You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
08 juni 2009 06:15
Deklarasi Lembaga Adat Melayu Serantau
Ketapang, MelayuOnline.com - Jum‘at, 29 Mei 2009 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi masyarakat Melayu dunia. Hari itu, bertempat di Rumah Adat Melayu Ketapang, dilangsungkan pendeklarasian dan pelantikan pengurus Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS). LAMS ditubuhkan sebagai jembatan antara puak-puak Melayu sedunia. Selama ini, Melayu terkotak-kotak dalam administrasi pemerintahan dan kepentingan politik yang berbeda-beda, sehingga potensi Melayu yang sangat besar, baik yang berwujud benda (tangible) maupun non-benda (intangible), belum terkelola dengan baik untuk kejayaan Melayu. Akibatnya, masyarakat Melayu baik secara ekonomi, politik, maupun budaya selalu terpuruk dan termarjinalkan.
Pendeklarasian LAMS, sebagaimana diungkapkan Sekretaris Jendral LAMS, H. Morkes Effendi, S.Pd., MH. dalam sambutannya, bukan sekedar tempat berkumpulnya puak-puak Melayu sedunia, tetapi menjadi pendorong munculnya kesadaran untuk bersama-sama membangun dan mengembalikan kejayaan tamadun Melayu.
Sejarah pembentukan LAMS berawal dari “Dialog Borneo” di Miri Serawak Malaysia, tahun 1986. Dialog tersebut melahirkan ide pembentukan Lembaga Adat Melayu (LAM). Selanjutnya, ide pembentukan Lembaga Adat Melayu kembali mengemuka dalam Simposium Dunia Melayu di Syah Alam Malaysia, 23-26 September 1996, yang dihadiri oleh para sejarawan, sastrawan, dan tokoh-tokoh dunia Melayu, seperti Prof. Dr. Iskandar Alisjahbana (Rektor ITB), H. Mawardi Rivai (Budayawan Kalimantan Barat), Prof. Dr. H. T. A. Ridwan (Budayawan Medan), H. Tengku Lukman Sinar Basarsyah II, SH. (Sejarawan Medan), Dr. Yusmar Yusuf (Ketua Pengembangan Bahasa dan Kebudayaan Riau), Drs. H. Ahmad Samin Siregar (Dekan Universitas Sumatra Utara), Louis Rajaonera (Penasehat PM Madagaskar), Dr. Cristian Ranaivoson (Dokter University Madagaskar), Al Haj Lt. Ak. Doray (Setia Usaha Sri Langka United Malay), Dr. Po Dharma (Ahli Sejarah Cham), Dr. Mohamed-Sheriff Jaldeen (Maboli Malay Association), Mboara Andrianarimanana (Majalah Feony Melina Madagaskar), TE. Sagara Amit (Sri Langka Malay Association), Dr. Hasan Madmara (Universiti Prinee Songkhla Pattani), Den Tohmeena (Penasehat Kementerian Pengangkutan Pattani), Tasneen Kalam (Setia Usaha Kehormatan Kebudayaan Melayu Afrika Selatan), Abraham Rohim (Jurutera Antarbangsa di California USA), M. Saheed Preena (Pemimpin Masyarakat Melayu Canada), H. Akli Laurie C.D (Presiden Islam Katanning Australia), H. Muhammad Nor Hassan (Presiden Persatuan Melayu Perth Australia), Dr. Ba Trung Phu (Ketua Museum Sejarah Ho Chi Minh Vietnam), Othman Hassan (Pengarah Melayu Kampucea), dan Prof. Dr. Dato Tan Sri Ismail Hussein (Sekretariat Antar Bangsa Malaysia).
Ide pembentukan LAM yang dihasilkan dari pertemuan di Syah Alam Malaysia tersebut, semakin mengkristal dalam pertemuan Masyarakat Melayu Serantau di Batam, 10 Desember 2000. Pertemuan ini menghasilkan beberapa rekomendasi, salah satunya adalah agar segera membentuk LAMS. Hadir dalam pertemuan di Batam di antaranya Dato Omar Bledram (Wakil Parlemen Labuan), Dr. H. Hisyam D. Hamid (Brunei Darussalam), Raja Hamzah Yunus (Pulau Penyengat, Kepri), Tengku Husein (Pulau Lingga), H. Mawardi Rivai (Kalimantan Barat), Prof. Dr. Nagasura Madale (Kepulaun Sulu Philippine), Masuri SN (Singapura), Prof. Soewardi (Pekanbaru), Erdin Odang (Sukadana-Ketapang), Prof. Dr. Maswardi Amin (Tambelan), dan Elyas Abdullah(Kuching Serawak).
Setelah sempat vakum beberapa tahun, atas prakarsa Prof. Dr. Chairil Effendi, Drs. H. Iswan, Abdi Nurkamil, dan A. Malik AY., serta dikoordinasikan dengan Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein, YAB Datuk Suhaili Abdurrahman, Prof. Dr. Datuk Abdullatief Abu Bakar, dan Ir. Prabasa Anantatur, pada tanggal 30 Desember 2009 memilih Kiyai Mangku Negeri H. Morkes Effendi, S.Pd, M.H, sebagai Sekretaris Jenderal LAMS. Setelah alat kelengkapan organisasi selesai disusun, tanggal 29 Mei 2009, LAMS dideklarasikan dan pengurusnya dilantik.
Duduk sebagai Dewan Petinggi Penasehat LAMS adalah: Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein (Kuala Lumpur), Prof. Dr. Chairil Effendi (Kalimantan Barat), Datok Sri Muhammad Ali Rustam (Melaka), Drs. Ismeth Abdullah (Kepulauan Riau), Ir. H. Eko Maulana Ali, M.Sc (Bangka Belitung), YAB Datuk Suhaili Abdurrahman (Labuan), H. Edy R Yacob, M.Si (Singkawang), H. Bando Amin C. Kadir, MM. (Lampung), Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid (Sambas), H. Ria Noorsan, MM., MH., (Mempawah), Ir. Prabasa Anantatur (Kalimantan Barat), Hildi Hamid, BE (Kayong Utara), H. Sutarmidji, SH. M.Hum. (Pontianak), Ir. H. Setiman H. Sudin (Sanggau), H. Abang Imien Taha (Kalimantan Barat), H. Darwin Muhammad (Kalimantan Barat), H. Sukiman, S.Pd (Malawi), Tuanku Lukman Sinar Basyarsyah II, SH. (Sumatra Utara), H. Mohd. Raman Daud (Singapore), dan Mahyudin Al Mudra, SH. MM. (Yogyakarta).
Menurut Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu yang sekaligus Pimpinan Umum MelayuOnline.com, Mahyudin Al Mudra, SH. MM., pembentukan LAMS sangat strategis. Keberadaannya, secara ideal, dapat menjadi jembatan masyarakat Melayu yang telah terkotak-kotakkan baik secara administrasi pemerintahan, batas-batas geografis, budaya, politik, maupun agama. Oleh karena itu, menurutnya, pendeklarasian sebenarnya tidak terlalu penting, yang terpenting adalah tindak lanjut dari deklarasi ini. ”Saya berharap, LAMS tidak seperti lembaga-lembaga Melayu lainnya yang begitu semarak saat pendeklarasian, tetapi kemudian hilang seperti ditelan bumi. Yang terpenting adalah tindak lanjut dari deklarasi ini,” ungkap Mahyudin yang pada acara deklarasi ditetapkan sebagai ”Tokoh Pemersatu Melayu Serantau” bersama Prof. Dr. Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein.