Sunday, 26 April 2026 |Sunday, 9 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 957
Today
:
16.245
Yesterday
:
23.172
Last week
:
7.342.256
Last month
:
101.098.282
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
31 juli 2007 06:08
Pelajar Riau Senang Sekolah di Singapura
Singapura- Suhu politik antara Singapura dan Republik Indonesia (RI) sempat memanas belakangan ini. Salah satu pemicunya adalah rencana latihan perang antara dua negara, perjanjian pertahanan dan penjualan pasir laut.
Namun panasnya suhu politik ternyata tak mempengaruhi pendidikan di kedua negara. Pelajar-pelajar Indonesia justru seakan berlomba-lomba untuk menimba ilmu di negeri White Lion itu. Sementara itu, Pemerintah Singapura sendiri seakan tak peduli dengan situasi politik. Mereka hanya memikirkan bagaimana pendidikan maju dan warga dunia berdatangan ke negeri mereka.
“Pendidikan di Singapura tak terpengaruh oleh suhu politik. Kita, kan tidak mengurus politik dan warga dunia lainnya yang ingin bersekolah atau kuliah di sini juga tak akan memikirkan suhu politik. Yang jelas, mereka yang ingin sekolah tidak akan dipersulit untuk masuk ke Singapura,” kata Magdalene Lee, Director Educition Services Singapore Education kepada rombongan wartawan di Singapura, akhir pekan lalu.
Rombongan wartawan yang berkunjung ke Singapura atas undangan Singapore Tourism Board mendapat banyak masukan tentang pendidikan dan pariwisata di negeri yang berpenduduk sekitar 3,2 juta itu. Karena penduduk yang sedikit, maka negeri ini mengajak masyarakat dunia untuk datang menimba ilmu di negeri mereka. Setelah tamat sekolah atau kuliah, merekapun diharapkan mengabdikan ilmunya selama tiga tahun di Singapura.
Magdalene pun menjelaskan, dari sekian banyak orang yang menuntut ilmu di negeri tersebut, Indonesia menempati urutan ketiga setelah Cina dan Malaysia. “Pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak datang dari Jakarta, Surabaya, Medan dan Pekanbaru,” sebutnya.
“Saya dapat belajar bahasa Inggris dengan baik di sini. Di Pekanbaru setelah menamatkan SMP di Santa Maria, saya sekolah di Orchid Parr Secondary Scohool (masih setingkat SMP) di kelas tiga,” ucap maria Anjeline Tidore, pelajar kelas III di sekolah Orchid Park Secondary School.
Dia menjelaskan, Matematika, Fisika, Kimia dan lainnya hampir sama seperti di Pekanbaru, bahkan pelajaran di Pekanbaru lebih tinggi dari Singapura. Cuma, di `negeri singa putih` itu, akunya, semua pelajarannya memakai bahasa Inggris. “Itulah kendalanya. Jadi saya harus mengikuti sekolah bahasa Inggris dulu,” bebernya.
Di sekolah, Maria mengikuti kelas exspress. Artinya kalau tidak ada kendala tahun depan bisa menyelesaikan studi di sekolah itu. Namun jika tak kuat mengikuti pelajaran, dia mengaku bisa diturunkan ke kelas normal. Disebutkannya, umumnya sekolah di Singapura lebih bagus dari Indonesia.
“Itu terletak pada sistem pelajarannya dan fasilitas sekolah,” sebut putri dari Yohanes ini. Di Singapura, Riau Pos juga bertemu dengan mahasiswa Indonesia, seperti Veronika dan Muwadi. Keduanya adalah mahasiswa The Tourism Academy Sentosa asal Batam.
Di negara ini, sambil sekolah, mereka mengaku juga bekerja paruh waktu. Artinya, usai jam sekolah, mereka bekerja di rumah makan atau hotel dengan gaji Rp35 ribu per jamnya.