Monday, 21 April 2014   |   Monday, 20 Jum. Akhir 1435 H
Online Visitors : 1.104
Today : 4.545
Yesterday : 20.433
Last week : 148.067
Last month : 2.006.207
You are visitor number 96.618.589
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

12 agustus 2009 01:45

11 Budayawan dan Seniman Aceh Dapat Anugerah Budaya

11 Budayawan dan Seniman Aceh Dapat Anugerah Budaya

Banda Aceh, NAD - Sebanyak 11 tokoh masyarakat, budayawan, dan seniman Aceh mendapat penghargaan Anugerah Budaya dari Pemerintah Aceh atas prakarsa dan pengabdiannya dalam upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan Aceh. Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan pada Malam Anugerah Budaya yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Senin (10/8) malam. Hadir pada acara ini antara lain Wakil Gubernur yang juga Ketua Panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V Muhammad Nazar dan para pemerhati budaya.

Berdasarkan hasil seleksi dewan juri, sebanyak tujuh orang berhak memperoleh anugerah seni budaya Meukuta Alam dan diserahkan oleh Wagub Muhammad Nazar adalah, Pocut Haslinda Syahrul (sejarah kebudayaan dan tamaddun Aceh), Said Akram (pelukis/kaligrafi), Alm Mayjen T Hamzah Bentara (penggagas PKA), Drs Marzuki Hasan (seni tari dan kereografer), Mahdi Abdullah (pelukis/seni rupa), Alm Khairul Bahri (pencipta logo Pancacita lambang Pemerintahan Aceh), dan Alm Syekh Lah Bangguna (seni tari tradisional/seudati). Sedangkan empat orang lainnya memperoleh anugerah budaya Tajul Alam yaitu, Alm Muklis (seni musik Aceh modern) yang dikenal sebagai penyanyi lagu Nyawoeng, Fikar W Eda (sastra modern), TA Sakti (seni tradisional), dan Nyak Puteh (penulis al-Quran).

Para budayawan yang naik ke atas panggung untuk menerima anugerah tersebut memang sangat kontras dengan PKA-4. Pada PKA empat tahun lalu mereka yang menerima anugerah tersebut didandani oleh panitia dengan pakaian kebesaran adat Aceh yang tampil begitu gagah dan berwibawah. Adapun dewan juri yang melakukan seleksi tersebut diketuai oleh Prof Dr M Hasbi Amiruddin MA dengan Sekretaris, Drs Yusafli MA dan dibantu lima orang anggota yaitu, Badruzzaman SH MHum, Drs Rusli Sufi, Drs Abdurrahman Kaoy, Prof Dr Misri A Muchlis MA, dan Drs Asli Kesuma.

Fakta Sejarah

Sebelumnya, Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar dalam pidato sambutannya mengatakan, masa keemasan Aceh yang pernah diukir pada abad ke-13 merupakan fakta sejarah tak bisa dilupakan dan sekaligus harus menjadi pemicu untuk membangun kembali kejayaan tersebut. “Tapi, masa keemasan tidak boleh sekedar romantisme, di mana kita tidak bisa menghasilkan apa-apa,” kata Wagub Muhammad Nazar mengingatkan. Menurut Wagub, kadang masyarakat Aceh tidak punya spirit untuk membangun kembali masa keemasan tersebut akibat konflik yang terus melanda daerah ini terus menerus selama ini. “Berkat keisalaman yang dimiliki masyarakat Aceh, akhirnya konflik ini mau diselesaikan untuk menata kembali masa keemasan yang pernah diraih,” ujar Nazar.

Akibat konflik memang meninggalkan luka dan kekecewaan, tetapi hal tersebut tidak perlu terjadi. “Nestapa konflik tidak boleh hadir kekecewaan dan kita tidak boleh mudah terluka. Yang perlu ada saat ini dalam semua jiwa dan raya masyarakat Aceh bagaimana kita mengembalikan masa keemasan yang pernah diaraih pada abad 13,” ungkap Nazar penuh semangat. Budaya merupakan salah satu spirit untuk membangun Aceh kedepan. Maka untuk itu semua pihak harus melestarikan budaya dan peradabanan yang telah ada lewat pembangunan yang akan dilakukan dalam tatanan masyarakat. “Dengan membangun seni budaya yang ada, tentunya akan mampu mendorong datangkan wisatawan ke Aceh. Kalau ini terjadi maka sektor ekonomi akan tumbuh lewat pariwisata,” pungkas Muhammad Nazar. (sup)

Sumber: http://www.serambinews.com
Kredit Foto: http://www.serambinews.com


Read : 2.616 time(s).

Write your comment !