Tuesday, 19 May 2026   |   Tuesday, 2 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 0
Today : 6.059
Yesterday : 25.387
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

15 agustus 2009 04:04

Sultan Mempawah: Kembali ke Jati Diri Bangsa

Perhelatan Daulat Tuanku Raja Mempawah
Sultan Mempawah: Kembali ke Jati Diri Bangsa

Mempawah, Kalbar - Untuk meningkatkan ketahanan nasional, salah satu pilar yang harus diperkuat adalah budaya. Pilar ini dapat kokoh bila peran keraton mampu difungsikan sebagai simpul sosio-kultural bagi masyarakat. Ke depan, keraton harus memposisikan diri sebagai tempat pemersatu dari keberagaman etnik, agama, dan kepercayaan. Dengan kata lain, keraton harus mampu menjadi rumah budaya untuk memanusiakan manusia sehingga bisa kembali ke fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi dan menjadikan adat-stiadat sebagai pola pandang dalam menjalani kehidupan manusia yang hakiki.

Demikian diungkapkan Raja Kesultanan Mempawah, Pangeran Ratu Mulawangsa Dr Ir Mardan Adijaya Msc, saat memberi kata sambutan dalam acara Daulat Tuanku Raja Mempawah di Istana Amantubillah, Kalimantan Barat (Kalbar), Selasa (12/8). Acara itu sendiri dihadiri oleh Wakil Walikota Pontianak, Paryadi SHut, Bupati Pontianak Drs H Ria Norsan MM MH, perwakilan Polres Pontianak, Kejari Mempawah, Kodim 1202 Mempawah, serta para tamu dari sejumlah kerajaan se-Nusantara.

Mardan menjelaskan, mengembalikan fungsi keraton sebagai rumah yang nyaman bagi rakyatnya jangan disalahartikan sebagai upaya membangun kembali semangat feodalisme. Sebaliknya, upaya tersebut merupakan bagian dari penghargaan atas sejarah, tradisi, dan budaya. Di zaman kerajaan dulu, lanjutnya, kehidupan masyarakat Kalbar terbilang sangat harmonis. Pola hidup saling hormat menghormati yang mengakar di dalam kehidupan masyarakat waktu itu terus berkembang hingga ke negara bagian Sabah dan Sarawak (Malaysia) serta Brunei Darussalam.

Indikasi terbentuknya kembali ikatan paguyuban (gemeinschaft) yang mengacu pada primordialisme, dan kelompok-kelompok patembayan (gesselschaft) yang lebih mengarah pada profesionalisme di lingkungan masyarakat perkotaan (urban area). Kendati tampak berseberangan, namun secara struktur sosial hal tersebut menciptakan sebuah keselarasan nilai antara unsur tradisionalisme dan modernisme. “Keduanya mampu hidup berdampingan dalam struktur masyarakat, baik secara fisik maupun psikologis,” katanya.

Secara historis, lanjut Mardan, sentra-sentra sosial budaya (simpul sosio-kultural) itu diaktualisasikan ke dalam bentuk keberadaan istana atau keraton, misalnya Istana Amantubillah di Mempawah. Keberadaannya merupakan salah satu bentuk dari simpul sosiokultural kemasyarakatan. Di sisi lain, di Kalbar tidak mengenal adanya budaya dominan, sehingga pola interaksi masyarakatnya cenderung kepada proses amalgamasi. Bila dikaji lebih jauh, sejarah berdirinya keraton-keraton di Kalbar umumnya mencerminkan suatu amalgamasi budaya dari berbagai etnis besar yang ada di nusantara serta dari luar. “Karenanya, keraton atau istana lain yang ada di Kalbar banyak memiliki kesamaan dalam adat-istiadatnya sehingga antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya ada keterkaitan kekerabatan,” ujar Mardan.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Kegiatan Keraeng Ulubalang Syaipul Ansari menambahkan, panitia memperdengarkan lima lagu daerah ciptaan Raja Mempawah. Kelima lagu tersebut adalah Mahkote Ratu Pasundan, Sejati Diri Manusia, Berdaulat Tuanku, Senandung Opu Berlima, dan Panglime Sejati. Kelima lagu karya Sultan Mempawah itu diilhami dari tema kegiatan, yakni ”Bangsa Beradab Berpegang Teguh pada Adat, Bangsa Bermarwah tak Lupa Sejarah”.

Perhelatan Daulat Tuanku Raja Mempawah di Istana Amantubillah itu sendiri merupakan acara peringatan tujuh tahun dipegangnya tampuk Kesultanan Mempawah oleh Pangeran Ratu Mulawangsa Dr Ir Mardan Adijaya Msc. Dalam acara yang sama, Sultan Mempawah juga menganugerahkan sejumlah gelar kehormatan kerajaan kepada 35 tokoh yang dinilai berjasa bagi Kesultanan Amantubillah Mempawah serta untuk bangsa dan negara Indonesia. Beberapa tokoh daerah dan nasional yang mendapat anugerah kehormatan antara lain: Bupati dan Wakil Bupati Sambas (Burhanuddin A Rasyid dan Djuliarti H Djuhardi), Wakil Ketua DPRD (Eka Kurniawan), Sekjen Lembaga Adat Melayu Serantau (Morkes Effendi), Wakil Bupati Sintang (Jarot Winarno), Mantan Menteri Sekretaris Negara (Yusril Ihza Mahendra), dan beberapa tokoh lainnya. Penganugerahan gelar kehormatan ini disaksikan langsung oleh sejumlah keturunan lima Opu Bersaudara (Opu Daeng Manambon, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Merewa, Opu Daeng Kamase, dan Opu Tenri Borong Daeng Rilakka) baik yang ada di Kerajaan Pulau Penyengat, Kerajaan Selangor, serta Kerajaan Brunei Darussalam. Turut menyaksikan juga Raja Kerajaan Pagaruyung, serta Raja Kerajaan Jailolo Ternate.

Setelah sesi penganugerahan gelar selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan deklarasi pembentukan Pemuda Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS). Deklarasi ini ditandai dengan pembacaan ikrar Pemuda LAMS oleh Iskandar M Haris yang didampingi oleh H Samsul Rizal dan M Sabran Achyar.

“Secara keseluruhan, rangkaian acara Daulat Tuanku ini dimulai Senin (11/8) malam dengan prosesi Toana. Di acara tersebut, sejumlah kerabat akan dianugerahi gelar kebangsawanan. Paginya, keluarga besar Keraton Amantubillah Mempawah bersama Laskar Amantubillah Mempawah akan melakukan kirab air,” terang Syaipul. Kegiatan yang juga mengikutsertakan segenap masyarakat kota Mempawah ini terbilang istimewa karena dilakukan dengan mengendarai kapal motor dengan rute menyusuri Sungai Mempawah. Setelah menggelar kirab air, seluruh rombongan akan mengikuti gelaran pesta rakyat. Kegiatan ini diharapkan  berlangsung meriah karena menghadirkan beragam kegiatan olahraga tradisonal. (Pringgo/Kontributor Kalimantan Barat)


Read : 4.483 time(s).

Write your comment !