Wednesday, 29 April 2026 |Wednesday, 12 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 1.696
Today
:
22.028
Yesterday
:
25.766
Last week
:
169.256
Last month
:
101.098.282
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
25 maret 2008 05:28
Pattani, Perkampungan Muslim Melayu Thailand yang Sedang Bergolak (2-Habis)
Umumnya Mahasiswa Berjilbab, Serasa di Indonesia
Sudah puluhan tahun Bangkok mengerahkan tentara besar-besaran dan dana miliaran baht ke Thailand Selatan, namun kekerasan masih terus terjadi. Sejumlah tokoh yang ditemui di Pattani berpendapat, konflik tak berhenti karena memang bukan itu yang diperlukan. Laporan Abdul Rokhim, Pattani
Mengelilingi Kota Pattani, satu hal yang harus diakui, infrastruktur amatlah baik. Jalan lebar dan mulus. Sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, dan fasilitas umum dibangun dengan megah. Di kota berpenduduk tak sampai satu juta itu tersedia pusat perbelanjaan Big C Superstore dan puluhan diler mobil serta kedai seluler.
Namun, apa yang nampak di mata itu bisa menipu. Beberapa warga Pattani dari kalangan pengusaha, mahasiswa, dan tokoh masyarakat yang ditemui JPNN mengaku resah dengan naiknya eskalasi konflik akhir-akhir ini.
Nattapong Suwanmongkol (56), pengusaha penjual mobil bekas, mengakui konflik Pattani secara tak langsung mengusir warga Thai nonmuslim keluar dari Pattani dan kota-kota yang bergolak lain, seperti Yala dan Narathiwat. Mereka takut terhadap tindak kekerasan, termasuk kepada warga nonmuslim, yang terus meningkat. “Rasa curiga membakar warga karena pemerintah tak pernah menjelaskan siapa pelakunya. Kami seperti diikuti bayang-bayang gelap yang bisa merusak bisnis dan membunuh keluarga kami setiap saat,” keluh penganut Buddhis itu saat ditemui di tempat usahanya, Ahad (23/3).
Nattapong yang pernah dilibatkan dalam tim nasional rekonsiliasi Thailand Selatan bentukan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra itu menilai, ada kesan tentara menangkap orang hanya untuk menenangkan warga dan menunjukkan bahwa mereka mampu. “Tapi, setelah penangkapan, kekerasan semakin sering. Sekarang orang tak percaya lagi. Setelah bom di Hotel CS Pattani, bisnis terus memburuk,” kata Nattapong yang gerai dilernya berada di dekat Hotel CS Pattani.
Saat ini Nattapong hanya menjual tiga sampai lima mobil dalam sepekan. Padahal, sebelum 2004, saat konflik meluas akibat tragedi Tak Bai dan darurat militer, jumlah itu dulu ludes hanya dalam satu hari. “Beberapa teman sudah menutup usaha dan pergi ke Utara. Jika tak ada tanda-tanda membaik, sebaiknya saya juga pindah,” kata bapak empat anak itu.
Apa yang dirasakan Nattapong sesuai dengan data Pemerintah Thailand. Tercatat bahwa pertumbuhan ekonomi di Selatan hanya 1,8 persen tahun lalu. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional 4,3 persen. Ada 108 pabrik tutup sejak 2004 dan 10,8 persen penduduk selatan berada di bawah garis kemiskinan.
Bukan hanya di sektor bisnis. Kemunduran juga terjadi di bidang pendidikan. Kampus Prince of Songkhla University (PSU), universitas terbesar di Pattani, mencatat kini 90 persen mahasiswanya muslim. Padahal, dulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi ke sana.
Tak heran, pemandangan di kampus PSU Pattani sekarang mirip dengan kampus Indonesia. Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat salat, serta makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok.
“Mahasiswa nonmuslim yang bertahan di sini umumnya juga hanya menghabiskan sisa waktu belajar. Sedangkan mahasiswa baru nonmuslim hampir tak ada dalam dua tahun ini,” kata Nur Imani (21), mahasiswi tingkat akhir Jurusan Fisika, saat ditemui sedang browsing internet di taman Kampus PSU.
Ismail Ali (37), seorang dosen PSU ditemui di tempat yang sama membenarkan adanya rasa takut yang menghantui mahasiswa nonmuslim. “Sebelum 2004, orang Melayu dan Siam biasa hidup berdampingan. Baru setelah itu (Insiden Tak Bai yang menewaskan banyak warga muslim, red), rasa saling curiga berkembang di antara kedua golongan. Apalagi jika mereka tak saling kenal,” kata Direktur Kajian Islam PSU yang mengaku sering diajak berdialog pemerintah Thailand itu.
Rusdi Tayeh (51), timbalan (wakil) Ketua Majelis Umat Islam Pattani, mengungkapkan, keadaan sekarang sebetulnya bukan hanya membuat tak nyaman warga nonmuslim. “Kalau boleh, muslim di sini juga ingin pergi. Tapi, ke mana? Ke Bangkok tak lebih baik karena tak merasa sebagai negeri sendiri. Ke Malaysia kendati agama dan budaya sama juga mengundang masalah, karena negaranya berbeda. Apalagi, Malaysia cukup tegas terhadap pendatang haram,” katanya saat ditemui di kantornya, belakang masjid besar Pattani yang berdiri megah.
Rusdi yang pernah menjadi takmir masjid di kompleks Polri Jogjakarta (saat menuntut ilmu di IAIN Sunan Kalijaga) itu mengatakan, Pemerintah Thailand berusaha men-Siam-kan rakyat Melayu di Thailand Selatan yang berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa dari sekitar 63 juta penduduk Thailand.
Menghadapi kebijakan itu, kata dia, rakyat keturunan Melayu dengan identitas budaya dan agama berbeda melihatnya sebagai bentuk penindasan kolonial. “Kami adalah bangsa dengan identitas Melayu yang sangat berbeda dengan bangsa Siam. Ini fakta sosio-historis dan sudah ada jauh sebelum terbentuknya kerajaan Thailand,`` ujar Rusdi merujuk penyerahan wilayah Thailand Selatan yang dikuasai Kerajaan Pattani kepada Kerajaan Siam oleh Inggris pada 1902. ***