You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
17 desember 2008 05:33
Peran Perguruan Tinggi dalam Pengkajian Manuskrip Arab Kuno
Seminar Studi Manuskrip dalam Khazanah Qur`anic and Hadith Studies,
di UIN Sunan Kalijaga.
Yogyakarta, MelayuOnline— Indonesia memiliki warisan ribuan manuskrip Arab yang tersebar di dalam maupun luar negeri. Seribu di antaranya berada di Perpustakaan Nasional RI, sebanyak 400 buah naskah berada di Aceh, dan sekitar 5.000 buah berada di Universiteits Bibliotheek, Leiden, Belanda. Banyaknya manuskrip Arab ini, ternyata tidak dibarengi dengan pemeliharan, perhatian dan penerbitan ulang atas naskah-naskah tersebut. Akibatnya, sebagian naskah bersejarah ini terabaikan, tak terbaca, dan dibiarkan rusak begitu saja. Bahkan, kesadaran mahasiswa dan para akademis Indonesia mengenai studi manuskrip ini sangat kurang. Hal inilah yang mendasari Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Hadits, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, bersama kelompok studi LingKar Tahdits untuk mengadakan seminar regional bertajuk “Studi Manuskrip dalam Khazanah Qur`anic and Hadith Studies”.
Seminar yang turut didukung oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) ini, diselenggarakan di Gedung Teatrikal UPT UIN Sunan Kalijaga, pada Selasa (16/12). Hadir sebagai pembicara Dr. Kun Zachrun Istanti, M.S., pakar Filologi UGM, Islah Gusmian, S.Ag., M.Ag., penulis buku Khazanah Tafsir Indonesia, dan Dr. Habib Kamil, M.A., Filolog dari UIN Sunan Kalijaga.
Islah Gusmian dalam paparannya menuturkan bahwa jumlah naskah Arab milik Indonesia yang tercatat tersebut belum termasuk naskah milik pribadi, yang tersebar di masyarakat. Naskah-naskah ini seringkali sulit diakses untuk kepentingan penelitian karena dianggap keramat. Sementara itu, Habib Kamil memaparkan bahwa pada umumnya, naskah yang tersebar tersebut merupakan cetakan-cetakan yang belum lulus sensor. “Oleh karena itu naskah-naskah ini sangat perlu mendapatkan perhatian dari pentahkik (orang yang memiliki keahlian untuk memaparkan isi naskah secara tekstual dan kontekstual) profesional,” tutur Habib.
Di sinilah peran kalangan akademis dan ilmu Filologi dibutuhkan, untuk mengkaji teks dalam naskah Arab tersebut. “Kajian filologi ini dapatdigunakan untuk memahami naskah masa lampau yang sering dianggap gelap atau tidak jelas oleh pembaca sekarang,” tutur Kun Zachrun. Karena itu, peran perguruan tinggi sangat diperlukan untuk mendukung pengkajian naskah Arab sebagai khazanah kekayaan warisan intelektual bangsanya. “Perguruan Tinggi seharusnya memberi ruang lebih dalam pengkajian naskah Arab, serta turut mempublikasikannya,” tutur Habib Kamil.