Selasa, 27 Juni 2017   |   Arbia', 2 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 5.105
Hari ini : 42.328
Kemarin : 30.666
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.712.591
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



08 februari 2010 00:07

Kuliner Riau yang Memanjakan Selera

Kuliner Riau yang Memanjakan Selera

Judul Buku
:
Ragam Kuliner Melayu
Penulis
:
Pengurus Tim Penggerak PKK dan PW BKMT Provinsi Riau
Penerbit:
Tim Penggerak PKK Provinsi Riau dan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Riau bekerjasama dengan BKPBM, Yogyakarta.
Cetakan
:
I, 2007
Tebal
:
xxxiii + 321 halaman
 

Dalam berbagai perhelatan jamuan, misalnya acara-acara spesial baik hari raya, hari ulang tahun, pernikahan, maupun acara-acara rutin bulanan seperti arisan, pengajian, atau pertemuan-pertemuan PKK, seringkali membuat kita kerepotan menetapkan masakan apa yang layak untuk disajikan. Makanan beratkah, ringan, atau kue-kue ala kadarnya? Bila waktu dan kesibukan tidak memungkinkan untuk memasaknya, acapkali kita mengambil cara paling praktis, yaitu angkat telepon dan memesan makanan yang kita butuhkan. Ini adalah cara instan paling praktis yang dilakukan hampir semua orang. Hanya dengan memencet nomor telepon, memesan makanan sesuai ‘kocek‘, dan tinggal menunggu hantaran. Kita hanya perlu menata perjamuannya agar terlihat cantik dan sedap dipandang.

Sayangnya, tidak semua event kita bisa mengandalkan jasa orang lain. Beberapa event menuntut kita untuk terampil mengolah makanan sendiri. Khusus perhelatan pada jamuan di hari lebaran, rasanya tidak mungkin mengandalkan katering untuk memesan makanan. Cara paling bijak dan hemat ialah membuka buku resep dan mulailah untuk memasak.

Buku Ragam Kuliner Riau tepat menjadi rujukan dan uji coba beragam masakan baru selera Melayu. Anda tak perlu bingung-bingung menyajikan masakan yang cocok dalam perhelatan besar, maupun acara-acara kecil seperti arisan, atau bahkan sekedar menghidangkan menu spesial bagi suami tercinta. Buku resep ini dapat dikatakan sebagai buku kumpulan resep masakan Melayu paling lengkap saat ini. Dengan tebal 321 halaman, buku ini memuat sebanyak 623 aneka resep yang terbagi dalam 13 kelompok menu.

Sebagai menu pembuka, tersaji aneka olahan nasi. Ada ”Nasi Briani”, “Nasi Lemak”, “Nasi Rendang”, “Nasi Tomat” dan sebagainya. Anda bisa memilih salah satunya untuk dihidangkan kepada keluarga, teman, atau rekan kerja. Sajian nasi yang paling terkenal di kawasan Melayu ialah nasi lemak. Namun, nasi lemak Riau ini ternyata berbeda dengan nasi lemak ala Malaysia atau Singapura.

Di Malaysia maupun Singapura, nasi lemak serupa dengan nasi rames yang disajikan terbungkus daun pisang, dimasak dengan santan, dilengkapi ikan goreng sebesar ibu jari, oseng-oseng tempe dan teri, serta separuh telur dadar atau ceplok. Rasanya pun tak jauh berbeda dengan nasi rames, namun lebih gurih karena dimasak dengan santan. Bahkan, kemasannya yang kecil mengingatkan kita pada ‘nasi kucing‘ ala Yogyakarta yang porsinya memang disesuaikan dengan porsi perut kucing. Paling tidak, cukuplah untuk sekedar mengganjal perut.

Berbeda dengan nasi lemak ala Malaysia maupun Singapura, nasi lemak ala Melayu Riau justru terbuat dari pulut (ketan) yang dimasak dengan santan dan disajikan dengan inti (olahan kelapa parut). Nasi lemak Melayu Riau ini pun tidak setiap saat dihidangkan. Ada momentum tertentu dalam pembuatan nasi lemak ala Riau ini, di antaranya ialah waktu menugal ladang.

Untuk melengkapi nasi pada jamuan spesial, beberapa menu khas Melayu Riau perlu kita pilih. Di antaranya terdapat aneka macam gulai. Ada resep ”Gulai Asam Pedas Baung”, ”Gulai Ikan Salai (asap) Semalam”, serta yang paling khas ialah “Rendang” Riau dengan beragam olahan yang rasanya tak jauh berbeda dengan rendang Padang. Jika khawatir dengan makanan berkolesterol tinggi, Anda dapat mencoba resep-resep olahan ikan yang dipanggang, dibakar atau dipepes, misalnya “Panggang Paluik Ikan Kepiyek”, “Sate Lilit”, atau “Palai (pepes) Ikan Patin”. Untuk menu-menu tersebut di atas, Anda dapat membuka halaman 13 sampai halaman 96.

Menu paling spesial dan banyak digemari di kawasan Melayu ialah olahan ikan patin. Anda tak perlu mengeluarkan kocek dalam jumlah besar untuk menikmati hidangan ikan patin sekelas restoran-restoran mahal. Cukup membuka halaman 75 di buku resep ini, dan cobalah untuk memasaknya. Dijamin rasanya tak kalah lezat dibandingkan dengan olahan tangan-tangan terampil para chef. Itu dikarenakan rasa ikan ini sangat lezat dibanding jenis ikan lainnya. Berikut resep ”Palai Ikan Patin” atau Pepes Ikan Patin dalam buku ini:

  • 1 kg ikan patin
  • 4 buah cabe merah
  • 3 siung bawang putih
  • 4 buah bawang merah
  • 2 butir kemiri goreng
  • 1 buah tomat potong
  • 2 lembar daun salam
  • 1 batang sarai
  • garam secukupnya

Cara membuatnya pun cukup mudah. Ikan patin dibersihkan, beri garam sedikit dan air jeruk nipis. Diamkan + 10 menit. Kemudian, bumbu digiling halus, masukkkan daun salam, serai, tomat, aduk hingga merata. Ambil daun pisang, masukkan ikan dan bumbu lalu bungkus dan sematkan dengan lidi. Kukus selama + 25 menit, bakar sebentar, lalu hidangkan.

Bagi para vegetarian, berbagai varian olahan sayur bisa menjadi alternatif pilihan. Dalam buku ini, terdapat 34 macam ragam menu sayur-mayur dengan olahan yang sangat variatif, menyehatkan, dan bercita rasa khas Melayu. Ada ”Buntil Daun Talas” yang mirip dengan buntil ala Jawa Tengah, ”Doda Pucuk Ubi” yang mirip urap ala Jawa Timur, ”Sayur Santan Telor Pecah Daun Katu” yang dapat memperlancar ASI bagi ibu-ibu menyusui, serta olahan sayur lainnya. Untuk ibu hamil yang menyenangi makanan asam-asam, tersedia pula aneka asinan (hlm. 149). Jika Anda memiliki anak kecil yang mudah bosan dengan sayur-mayur, Anda dapat mengganti menu dengan mencoba aneka “Soto dan Sup Spesial”, atau sesekali memasak “Mie dan Bakso” (hlm. 121—146).

Apabila Anda penggemar sambal, buku ini menyajikan 21 aneka resep sambal mulai dari “Sambal Koboy Ikan Basa”, “Sambal Bilis” “Sambal Lado Terung Asam”, ”Sambal Poyah”, hingga Sambal Teri Terasi” yang aromanya sangat menggugah selera (hlm. 169—178). Beragam rasa dapat Anda coba, tapi yang paling mak-nyus ialah ”Sambal Teri Terasi”. Rasanya mantap sekali, campuran antara pedas, asin, dan manis bersatu-padu.

Setelah perut terasa kenyang dan mulut kepedesan, tidak sempurna rasanya jika tidak mencoba minuman khas Melayu Riau yang sangat populer, ”Laksamana Mengamuk”. Bahan-bahan dalam minuman terdiri dari buah kuini/ambacang yang dicincang, dicampur santan dengan sedikit garam dan gula. Rasanya sangat segar, apalagi jika disajikan dengan campuran es batu. Sebagai minuman spesial khas Melayu Riau, tak mengherankan jika minuman ini selalu disajikan dalam perhelatan dan perjamuan tingkat tinggi, seperti dalam pesta-pesta, perjamuan pejabat, hingga acara kenegaraan. Masih banyak variasi minuman lainnya dalam buku ini. Anda dapat membuka resep minuman di halaman 185 hingga 197.

Jika ingin menghemat uang dan agar anak-anak tidak sering jajan di luar rumah, maka Anda sangat dianjurkan untuk membuka halaman 201. Di halaman itu tersaji beragam resep kue atau dalam bahasa Riau disebut kuih muih. Ada 285 macam resep kue yang dapat dicoba. Ratusan jenis kue tersebut akan memanjakan selera Anda.

Sesungguhnya, resep-resep yang dimuat di buku ini umumnya berupa masakan/makanan suguhan harian yang dapat dijumpai di rumah-rumah, kedai, restoran, bahkan di hotel. Meski olahan dan cita rasanya mengikuti cita rasa lokal, namun terdapat pula masakan/makanan yang berasal dari tempat lain akan tetapi sudah menjadi menu sehari-hari di Riau. Tentunya, olahannya sudah berbeda dengan cara pengolahan dari daerah asalnya. Mak nyus-nya pun mengikuti selera lidah Melayu Riau yang tak lepas dari cita rasa asam-pedas.

Selain ibu rumah tangga, buku ini sengaja ditujukan untuk generasi muda agar mengenal ragam kuliner masakan Melayu Riau, sehingga tak tergiring oleh fenomena dan tren fast food atau masakan impor lainnya. Cita rasa masakan impor kontras dengan kuliner lokal yang kaya akan bumbu rempah-rempah. Itulah sebabnya, cita rasa masakan lokal Indonesia terasa lebih ”menggigit” dan menggungah selera. Selamat mencoba!

Oleh : Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)
Dibaca : 16.024 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi