Saturday, 9 May 2026   |   Saturday, 22 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 105
Today : 9.096
Yesterday : 31.987
Last week : 209.627
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

23 maret 2009 01:15

Meningkatkan Kualitas Tenun NTT

Meningkatkan Kualitas Tenun NTT

Kupang, Nusa Tenggara Timur - Nusa Tenggara Timur menyimpan beragam tenun ikat yang belum banyak mendapat perhatian dalam pengembangannya. Ke-250 kecamatan di sana bahkan memiliki ciri khasnya sendiri yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Di luar masyarakat setempat, tenun dari wilayah timur Indonesia itu lebih banyak disimpan sebagai koleksi. Padahal, kain ini dapat ditingkatkan pemanfaatannya menjadi benda pakai, selain sebagai pakaian adat, sehingga dengan demikian tenun dapat memberi penghidupan kepada para penenunnya. Masalahnya, kain-kain tersebut memiliki daya pakai terbatas karena umumnya benang katunnya tebal juga motif dan warnanya tidak banyak berubah dari waktu ke waktu.

Perancang busana Oscar Lawalata bekerja sama dengan Novanto Center di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu dan Minggu dua pekan lalu membuat pergelaran busana di Novanto Center dan berdiskusi dengan para ibu penenun. ”Kami ingin memperlihatkan berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan dengan kain dari NTT,” kata Oscar di Jakarta, pekan lalu.

Ke-30 set busana itu masih menggunakan kain yang sudah diproduksi penenun setempat dari sejumlah daerah. Ke depan, Novanto Center dan Oscar akan melakukan perbaikan kualitas tenunan tersebut.

Perbaikan itu meliputi peningkatan kualitas pewarnaan dan pemahaman tentang benang untuk kain tenun dengan teknik dan motif asli serta membuat struktur tenun baru dengan benang selain katun dalam motif yang berangkat dari motif asli.

Penasihat Novanto Center, Deisti Astriani Tagor, mengatakan, di luar tenun Sumba, tenun NTT tidak terlalu banyak dikenal orang dari luar NTT. Kain tenun yang ada pun kualitasnya memprihatinkan dan belum mampu meningkatkan penghasilan penenunnya. Kerja sama dengan Oscar diharapkan akan meningkatkan penerimaan tenun NTT oleh konsumen yang lebih luas dan juga oleh masyarakat setempat.

”Dalam diskusi, keluhan ibu-ibu penenun itu terutama soal warna yang luntur. Mereka membeli bahan pewarna dari pasar untuk mengejar sisi usahanya karena lebih cepat pengerjaannya,” kata Oscar. Pewarnaan dengan bahan alami perlu perendaman benang lebih dari satu bulan untuk mendapatkan hasil yang stabil.

Meskipun begitu, para penenun itu juga didorong untuk terus menggunakan pewarnaan alami karena sejalan dengan arah besar di dunia yang semakin peduli pada lingkungan sehingga produk yang ramah lingkungan, antara lain melalui penggunaan pewarna alam, akan mendapat tempat lebih luas.

Langkah konkret yang segera dilakukan adalah membuat workshop dengan sejumlah pakar tekstil untuk mencari cara memperbarui struktur tenunan. Menurut Oscar, rencananya dia akan meminta bantuan Departemen Perindustrian. Setelah itu, akan segera dibangun tempat pelatihan di Kupang. (nmp)

Sumber: http://cetak.kompas.com
Kredit Foto: http://www.wikimu.com


Read : 11.622 time(s).

Write your comment !