Friday, 25 July 2014   |   Friday, 27 Ramadhan 1435 H
Online Visitors : 1.751
Today : 16.088
Yesterday : 23.254
Last week : 157.256
Last month : 128.832
You are visitor number 96.945.952
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

09 desember 2008 07:00

Upaya Revitalisasi Tradisi Lisan Melalui Teknologi Informasi

Upaya Revitalisasi Tradisi Lisan Melalui Teknologi Informasi
Penampilan Seni Tradisi Lisan Celoteh Anak (seni tradisi masyarakat Kepulauan Riau)
dalam Festival Seni Tradisi Lisan di Lapangan Merdeka Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi

Wakatobi, MelayuOnline.com- Memanfaatkan teknologi informasi untuk pelestarian dan penyebaran tradisi lisan, merupakan salah satu bentuk upaya penguatan peran tradisi lisan di era global. Kegiatan revitalisasi tradisi lisan yang selama ini berjalan melalui seni pentas saja tidak efektif untuk melestarikannya secara maksimal.  Inilah salah satu butir rekomendasi Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang tercetus dalam Seminar Internasional VI dengan tema “Tradisi Lisan sebagai Kekuatan Kultural Membangun Peradaban” yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Desember 2008, di Gedung Wanita Wanci, Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).


Gedung Wanita Wanci, Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi,
tempat berlangsungnya Seminar Internasional Tradisi Lisan VI

Rekomendasi yang terdiri dari 10 butir tersebut dibacakan oleh Dr. La Niampe, ketua ATL Sultra, mewakili ketua ATL pusat Dr. Pudentia, MPSS, M.Hum. Selain salah satu butir di atas, terdapat sembilan butir rekomendasi lainnya, meliputi perlunya kebijakan ketahanan budaya dan ekoturisme di seluruh wilayah Indonesia dengan mempertimbangkan nilai-nilai lokal, diaspora budaya yang diarahkan sebagai perekat atau perajut identitas untuk mewujudkan wawasan nasionalisme dan keindonesiaan; perlunya pemaknaan kembali seni tradisi lisan terutama untuk menggali kearifan lokal sebagai bahan pembelajaran budaya di dunia pendidikan; dan perlunya perumusan kembali sejarah lokal dengan memanfaatkan sumber tradisi lisan dan tulisan.

La Niampe juga menambahkan, perlunya pengembangan kematangan dan implementasi dalam program dan kegiatan tradisi lisan maritim sebagai salah satu kekuatan bangsa yang dapat diakses secara nasional dan internasional; manajemen tradisi lisan yang menasional dan berbasis kemasyarakatan; serta pemberdayaan dan pengembangan tradisi lisan melalui tulisan dan multimedia maupun ekonomi kreatif harus diimbangi dengan penguatan komunikasi.


Beberapa seni tradisi masyarakat Wakatobi yang ditampilkan
pada festival seni tradisi di lapangan Merdeka, Wangi-wangi

Khusus mengenai tradisi lisan yang terdapat di Wakatobi, ATL merekomendasikan agar pemberdayaaan tradisi lisan di Wakatobi hendaknya sesuai dengan asas maknawi, manfaat, dan relevansi terhadap nilai kehidupan masyarakat yang terbuka, arif, dan dinamis. Pemerintah Wakatobi juga diharapkan melindungi berbagai kekayaan seni tradisi yang ada di Wakatobi dengan payung Peraturan Daerah (Perda) sebagai bagian dari pemberdayaan, penguatan, dan pengembangan tradisi lisan di Wakatobi.


Staf ahli Menbudpar RI, Dr. Mukhlis PaEni, saat menutup acara
Seminar Internasional Tradisi Lisan VI

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tersebut, ditutup secara resmi oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan (Menbudpar) Republik Indonesia yang diwakili oleh staf ahli Menbudpar Dr. Mukhlis PaEni. Dalam kesempatan tersebut, Mukhlis menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya terhadap kegiatan yang terselenggara atas kerjasama ATL dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi ini. Ia berharap, kegiatan semacam ini terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya dari tahun ke tahun. Hal ini penting sebagai upaya revitalisasi tradisi lisan yang semakin memudar di kalangan masyarakat Nusantara.  “Usaha revitalisasi yang tidak melibatkan penguatan peran masyarakat pendukungnya, baik yang diartikan sebagai penutur maupun penonton dan pihak lain yang mendukung tradisi tertentu akan menjadikan tradisi lisan semakin kehilangan kekuatannya,” ujar Mukhlis. Di akhir pidatonya, Mukhlis menyampaikan 2 bait pantun sebagai tanda penutupan kegiatan berskala internasional tersebut.


Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra, SH. MM. bersama moderator
dan 2 pemakalah lain (Ratna Riantiarno, Dr. Dick van Der Meij, dan
John H. Mc Glynn), saat menyampaikan pemaparannya di depan
peserta seminar

Dalam acara ini, hadir para tokoh dan pakar di bidang tradisi lisan. Termasuk di antaranya Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang sekaligus Pimpinan Umum MelayuOnline.com, WisataMelayu.com, RajaAliHaji.com, dan CeritaRakyatNusantara.com, Mahyudin Al Mudra, SH. MM. didampingi Hadi Kurniawan, Pelaksana Harian BKPBM. Mahyudin juga diminta sebagai salah satu pembicara dalam seminar tersebut dengan judul makalah “Mewariskan Cerita Rakyat Nusantara di Tengah Pluralisme Budaya”.

Selain Mahyudin, pakar yang diundang sebagai pembicara dalam seminar tersebut antara lain I Gede Ardika (mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI periode 1999—2004), Dr. Mukhlis PaEni (staf ahli Menbudpar), Prof. Dr. Achadiati, Dr. Roger Tol, Prof. Dr. Sardono W. Kusumo, Prof. Dr. La Ode Kamaludin, Prof. Dr. Bambang Kaswanti Purwa, Dr. Murti Bunanta, Prof. Dr. Zainal Kling, Prof. Dr. Rahayu Supanggah, John H. Mc Glynn, Dr. Dick van Der Meij, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Prof. Dr. Yus Rusyana, Prof. Dr. Ir. Masihu Kamaluddin, Prof. Dr. Rusjdi Ali Muhammad, Prof. Dr. Robert Sibarani, SU., Prof. Dr. Charles Juergens, Prof. Dr. Usman Rianse, Gilles Massot, MA., Dr. Rosdeen Suboh, Ir. Hugua (Bupati Wakatobi), La Ode Balawa, M.Hum, Trias Yusuf, M.Hum, Firdaus, Dr. La Niampe, Dr. R. Cecep EP, Didik Pradjoko, M.Hum, Affendy Widayat, Setia Dermawan P., A. Kassim Ahmad, Dr. M. Abdullah, Dr. Ahmad Badrun, Dr. Mu’jizah, Risa Permana D., Dian RS., Asrif, Prof. Dr. La Ode Sidu M., Dr. Halilintar Latief, Dr. Santoso, Jabatin Bangun, MA., Dr. Chandra N. Grange, Nani Ismail, Ir. Abdul Manan, M.Sc., Al Azhar, MA., Endo Suanda, dan Nano Riantiarno.


Suasana Seminar Internasional Tradisi Lisan VI

Selain seminar, kegiatan yang pertama kali diadakan di luar Jakarta ini menampilkan festival tradisi lisan maritim yang menampilkan ragam kesenian dari kawasan maritim di Nusantara seperti Celoteh Anak (KepRi), pesta rakyat Wakatobi, peluncuran buku terbaru ATL, serta bazar dan pameran. Tak hanya itu, Ir. Hugua, Bupati Wakatobi, kepada peserta juga memperkenalkan kekayaan alam bawah laut Wakatobi yang merupakan surga nyata bawah laut di jantung segitiga karang dunia. Ekosistem bawah laut Wakatobi ini memiliki gugusan terumbu karang terbesar di dunia.

(Hadi Kurniawan/brt/04/12-08).


Read : 8.214 time(s).

Write your comment !