Thursday, 11 June 2026 |Thursday, 25 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 139
Today
:
7.518
Yesterday
:
58.870
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
02 april 2009 04:15
Seni Tradisional Diganti Klasik?
Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat
Bandung, Jawa Barat - Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan ingin mengganti istilah seni tradisional menjadi seni klasik. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Ir. Herdiwan Iing Suranta yang ditemui usai membuka sarasehan gedung kesenian dan perfilman di Gedung RRI Bandung, Jln. Diponegoro Bandung, Senin (30/3).
Menurut Herdiwan, keinginan Gubernur tersebut karena selama ini seni tradisional sering tidak mendapat perhatian masyarakat. Bahkan, tidak sedikit seni tradisional yang mendapat pelecehan, baik oleh masyarakat maupun kalangan pemerintah serta anggota dewan. "Inilah yang menjadi keprihatinan Gubernur melihat kondisi seni tradisional. Karena itu, Gubernur ingin mengganti istilah seni tradisional menjadi seni klasik," paparnya.
Selain itu, lanjutnya, masyarakat, birokrat maupun anggota dewan masih memandang seni tradisional sebagai seni kampungan, kumuh, dan sebagainya. Dengan mengganti istilah seni tradisional menjadi seni klasik, diharapkan kesenian tradisional bisa lebih terangkat. "Dengan digantinya istilah tradisional menjadi seni klasik, masyarakat, birokrat, dan anggota dewan lebih peduli terhadap kesenian tradisional Jabar," ujarnya.
Karena itu, pada setiap kesempatan, Herdiwan selalu menyampaikan keinginan Gubernur itu kepada kalangan seniman dan budayawan, termasuk masyarakat. Namun, jika masyarakat maupun kalangan seniman dan budayawan menolak istilah seni tradisional diganti menjadi seni klasik, pihaknya tidak akan memaksakannya. "Jelas kami tidak ingin memaksakan keinginan Gubernur tersebut kepada masyarakat maupun seniman dan budayawan jika mereka menolak diganti," tambahnya.
Herdiwan mengakui, bagaimanapun untuk mengganti istilah yang sudah baku di masyarakat secara umum tidak mudah. "Perlu ada pertemuan khusus dibarengi dengan simposium antara pemerintah, seniman budayawan, dan tokoh masyarakat," tambahnya.
Salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap perkembangan seni klasik (tradisional), ungkap Herdiwan, Pemprov Jabar akan membangun tiga gedung kesenian bertaraf nasional di Kota Banjar, Kab. Bogor, dan Kota Bandung dengan arsitektur khas Jabar (Sunda). Hingga saat ini, katanya, Pemprov Jabar baru bisa membebaskan tanah seluas 4 ha, masing-masing di Banjar dan Bogor. "Sedangkan untuk Kota Bandung, kami masih mencari lahan yang cocok untuk membangun gedung kesenian yang dilengkapi conventional hall," ujarnya. (B.81)**