Monday, 20 April 2026 |Monday, 3 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 797
Today
:
13.955
Yesterday
:
26.672
Last week
:
249.242
Last month
:
101.098.282
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
06 april 2009 02:15
Doa Anak Berbakti untuk Arwah Leluhur
Sungailiat, Bangka Belitung - Momen Ceng Beng (sembahyang kubur) memang luar biasa. Tradisi masyarakat Tionghoa yang sudah turun-temurun ini semakin menambah keragaman budaya di Bangka. Lihat saja saat banyaknya masyarakat Tionghoa mengunjungi makam para leluhurnya di sejumlah tempat pemakamam. Puncaknya keramaian Ceng Beng, Sabtu (4/4) terlihat antrian kendaraan yang cukup panjang berlangsung mulai pukul 05.00 WIB di pemakaman Yayasan Perkumpulan Sosial "Karya Lestari" di Parit 40 Kelurahan Sinar Jaya, Sungailiat.
Para pengunjung makam saat datang pun tak lupa memberikan sumbangan sukarela di pintu masuk makam tersebut. Sumbangan itu nantinya digunakan untuk kebersihan dan pemeliharaan makam.
"Sebagai anak yang berbakti kita ingat dengan leluhur. Banyak masyarakat Cina asal Bangka di perantauan pulang kembali untuk sembayang kubur. Bahkan saat Ceng Beng mereka yang dari Hongkong dan Cina pun kembali ke Bangka," kata Tjindrajana alias CenCen kepada Grup Bangka Pos, Sabtu (4/4) saat bersama keluarga berziarah.
Menurutnya, masih banyak masyarakat Tionghoa dari perantauan ingin pulang ke Bangka untuk sembahyang kubur. Namun tingginya harga tiket pesawat terbang, sementara keadaaan ekonomi belum membaik, maka keinginan beribadah tersebut sulit diwujudkan.
"Tanpa leluhur mungkin kita tidak ada. Hal ini juga kita tanamkan kepada anak-anak mengenai budi pekerti yang baik agar tetap ingat leluhurnya. Apalagi dengan beribadah terpancar kedamaian. Seperti di Bangka ini toleransi beribadahnya cukup tinggi," tambah CenCen. Menurutnya di mana pun orang bisa berada, apalagi kalau bisa memberikan sumbangsihnya pada tanah kelahiran mungkin akan lebih bermakna. Karenanya, kalau putra-putri Bangka bisa menciptakan lapangan kerja di tempat sendiri, maka hal itu akan lebih berarti untuk juga membangun daerahnya.
"Sayang kalau penduduk di sini sampai keluar, sementara pendatang banyak yang datang ke Bangka. Kita bangga bisa pulang ke Bangka dan dengan pendidikan yang dimiliki, semestinya kita bisa yakin dan optimis bisa dipakai di daerah sendiri," jelas CenCen.
Sementara Hendri Purnomo, peziarah makam lainnya mengatakan banyak sekali yang datang ke Bangka dalam rangka Ceng Beng ini. Bahkan dari negara Kanada, Hongkong, dan perantauan luar negeri lainnya pun menyempat diri pulang ke tanah leluhurnya di Bangka.
"Orang Cina Bangka yang di perantauan biasanya saat Ceng Beng pada pulang semua untuk mengunjungi makam leluhurnya. Kalau tidak demikian, maka kecintaan pada orangtua tidaklah ada," jelas Hendri. (Sasmita)