Tuesday, 9 June 2026 |Tuesday, 23 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today
:
990
Yesterday
:
25.426
Last week
:
227.151
Last month
:
9.252.016
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
13 juli 2009 02:30
Junjung Seni Riau 2009 Menjawab Kerisauan
Pekanbaru, Riau - Helat Junjung Seni Riau 2009 merupakan jawaban dari kerisauan beberapa orang pelaku seni Kota Bertuah Pekanbaru sejak gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin dibangun di kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai). Apalagi sejak pembangunan secara fisik nyaris tuntas, pelaksanaan pagelaran seni pertunjukan teramat minim dilaksanakan di sana. Untuk mengawali geliat kreatifitas maka Yayasan Kesenian Riau berinisiatif mengumpulkan beberapa grup/sanggar seni untuk mementaskan karya-karya terbaiknya di gedung tersebut.
Awak Yayasan Kesenian Riau secara sadar amat menyadari bahwa pemanfaatan Anjung Seni Idrus Tintin bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah belaka, melainkan pemerhati, penikmat dan terutama seluruh pelaku seni Riau. Karenanya, guna menjawab kerisauan tersebut digelarlah karya-karya terbaik anak negeri dari perbagai percabangan seni pertunjukan seperti teater, musik dan tari, bahkan dua senirupa yakni lukisan dan foto secara periodik sejak Mei hingga Agustus mendatang. Paling tidak, sedikitnya delapan karya seni pertunjukan digelar di gedung tersebut, ditambah satu pameran senirupa. Bahkan hingga 11 Juli kemarin, sudah dipentaskan sedikitnya lima karya antara lain dua karya teater, dua karya musik dan satu karya tari.
Junjung Seni Riau sendiri saat ini merupakan sebuah even yang dimaksudkan untuk memberi ruang kepada para pengkarya kreatif Pekanbaru menggelar karya terbaru dan terbaiknya. Alasannya berawal dari sebuah informasi tentang banyaknya grup atau sanggar yang hendak menggelar pementasan secara sendiri-sendiri. Menangkap informasi dan kerisauan pengkarya tentang tidak memadai tempat menggelar karya masing-masing, maka Yayasan Kesenian Riau berinisiatif untuk menggabungkan mereka dalam satu even besar bernama Junjung Seni Riau 2009.
Upaya tersebut terbilang cukup baik, meski tidak bisa dimungkiri masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, terutama persediaan dana untuk pengadaan genset serta biaya produksi setiap karya yang dipentaskan. Menariknya, kekurangan tersebut justru menjadi cambuk yang kian memotivasi awak Yayasan Kesenian Riau untuk membenahi kekurangan yang belum juga teratasi hingga hari ini.
“Tidak bisa dimungkiri, pelaksanaan even Junjung Seni Riau 2009 ini berawal dari kerisauan kami soal pemanfaatan gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin yang selama ini kurang terperhatikan. Kebetulan pula beberapa seniman dan sanggar telah menjadwalkan pementasan karya-karya mereka dengan waktunya hampir berdekatan. Hasilnya, seperti yang bisa kita saksikan bersama sejak Februari hingga Agustus mendatang,” ulas Project Officier Junjung Seni Riau 2009 Benie Riaw, Kamis (9/7) lalu.
Lebih jauh dijelaskan Benie Riaw, terdapat beberapa nama dalam menggagas even tersebut seperti Benie sendiri, Willy Fwi, Hang Kafrawi, Bens. Setelah gagasan kasar mulai rampung, maka diundanglah beberapa pimpinan sanggar atau grup yang ada di Pekanbaru antara lain SPN Iwan Irawan Permadi, Hirfan Nur, Rino Dezapati, Dewi Ningsih, Rina Selembayung, Masteven Romus, Heri Budiman, Iwan Dona. Seluruh yang diundang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan terlihat hadir untuk pematangan gagasan tersebut. Ajang kumpul-kumpul ini kemudian menyepakati ditunjuknya Yayasan Kesenian Riau sebagai promotor kegiatan. “Namanya saja yang promotor, jangan dibandingkan dengan promotor yang sesungguhnya. Kami memulainya dengan modal nol rupiah. Kami bekerja dengan hati, Alhamdulillah yang terlibat di sini pendekar semua. The show must go on!” ujar Benie.
Hasil pertemuan tersebut ditindaklanjuti dengan kunjungan ke Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi Riau guna meminta dukungan pelaksanaan kegiatan tersebut. Rombongan seniman ini diterima langsung oleh Joni Irwan SH MH selaku kepala dinas. Dalam pertemuan tersebut Joni Irwan menyambut baik gagasan para seniman untuk menyelenggarakan helat Junjung Seni Riau 2009. Bahkan beliau bersedia menjembatani urusan yang berkaitan dengan Pemerintah Provinsi. “Alhamdulillah niat kami ini di-support Kadis. Beliau malah menyatakan salut akan gagasan kami ini. Paling tidak ini menjadi modal awal bergerak. Apalagi beliau membantu kami untuk mendapatkan izin pemakaian Anjung Seni Idrus Tintin,” lanjut musisi yang pernah mengeluarkan album bersama grup D`Sakai tersebut.
Berbekal izin dan dukungan pemerintah tersebut maka dicanangkanlah delapan karya pertunjukan dan dua pameran lukisan dan foto yang berlangsung dari bulan Mei hingga Agustus 2009 mendatang. Karya-karya yang akan ditampilkan secara periodik itu adalah “Cinta dan Presiden” produksi Riauberaksi (Teater-15, 16 Mei 2009), “Sagu Menggugat” produksi SAGU Band (Musik-29, 30 Mei 2009), “Seligi Tajam Bertimbal” produksi PLT. Laksemana (Tari-12, 13 Juni 2009), “Menyibak Waktu” produksi Griya Kreasi (Drama Musikal-26, 27 Juni 2009), “Star Light of Zapin Planet in Concert” produksi Riau Rhythm Chambers (Musik-10, 11 Juli 2009), “Perempuan-Perempuan” produksi HIMPUJASERI (Teater-24, 25 Juli 2009), “Tuah Negeri” produksi BI Production (Tari-7, 8 Agustus 2009), “Sang Kitab (Tafsir Sejarah)” produksi Hang Perkasa (Teater-14, 15 Agustus 2009), pameran lukisan karya Masteven (7, 8 Agustus 2009) dan pameran foto karya Heri Budiman (14, 15 Agustus 2009).
Berkaca dari berbagai pengalaman yang ditemui, selaku pelaku seni Benie Riaw mengharapkan ke depan sudah harus dibentuk badan pengelola yang tetap pada Anjung Seni Idrus Tintin tersebut. Hal ini dimaksudkan agar gedung tersebut dapat termanfaatkan dengan optimal. Selain itu soal perawatan dan pengaturan pemakaian gedung tersebut bisa lebih maksimal. Harus ada badan pengelola yang jelas terhadap gedung tersebut, sehingga gedung itu tidak terbengkalai. Sekarang saja masyarakat dan pelaku seni masih banyak yang belum tahu birokrasi pemakaian gedung tersebut. Dengan adanya badan pengelola, juga bisa dikontrol izin pemakaian gedung tersebut. Artinya jangan ada lagi kesalahan perizinan untuk kegiatan yang di luar konteks seni pertunjukan.
Lebih jauh Benie mengungkapkan, untuk satu produksi karya selama dua malam berturut-turut, promotor harus mengeluarkan biaya sebesar Rp38 juta hanya untuk dua malam pertunjukkan. Biaya yang terbesar dikeluarkan adalah biaya genset dan kurang lebih Rp150 juta untuk delapan produksi. Selain itu, diharapkan dari setiap produksi promotor harus menyediakan dana sebesar Rp20 juta dari hasil penjualan tiket. Untuk satu malam, dana yang harus dikeluarkan untuk pembelian solar genset mencapai Rp4 juta-Rp5 juta setiap malamnya, belum biaya operator, keamanan dan kebersihan. Maksimal dari perhitungan promotor untuk seluruh karya mencapai Rp600 juta. (ndi)