiwat setelah diinterograsi polisi.

Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan, kendati  kehidupan sepintas berjalan normal. Pelajar tetap pergi ke sekolah, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, dan jamaah salat tetap pergi ke masjid. Namun, itu hanya tampak di permukaan. Setelah Maghrib, kondisi berubah drastis. Jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas Tiongkok dan Buddhist yang siang masih tampak menjaga toko mereka tak terlihat lagi.(bersambung)

Sumber : Riau Pos (24 Maret 2008)


Read : 4.831 time(s).

Write your comment !