Thursday, 14 May 2026 |Thursday, 27 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 376
Today
:
8.732
Yesterday
:
35.104
Last week
:
209.627
Last month
:
15.288.374
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
23 januari 2009 10:29
Perayaan Milad MelayuOnline.com II: Tarian Melayu dan Jawa Meriahkan Malam Anugerah MelayuOnline 2009
Yogyakarta, MelayuOnline.com - Di bawah sorotan cahaya lampu warna-warni, sepasang penari bergerak lincah di atas panggung. Penari wanita bergaun kebaya warna hijau muda dibalut selendang putih. Sedangkan penari pria berkostum khas Melayu, teluk belanga warna hijau daun, dilengkapi kain songket dan kopiah. Sesekali tangan mereka berpadu, menjauh, dan mendekat. Juga hentakan kaki. Liukan berputar tampak seritmik dengan bebunyian lagu “Pulau Sari” yang diputar. Apalagi, pasangan penari itu mampu memperlihatkan kualitas gerak yang aduhai. Tak heran jika gemuruh tepuk tangan penonton mereka terima begitu tarian usai.
Itulah tari Serampang 12, tarian pergaulan yang ditarikan secara berpasangan. Tarian Melayu gubahan almarhum Bapak Sauti pada era 1940-an itu kini terkenal di seluruh tanah air, bahkan sering dibawakan di Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, dan Eropa. Tarian yang mulanya bernama “Pulau Sari” itu bercerita tentang perkenalan atau kisah cinta muda-mudi hingga memasuki perkawinan dalam 12 ragam tari atau 12 langkah gerakan. Masing-masing gerakan memiliki arti tersendiri, terkait kisah cinta yang terpaut abadi. Dari sinilah kemudian nama Serampang 12 disematkan.
Tari Serampang 12 yang dibawakan oleh Sanggar Sinar Budaya pimpinan Tengku Mira Sinar, putri Kesultanan Serdang, itu menjadi nomor pembuka acara pentas seni budaya Melayu serumpun di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Selasa malam (20/1). Sanggar tari kesohor dari bumi Kesultanan Serdang, Sumatera Utara, itu secara khusus diundang Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dalam rangka tasyakuran Milad MelayuOnline.com II yang bertema “Merajut Masa Depan Beralaskan Kebudayaan.”
Tari Serampang 12
Setelah serangkaian kata alu-aluan oleh Dr. Aris Arif Mundayat, selebrasi milad oleh Prof. Dr. Sjafri Sairin, peluncuran http://www.ceritarakyatnusantara.com oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, dan orasi kebudayaan oleh Mahyudin Al Mudra, SH., MM. (Pemangku BKPBM dan Pemimpin Umum MelayuOnline.com), tari Semawang dipertunjukkan oleh 8 penari (seluruhnya wanita) dari Sanggar Tari Ayodya, Nitiprayan, Yogyakarta. Musik pengiring yang didominasi lagu-lagu Jawa dan kostum kebaya Jawa, membuat penonton yang memadati ruangan langsung bisa menerka, bahwa tari Semawang adalah tarian Jawa.
Malam itu, tari Semawang dibawakan dengan penguasaan teknik gerak yang jempolan, gerakan kipas putih di tangan masing-masing penari berjalan begitu padu dengan irama. Pemahaman dan penjiwaan yang ekspresif para penari Sanggar Tari Ayodya itu, langsung disambut tepuk tangan meriah sekitar 600-an orang penonton. Selain Sri Sultan HB X (Gubernur DI. Yogyakarta) dan HM. Rusli Zaenal (Gubernur Riau), tampak H. Muhammad Sani (Wakil Gubernur Kepulauan Riau) terkagum-kagum pada tarian Jawa itu. Juga sejumlah pesohor lainnya seperti Aida Zulaikha Nasution (Anggota DPD RI), Suryatati A. Manan (Walikota Tanjungpinang), Herry Zudianto (Walikota Yogyakarta), YM. Tuanku H. Tengku Luckman Sinar Basarshah II (Sultan Serdang) dan Sultan Palembang, serta raja-raja Melayu se-Kalimantan Barat.
Tari Semawang
Karakter ceria dan penuh warna tampak dalam tari Negeri Sembilan dan tari Lambaian Negeri (genre joget) yang dibawakan oleh Kumpulan Citra Budaya Kelab Melayu Negeri Sembilan, Malaysia. Dengan iringan musik yang up-beat, 8 penari (5 pria 3 wanita) berkostum kuning itu bergerak lincah dan membentuk beragam formasi. Luas panggung tak hanya dimanfaatkan secara horizontal (belakang-depan dan kiri-kanan), tetapi juga secara diagonal. Perubahan formasi pun dilakukan dengan cepat dan secara tersamar sambil tetap bergerak, menggunakan double-step. Itulah sebenarnya daya tarik tari Melayu genre joget. Payung-payung indah yang dijadikan properti tarian, menambah keanggunan koreografi tarian tersebut.
Tari Lambaian Negeri
Grafik suasana perayaan Milad Melayuonline.com II tetap bertahan menyusul digelarnya tari Zapin yang dipertunjukkan oleh 8 penari (4 wanita, 4 pria) dari Sanggar Pulau Penyengat. Keserasian langkah serta keharmonisan gerak para penari yang berkostum putih itu memukau hadirin. Mereka sepertinya memasukkan unsur-unsur kreasi baru, meski tak terlalu banyak ”melenceng” dari pakem Zapin. Kelompok Zapin dari Tanjungpinang, Kepulauan Riau, itu agaknya memasukkan unsur kesenian Melayu yang cukup rancak macam joged dalam koreografi.
Zapin, kita tahu, aslinya bukan berasal dari tanah Melayu. Tarian ini menyebar ke wilayah Riau dan Sumatera dari Hadramaut (Yaman). Zapin berasal dari kata Arab zaffan, yakni penari atau langkah kaki. Pada awal perkembangannya, Zapin pernah menjadi media dakwah agama Islam dan pendidikan budaya Melayu. Selama masa kejayaan kesultanan di Kepulauan Riau, banyak daerah pernah menjadi pusat perkembangan Zapin.
Zapin pada mulanya memang dipersembahkan untuk raja-raja Arab. Namun, menurut ketua rombongan penari Sanggar Pulau Penyengat Drs. Abdul Kadir Ibrahim (Akib), Zapin Arab yang elitis itu kemudian `dirakyatkan` oleh masyarakat Melayu. “Ukuran alat musik gambus diperkecil dan syair lagu yang dinyanyikan pun berdasarkan pantun-pantun Melayu,” ungkap Humas Pemkot Tanjungpinang, Kepulauan Riau, itu. Tak hanya Zapin, malam itu Sanggar Pulau Penyengat juga menampilkan tari Madah Gurindam yang gerakannya mendayu-dayu, memukau penonton.
Selain tarian, digelar juga penampilan musik gambus dan marwas oleh H. Sulaiman, gesekan biola oleh Tengku Ryo, pembacaan puisi berjudul “Janda” oleh Walikota Tanjungpinang Suryatati A. Manan, serta nyanyian Melayu oleh Gubernur Riau HM. Rusli Zaenal. Pada malam Anugerah MelayuOnline 2009itu, warga Melayu di rantau dan para tamu undangan benar-benar dimanjakan. Dusun Melayu di seberang pulau pun serasa di depan mata.
Melalui pentas seni budaya Melayu serumpun yang berlangsung meriah tersebut, penggagas acara milad Mahyudin Al Mudra, mengajak kita untuk kembali menengok ke dalam budaya Indonesia yang kaya. Kalau sudah mengenal budaya yang kita miliki, jelas Mahyudin, tentu akan lebih mudah untuk mencintai dan menghormatinya. “Generasi muda sekarang ini banyak yang beralih ke kebudayaan asing. Fenomena itu membuat kami menangis. Kekecewaan kami juga bertambah, mengetahui kurangnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia,” tambah Mahyudin.
Senada dengan yang disampaikan sahabatnya, seniman Ong Hariwahyu juga mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap pemerintah yang kurang memosisikan budaya sebagai aset utama bangsa. Dia mengatakan, “Budaya kita ini sekarang sudah mulai tergusur oleh budaya luar. Lihat saja, anak muda lebih suka membahas budaya asing daripada budayanya sendiri. Kalau ngomongin budaya Indonesia katanya norak. Saya berharap, mulai sekarang generasi muda supaya lebih mencintai budayanya.”
Perayaan Milad MelayuOnline.com ke-2 ini mengolaborasikan kebudayaan tradisional dan modern tanpa mengurangi nilai budaya daerahnya, sehingga pertunjukan yang ditampilkan tidak monoton. Arena pementasan pun disulap Art Director Ong Hariwahyu dengan menampilkan simbol-simbol kebhinekaan, yang kian mendekatkan penonton memahami makna milad tersebut.
(Tasyriq Hifzhillah/brt/23/01-09).
Kredit Foto: Koleksi BKPBM (Fotografer: Aam Ito Tistomo)