Wednesday, 10 June 2026   |   Wednesday, 24 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today : 4.554
Yesterday : 58.870
Last week : 227.151
Last month : 9.252.016
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

16 juni 2009 01:40

Situs Tempayan Lolo Gedang Ditemukan di Kerinci

Situs Tempayan Lolo Gedang Ditemukan di Kerinci

Kerinci, Jambi - Badan Arkeologi Nasional melakukan penggalian di situs Kuburan Tempayan Lolo Gedang di Desa Lolo Gedang, Kecamatan Gunung Raya, Kerinci, Minggu (14/6). Di situs yang berada di Bukit Meluang Desa Lolo Gedang itu ditemukan berbagai peninggalan masa lampau seperti tulang belulang manusia, bejana logam, dan batu yang digunakan untuk alat belah masa itu. Kemudian di situs yang diperkirakan berumur 400 ribu hingga 500 ribu tahun sebelum Masehi (SM) itu ditemukan juga perhiasan yang berbentuk logam trisula yang dihiasi liontin, mekara, batu opsidian, dan serpihan calsedion. Lokasi pengalian situs yang berjarak sekitar 4 km dari Desa Lolo Gedang itu berada di sebuah lahan seluas 5 hektar milik Afdalni Umar.

Kepala Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeolgi Nasional Jakarta, Dr Fadhilla Arifin Azis, yang berada di lokasi, mengatakan bahwa situs seperti itu sebelumnya sudah pernah ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia bahkan di Asia. Situs di Kerinci itu persis situs yang ditemukan di Asia. Situs tersebut merupakan peninggalan kehidupan masyarakat Astronesia. “Berumur sekitar 400 ribu-500 ribu SM,” ungkapnya.

Kubur tempayan yang ditemukan di Kerinci itu memiliki ciri khas tersendiri. Tempayan yang cukup besar tersebut dihiasi warna merah. Bahkan setiap tempayan yang ditemukan memiliki ciri khas tersendiri. “Itu merupakan peninggalan zaman neolitik,” ujarnya. Faddilla mengatakan, pihaknya akan mempelajari aspek sosial dan ekonomi masyarakat saat itu. Terutama di tempat tempayan yang ditemukan tulang-belulang. Ia menuturkan, tidak semua tulang-belulang yang ditemukan berada di dalam tempayan. Hanya tulang panjang seperti paha yang dimasukkan dalam tempayan tersebut.

Tulang yang berukuran pendek tidak ditemukan sama sekali. “Kita melihat tempayan yang diberi hiasan. Itu dapat menunjukkan tingkatan sosial masyarakat masa itu,” terangnya. Diperkirakan, lokasi situs yang berdekatan dengan sungai mengarah pada aspek ekonomi masyarakat masa itu. Mungkin sungai merupakan tempat pertukaran hasil bumi dengan peralatan lainnya.

Sementara itu, Ni Kemang Ayu Astuti, peneliti lainnya, mengatakan umumnya tempayan yang ditemukan dalam keadaan retak. Dia memperkirakan tempayan retak dipergaruhi faktor alam, seperti lokasi tanah yang subur membuat tumbuhan berkembang dengan baik, sehingga akarnya melaju ke lokasi tempayan dan mengenai tempayan hingga rusak. Selain itu, masa pembakaran tempayan juga tidak baik. “Masih ada tempayan yang hitam. Pembakarannya kurang bagus,” jelasnya. Ahli kimia itu juga mengatakan, tanah yang diletakkan di dalam tempayan akan diteliti oleh pihaknya, sehingga diketahui apa saja tumbuhan yang ada saat itu. Kemudian hasil penelitian tersebut akan dijadikan acuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Ni Kemang memperkirakan situs tersebut merupakan lokasi kuburan masyarakat saat itu. Di lokasi yang lainnya juga ditemukan tempayan yang berisi tulang manusia. Dariusman yang juga ahli arkelog menuturkan, pihaknya memperkirakan semua tempayan yang ditemukan di lokasi situs tersebut dibuat menggunakan hasil tanah dari letusan Gunung Kunyit yang berlokasi di Gunung Raya. Sementara itu, Afdalni Umar, warga yang menemukan situs, mengungkapkan bahwa situs pertama ditemukan pada 12 Oktober 2007. Saat itu dia menemukan enam tempayan. Lalu pada Agustus 2008, saat melakukan penggalian, dia menemukan batu beliung dan liontin. (Dipar Kusmi)

Sumber: http://www.jambi-independent.co.id
Kredit Foto: http://arkeologijawa.com


Read : 5.458 time(s).

Write your comment !