Wednesday, 13 May 2026   |   Wednesday, 26 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 1.288
Today : 21.810
Yesterday : 33.274
Last week : 209.627
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

08 oktober 2008 03:35

Edi Sidabutar, Pemain Musik Tradisional Batak di Tanah Rantau

Dari Gondang Batak ke Elektrik Sound System
Edi Sidabutar, Pemain Musik Tradisional Batak di Tanah Rantau

Tanjungpinang- Kini Edi Sidabutar sudah memiliki perangkat musik dan soundsystem canggih yang berkekuatan sekitar 60 ribu watt, yang harganya tentu saja tidak murah. Seperti, soundsystem line array merk Osso, instrument musik Marshall, dan lain-lain yang biasa digunakan artis-artis terkenal di Jakarta dan di luar negeri.

Dijumpai di ruko yang sekaligus menjadi kantornya pria berkaca mata dengan tubuh gempal terlihat ramah. Kantornya terletak di lantai II, sedangkan lantai satu digunakan sebagai gudang. Di bisnis hiburan memang menuntut siapapun pengelolanya untuk bisa dan terbiasa bersikap ramah kepada siapa saja, begitu juga dengan bapak tiga anak ini.

Tiga lantai di ruko tersebut penuh dengan berbagai perangkat musik elektronik. Jika lantai satu untuk gudang, maka lantai III digunakan untuk ruangan berlatih band yang disewakan. Saat koran ini berkunjung kemarin, dari salah satu ruangan di lantai III terdengar suara musik. Ternyata di dalamnya sekelompok remaja sedang melatih kemampuannya memainkan alat musik, dam vokalnya.

Awalnya, yang terpikirkan saat masuk ke Geronimo Music ini adalah penuh dengan berbagai perangkat musik dan soundsystem yang canggih serta serba elektrik.

Namun, bayangan itu pupus saat masuk ke ruangan kerjanya di lantai II. Di ruangan ini ditemukan sejumlah alat musik yang tidak umum dengan perangkat musik lainnya, karena terkesan tradisional. Seperti, gendang, kecapi dan lain-lain. ”Ini memang alat musik tradisional Batak, biasa disebut dengan Gondang Batak,” kata Edi sambil tersenyum.

Yang mirip gendang namanya tagading dan dimainkan sambil berdiri dengan menggunakan stik (pemukul). Selain tagading ada juga kecapi, serune (semacam terompet alat tiup, red), ogung (gong), dan seruling. Gondang Batak ini biasa dimainkan dalam acara-acara pernikahan adat Batak dan dalam berbagai acara lainnya. Apalagi jika dalam acara itu ditampilkan tarian khas Batak, tor tor.

Berbagai alat musik tradisional itu bukan hanya menjadi sebatas pajangan. Sebab, seluruhnya masih tetap dimainkan di berbagai acara. Bagi Edi, semua peralatan tersebut akan selalu dirawat,dan dijaga dengan baik. Sekaligus terus memainkannya di berbagai kesempatan. Sambil berjalan dia mengambil dua stik dan kemudian memainkan tagading dengan baik.

Terlihat seperti asal pukul saja, namun dari iramanya yang terdengar tampak tak mudah untuk memainkan alat musik tradisional tersebut. Baginya, selain menjadi akarnya melalui alat-alat musik tradisional itulah dia bisa berkembang menjadi besar seperti sekarang. Itu sebabnya seluruh perangkat musik tradisional tersebut masih terus dijaganya dengan baik. Bahkan, untuk seluruh perangkat musik tradisional itu ditempatkan khusus di dalam ruangan kerjanya.

Dengan berbagai peralatan musik tradisional khas Batak inilah, dari Tanjungbalai Asahan, Edi melanglang buana dengan group musiknya yang diberi nama Cahaya. Sebagai mantan penyanyi yang pernah menjadi juara I pada festival vokalis solo se-Sumatera Utara tahun 1986 di Medan, tak sulit bagi Edi untuk mengembangkan usahanya ini.

Dulu, karen atak diizinkan orangtuanya jadi penyanyi, ia pun tidak mengembangkan bakatnya itu layaknya anak muda saat ini. Maklum, masa itu menjadi penyanyi belum termasuk sebagai profesi yang dipandang orang. Namun, sejak itu pulalah dia mulai mulai serius menekuni bakat dan hobinya bermusik. Berbagai acara sudah diikutinya bersama groupnya. Mulai dari acara kampanye, perkawinan dan lain-lain.

Bersama group musiknya ini dia terus mengembangkan diri hingga sekarang memiliki berbagai perangkat musik modern berharga mahal. Padahal, awalnya selain ingin menjadi musisi dia juga ingin menjadi tentara.

”Waktu kecil memang sempat mau jadi tentara, tapi setelah tahu juga bisa nyanyi malah jadi hobi ke musik. Lama-lama jadi seperti sekarang lah,” ujar Edi sambil tersenyum. Ada keinginan untuk terus mengembangkan usahanya menjadi lebih besar dari yang sudah ada sekarang. Namun, semua itu belum terlaksana karena terkendala dengan daya listrik yang sangat terbatas.

Termasuk, terbatasnya kemampuan sumber daya manusia yang mengerti dengan peralatan musik elektronik yang canggih. Itu juga sebabnya maka jika ada yang ingin menggunakan alatnya dengan kapasitas besar. Maka, dia terpaksa harus mendatangkan soundman langsung dari Jakarta.

Tapi dia yakin, dalam beberapa tahun ke depan Tanjungpinang dan Bintan akan berkembang pesat. Berbagai perangkat musik canggih berkualitas tinggi tersebut bisa disewa siapa saja yang memerlukannya. Seluruh alat musik, dan soundsystem tersebut ditempatkan disebuah ruko di Jalan Wiratno –depan Ramayana Mal- Tanjungpinang dengan nama Geronimo Music. ***

Sumber : www.batampos.co.id (8 Oktober 2008)
Kredit foto : www.nainggolan.net


Read : 7.047 time(s).

Write your comment !