Tuesday, 5 May 2026 |Tuesday, 18 Dzulqaidah 1447 H
Online Visitors : 3.099
Today
:
38.879
Yesterday
:
26.680
Last week
:
192.091
Last month
:
15.288.374
You are visitor number 105.216.314 Since 01 Muharam 1428 ( January 20, 2007 )
AGENDA
No data available
News
19 sepember 2009 02:00
Hormati Tradisi Suku Boti
Kupang, NTT - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya, meminta semua elemen masyarakat agar tidak memandang tradisi yang masih tetap dipertahankan komunitas suku Boti sebagai hal asing di tengah perubahan zaman dewasa ini. "Komitmen komunitas suku Boti dalam mempertahankan warisan leluhur hingga saat ini, justru merupakan keaslian bangsa Indonesia yang harus tetap dijaga dan dilestarikan dan dihormati," kata Gubernur Lebu Raya di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekitar 160 timur Kupang, Kamis.
Dia mengemukakan hal itu, ketika menghadiri upacara pesta adat untuk mengenang, memberi penghormatan terakhir sekaligus mengakhiri berkabung bagi almarhum Raja Boti Nune Benu yang meninggal pada 20 Mei 2005 dan penobatan Namah Benu sebagai pewaris ke-8 Raja Boti. Dalam tradisi suku Boti, hari berkabung bagi sang raja yang meninggal dunia biasanya berlangsung selama 1040 hari. Pesta adat ini sudah berlangsung sejak 27 Juli dan baru akan berakhir pada 21 September. Selama pesta adat berlangsung, puluhan hewan sudah dipotong untuk memberi makan kepada para tamu.
Gubernur menambahkan, banyak keunikan yang bisa ditemui di perkampungan Boti. Komunitas yang menghuni desa itu masih tetap menggunakan piring, gelas, dan sendok dari tempurung kelapa untuk makan dan minum. Peralatan yang digunakan untuk ambil air pun bukan dari ember seperti di perkotaan tetapi menggunakan bambu. Begitu pun tempat penyimpanan makanan semuanya dibuat dari anyaman bambu.
Keunikan lain yang ada di suku Boti adalah memiliki hari kelender sembilan hari dalam seminggu. "Ada hari bumi di mana pada hari itu semua masyarakat dilarang tidak boleh menebang pohon apalagi merusak hutan," kata Gubernur Lebu Raya. Ada juga hari perdamaian dimana pada hari itu, warga tidak boleh saling berkelahi dan bagi mereka yang salah paham, semuanya diselesaikan pada hari itu di rumah adat tanpa ada denda. Keunikan lain yang tidak kalah menarik adalah mereka memiliki salah satu hari dari sembilan hari kelender dalam seminggu itu sebagai hari anak. “Pada hari itu para orang tua tidak boleh memarahi anak-anak, apalagi memukul,” kata Lebu Raya. “Hal ini berarti, tradisi yang masih tetap dipegang teguh oleh komunitas suku Boti merupakan kebudayaan asli bangsa ini sehingga harus tetap dijaga dan dipelihara,” katanya.
Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli Pulau Timor, Atoin Meto. Wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari SoE, ibu kota Kabupaten TTS. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman. Suku ini memiliki bahasa Dawan sebagai bahasa pergaulan. Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika.
Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia. (JY)