Saturday, 22 August 2026 |Saturday, 8 Rab. Awal 1448 H
Online Visitors : 675
Today
:
12.338
Yesterday
:
24.647
Last week
:
178.006
Last month
:
11.454.048
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
16 april 2009 04:09
Pradaksina, Prosesi Keliling Tempat Suci
Jambi – “Pradaksina adalah prosesi ritual mengelilingi suatu objek yang dipandang suci, apakah itu candi, gambar orang suci, patung orang suci, makam orang suci, dan sebagainya. Orang mulai berpradaksina dari timur (daksina) dengan objek berada di sebelah kanan badan, lalu bergerak ke arah selatan dan seterusnya searah perputaran matahari/jarum jam. Sambil berjalan keliling, sebaiknya mendaraskan doa berulang-ulang kali dengan penuh tulus bhakti. `Kwan Im Phosat` itulah doa yang disebutkan,” ujar Suardi, seorang umat Buddha yang sering melakukan ritual Pradaksina. “Di sini kita bukan berdoa menghormati benda tersebut, tapi menghormati sifat luhur yang digambarkan dari benda tersebut,” tambahnya.
Hal ini dibenarkan oleh Bhikkhu Badrabodhi, ”Pradaksina ini kita laksanakan untuk memberikan penghormatan kepada leluhur yang suci, dengan mengelilingi tempat yang kita anggap suci sambil berdoa, ”ujarnya. Lebih jauh bhikkhu ini menjelaskan, Pradaksina sering digelar setiap memperingati hari-hari besar, seperti Waisak, Poun dan ulang tahun dewa. Doa yang sering dibacakan dalam Pradaksina adalah ”Kwan Im Phosat” yaitu memberikan penghormatan dan berdoa kepada Dewi Kwan Im, agar diberi keselamatan dan disayangi.
Pradaksina yang dilakukan dengan tulus dan penuh kesadaran batin secara berulang-ulang, tambah Bhikkhu Badrabodhi. Akan dihormati oleh para makhluk-makhluk di alam gaib. Manfaatnya dijelaskan oleh Bhikhu Badrabodhi antara lain, ”Terhindar dari keadaan yang tidak menguntungkan, mempunyai batin kuat, penuh kewaspadaan, daya pemahaman yang jelas, cerdas, penuh kekuatan dan keteguhan iman, raut muka akan bersinar/berseri-seri, dihormati dimana-mana, sehat dan memperoleh usia panjang, lancar rejeki dan menjadi dermawan, tidak akan diganggu oleh makhluk-makhluk jahat, mempunyai suara yang merdu dan/atau menyenangkan.“
Saat pradaksina, mereka memberi puji-pujian akan kebesaran Buddha sebagai guru dan pelindung umat. Setelah proses Pradaksina, mereka menyalakan lilin yang melambangkan hal-hal yang dimiliki Sang Buddha. Yakni maha suci, welas asih, rezeki, pengampun, dan bijaksana. Ritual keagamaan ini ada sejak era Wangsa Syailendra. Selain memberi rezeki serta pengampun, dalam ajaran Buddha, ritual pengelilingan ini memiliki makna untuk memohon petunjuk kepada sang Buddha. “Api sebagai perlambang penerang kehidupan yang suram dan memberikan gelora dalam hidup. Buddha mengharapkan, setiap manusia dapat menembus kebutaan hati, pikiran, maupun kegelapan hingga mencapai pencerahan sejati, “pungkasnya. (Cr8)