You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
02 april 2009 02:15
From Solo with Batik
Jakarta - Sosok di anjungan Indonesia di pameran Moscow International Travel and Tourism ini benar-benar menarik perhatian. Proporsi tubuhnya pas--tinggi dan langsing. Wajahnya sempurna. Hidung bangir, alis yang tebal, dan kulit putih nan bersih. Sekilas tak berbeda dengan kebanyakan wanita Rusia yang memang ayu.
Namun, ada yang membedakannya. Bukan karena selembar kain batik menutupi bahunya, tapi wanita cantik dengan rambut sebahu ini fasih menjelaskan soal batik dan pernak-perniknya. Dia adalah Renate Esmeralda, 36 tahun. Ren, panggilan akrabnya, memang sengaja membawa batik hingga ke Moskow, bukan semata tugasnya sebagai General Manager House of Danar Hadi, tapi karena kecintaannya pada kain bergambar itu.
Kepada mereka yang datang ke anjungan Indonesia, dia jelaskan semua tentang batik tidak saja corak dan motif, tapi juga filosofi yang terkandung di dalamnya. Dari mulutnya pula terlontar semua tentang House of Danar Hadi, tempat wisata alternatif yang ditawarkan bagi pelancong dari Negeri Tirai Besi itu.
Banyak yang didapat para pengunjung. Di rumahnya itu, pengunjung memang dibawa ke sebuah petualangan yang lain. Dengan melihat-lihat koleksi batik di museumnya, yang terdiri dari lintasan dari berbagai waktu dan pengaruhnya, pengunjung seolah melakukan tetirah dalam perjalanan panjang bagaimana proses batik mewujud.
Tidak itu saja ternyata. Di bagian lain, pengunjung juga diberi kesempatan untuk membatik. "Kami sediakan lengkap, kain, malam, dan cantingnya," katanya. Di pengujung kunjungannya, para tamu bisa membawa batik khas Danar Hadi. Sebuah kunjungan yang tidak akan terlupakan, demikian janjinya.
Bila Ren fasih berbicara tentang batik, tentulah kelebihan itu tidak mendadak turun dari langit, melainkan melalui proses yang panjang. Ren memang lahir di Jakarta. Namun, pada usia empat tahun, ayahnya yang wong Solo dan ibunya yang memiliki garis keturunan Belanda membawanya ke Negeri Kincir Angin. Di sana, Ren tumbuh hingga dewasa.
Pada 1995, setelah menyelesaikan sekolah pariwisata di SSH-Chur, Swiss, dia datang ke tanah leluhurnya untuk bekerja di sebuah hotel. Di Tanah Leluhurnya pula kemudian dia menemukan jodohnya. Dia bertemu dengan Dian Kusuma Hadi, salah satu putra dari pemilik perusahaan batik, Danar Hadi. Pada 1996, mereka pun menikah.
Sejak itulah dia menggeluti dunia batik. "Sampai sekarang saya masih belajar kok. Sambil jalan," ujarnya sambil tersenyum. Boleh saja dia merendah. Sebab, beberapa koleksi batik yang dipakainya tak lain merupakan hasil rancangannya sendiri.
Setahun silam, Diana Hariadi, kakak iparnya, membuat ide untuk mendirikan House of Danar Hadi. Nah, Ren, sejak Agustus 2008, kemudian diberikan kepercayaan untuk mengurusinya. "Tempat ini diharapkan menjadi heritage," katanya bersemangat.
Bagi Ren, mengenalkan batik dan warisannya tidak semata dilakukan di dalam negeri saja, tapi juga melanglang buana hingga ke negeri seberang. "Batik memang harus dibawa ke luar negeri."
Lalu bagaimana respons dari orang Rusia sendiri? Dengan jujur Ren mengaku, untuk kawasan Eropa Timur, dia merasa masih perlu banyak melakukan promosi yang lebih giat lagi. "Respons mereka di Eropa Barat jauh lebih bagus."
Renate memang pergi membawa House of Danar Hadi. Namun sejatinya, dia membawa batik, seni khas Indonesia, ke seluruh dunia. (Irfan Budiman/Moskow)