Wednesday, 20 May 2026   |   Wednesday, 3 Dzulhijah 1447 H
Online Visitors : 2.110
Today : 25.276
Yesterday : 25.387
Last week : 249.195
Last month : 15.288.374
You are visitor number 105.216.314
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

29 oktober 2009 03:30

Kesenian Tradisional Islami Perlu Direvitalisasi

Kesenian Tradisional Islami Perlu Direvitalisasi

Yogyakarta - Khazanah kesenian tradisional yang Islami perlu direposisi dan direvitalisasi karena bisa menjadi pendukung syiar Islam, kata pengamat seni budaya dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta Drs Jabrohim MM.

"Kesenian tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, malah dapat dijadikan media dakwah kultural atau dakwah melalui kesenian, khususnya bagi Muhammadiyah," katanya pada orasi seni "Tegur Sapa Budaya" di auditorium UAD Yogyakarta, Rabu.

Ia mengatakan Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Namun dalam perjalanan dakwahnya, Muhammadiyah melalui program atau gerakan pemurnian ajaran Islam pernah dituduh sebagai organisasi yang tidak ramah terhadap seni.

"Banyak kritikan yang menyatakan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi yang tidak ‘bersahabat‘ terhadap kebudayaan, khususnya budaya lokal termasuk kesenian tradisional," kata Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) UGM itu.

Kondisi itu, menurut dia, menumbuhkan sikap ketidaktertarikan warga Muhammadiyah terhadap kesenian terutama kesenian tradisional. Mereka terlalu khawatir kebudayaan lokal akan menodai agama Islam.

"Padahal, jika kita menengok perjalanan Islam di Jawa pada masa lalu telah terbukti betapa dekatnya Islam dengan kebudayaan," katan mantan Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) UAD itu.

Ia mengatakan Sunan Kalijaga telah menggunakan cerita wayang sebagai media berdakwah. Tembang "lir-ilir" gubahan Sunan Kalijaga yang begitu religius merupakan bukti kedekatan antara kesenian dengan syiar Islam.

"Dalam konteks itu selama ini telah terjadi peminggiran terhadap khazanah budaya lokal yang dilakukan masyarakat Islam termasuk Muhammadiyah," kata Ketua Bidang Sastra Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.

Menurut dia begitu apriorinya terhadap kesenian, sehingga kesenian tradisional yang bernuansakan Islam seperti shalawatan, angguk, kubrasiswa, dan hadrah juga ikut terpinggirkan.

"Padahal kesenian tradisional tersebut bukan semata-mata hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki muatan pendidikan atau dakwah yang cukup signifikan," katanya.

Sumber: http://www.antaranews.com
Kredit Foto: https://ethnojourneys.com


Read : 2.576 time(s).

Write your comment !