30 maret 2009 00:07
Telaah Kritis Sumber-sumber Pribumi
Judul Buku
| : | Perang, Dagang, Persahabatan; Surat-surat Sultan Banten
|
Penulis
| : | Tutik Pudjiastuti
|
| Penerbit | :
| Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
|
Cetakan
| :
| Pertama, Juli 2007 |
Tebal
| :
| xxiii + 332 halaman |
Buku ini menyajikan untuk pertama kalinya sebuah studi yang luas mengenai dua jenis sumber pribumi (indigenous sources) tentang Banten. Kedua jenis teks itu, yang berasal dari abad ke-17 sampai ke-19, adalah Surat-surat Sultan Banten (SSB) dan naskah historiografi tradisional Banten yang disebut Babad Banten atau Sajarah Banten (SB).
Penulis buku ini, Titik Pudjiastuti—dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia—adalah seorang filolog dan kodikolog Indonesia terkemuka yang sudah lama berkecimpung dalam studi pernaskahan Banten. Disertasi doktoralnya, Sadjarah Banten; Suntingan Teks dan Terjemahan Disertai Tinjauan Aksara dan Amanat yang dipertahankannya di Universitas Indonesia tahun 2000, membahas secara mendalam aspek filologis, kodikologis, dan historis salinan-salinan naskah SB.
Buku ini adalah hasil studi postdoktoral penulisnya yang tampaknya terus bertekun meneliti khazanah pernaskahan Banten. Studi ini dibiayai oleh The Toyota Foundation, suatu yayasan nirlaba Jepang yang telah banyak membiayai penelitian mengenai berbagai aspek kebudayaan dan sejarah suku-suku bangsa di Asia Tenggara.
Kerja keras Titik Pudjiastuti menyigi lipatan-lipatan arsip di berbagai perpustakaan di dunia—mulai dari Jakarta sampai ke Kopenhagen—dan ketekunannya mentransliterasikan pucuk demi pucuk SSB dari aksra Jawa, Jawi, dan Pegon ke aksara Latin dan kemudian menerjemahkan surat-surat yang berbahasa Jawa dan Arab ke dalam Bahasa Indonesia yang memungkinkan pembaca umum kini dapat memahami isinya, patut diacungi jempol. Hasilnya, seluruh SSB dan salinan-salinan naskah SB yang tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia kini `terkumpul` dalam buku ini untuk dipersembahkan kepada pembaca Indonesia.
Agaknya tidak berlebihan jika Indonesianis M.C. Ricklefs yang menulis Prakata untuk buku ini mengatakan bahwa hasil penelitian Titik Pudjiastuti ini memberi sumbangan yang amat berarti bagi studi sejarah (lokal) Indonesia, khususnya sejarah Jawa dan sejarah Banten pada abad ke-18 dan 19 (hlm.vii).
Organisasi buku ini disusun mengikuti dua genre tersebut: bagian pertama membahas SSB; bagian kedua membahas salinan-salinan naskah SB. Didahului oleh sebuah bab pendek yang mendeskripsikan secara umum studi-studi terdahulu tentang Banten (Bab 1, hlm. 1-8), penulisnya kemudian sampai ke Bab 2 (hlm. 9-217) di mana ia membahas berbagai aspek SSB yang meliputi 54 pucuk surat peninggalan Kesultanan Banten yang sekarang tersimpan di beberapa perpustakaan utama di Indonesia, Inggris, Denmark, dan Belanda.
Surat-surat tersebut dikategorikan menjadi 3 kelompok: surat-surat dari Sultan Banten (30 pucuk); surat-surat dari bangsawan Banten (19 pucuk); surat-surat yang diterima sultan-sultan Banten dari para sahabat atau sekutunya di luar negeri dan dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda (5 surat).
Bab 2 dibagi atas tiga bagian: Bagian A mendeskripsikan panduan transliterasi dan terjemahan SSB; Bagian B berisi deskripsi masing-masing surat yang meliputi: informasi mengenai aspek kodikologis dan nama perpustakaan yang menyimpan surat, reproduksi foto surat (sebagian berwarna), dan transliterasinya dalam aksara Latin. Deskripsi dimulai dari surat yang bertarikh paling tua dan diakhiri dengan yang bertarikh paling muda; Bagian C menyajikan analisis terhadap bentuk, isi, bahasa, aksara, bahan tulis (kertas), dan iluminasi surat-surat tersebut.
SSB, yang umumnya ditulis di atas kertas buatan Eropa, memperlihatkan keragaman dalam aspek bahasa dan aksara yang digunakan. Beberapa surat, yang ditulis di atas kertas bergambar dasar bunga popi bermotif sulur dan tangkai bunga cengkeh, dihiasi dengan iluminasi yang bagus.
Mengutip disertasi Mu`jizah yang membahas bentuk, isi, dan makna simbolik surat-surat klasik Nusantara beriluminasi (Universitas Indonesia, 2006), penulis mengatakan bahwa motif sulur dan bunga popi adalah simbol hubungan manusia dan Tuhan, dan motif tangkai bunga cengkeh adalah simbol keakraban.
Isi SBB mengandung unsur politik dan peperangan, perdagangan, dan hubungan persahabatan. Dari seluruh surat yang dibahas, 21 pucuk di antaranya beraksara Jawi dan berbahasa Melayu; 8 pucuk beraksara Pegon dan berbahasa Melayu; 3 pucuk beraksara Pegon dan berbahasa Jawa; 10 pucuk beraksara Arab dan berbahasa Arab (dialek standard [fushā] dan dialek pasar [`āmmiyah]); 3 pucuk beraksara Jawa dan berbahasa Jawa; 7 pucuk beraksara Jawa dan berbahasa Melayu; 1 pucuk beraksara Latin dan berbahasa Melayu; dan 1 pucuk beraksara Latin dan berbahasa Denmark.
Keragaman aksara dan bahasa yang dipakai dalam surat-surat tersebut merefleksikan peran penting yang telah dimainkan oleh Kesultanan Banten di bidang ekonomi dan politik di masa lalu, baik dalam konteks regional maupun internasional. Sebagaimana telah diungkapkan dalam banyak studi mengenai Banten—lihat misalnya yang paling baru karya Atsusi Ota, Changes of Regimes and Social Dynamics in West Java: Society, State and the Outer World of Banten (Leiden: Brill, 2006)—bahwa Kesultanan Banten termasuk salah satu kerajaan lokal Nusantara awal yang berhasil meraih kejayaan di bidang ekonomi dan politik berkat pelabuhan lautnya yang bagus. Paling tidak pelabuhan Banten sejak abad ke-16 telah ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari Cina, negeri-negeri Arab, dan Eropa.
Isi dan kolofon SSB menunjukkan bahwa paling tidak sejak abad ke-17 Kesultanan Banten telah mengadakan kont(r)ak politik dan ekonomi dengan dunia luar, termasuk Eropa. Tampaknya negeri Eropa pertama yang dikontak oleh Kesultanan Banten adalah Kerajaan Inggris, sebagaimana dapat dikesan dalam surat yang tertua di antara seluruh surat yang dibahas.
Surat itu, yang bertarikh 1605, dikirim oleh Badan Perwalian Sultan Banten Abdul Kadir kepada Raja Inggris James I. Surat itu, yang disertai dengan dua buah hadiah yang disebut faizar, berisi ucapan selamat dari Sultan Banten kepada Raja James I atas penabalannya sebagai Raja Inggris pada tahun 1603. Sekarang surat itu tersimpan di Public Record Office, London, dengan kode PRO SP 102/4/8 (hal.13-16).
Surat termuda bertarikh 1819, yaitu surat dari Komisaris Hindia Belanda Cornelis Theodorus Elout yang dikirimkan kepada Sultan Banten Abulmafakir Muhamad Alauddin. Sekarang surat itu disimpan di Universiteitsbibliotheek (UB) Leiden dengan kode Or.2233 (107) (hal.212-14).
Bab 3 (hal.218-70) menumpukan perhatian pada salinan-salinan saskah SB. Bertolak dari informasi Husein Djajadiningrat dalam studinya yang telah klasik mengenai SB (1913), penulis mengatakan bahwa terdapat 28 salinan naskah SB yang tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia. Namun, ternyata dua di antaranya sudah hilang, yaitu naskah Br.86 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan satu salinan lagi milik pribadi Husein Djajadiningrat sendiri.
Sebanyak 13 dari 26 salinan naskah SB yang masih terselamatkan itu kini tersimpan di UB Leiden, Belanda (LOr.7387, LOr.7390, LOr.7389, LOr.7350, LOr.8605, LOr.1982, LOr.6532, LOr.2244a, LOr.4818a, LOr.6530, LOr.7388, LOr.7420, and LOr.7419) plus satu salinan lagi yang semula dimiliki oleh Lembaga Alkitab Belanda (Nederlands Bijbel Genootschap) yang kemudian dihibahkan ke Perpustakaan tersebut (NBS 236); satu salinan tersimpan di Perpustakaan KITLV Leiden (Or.267); sepuluh salinan tersimpan di PNRI Jakarta (Br.625, KBG 1099, Br.296, 101b NBR 130, KBG 183, KBG 219, KBG 62, Br. 62a, Br.62b, and G 168); dan satu salinan tersimpan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (SJ 223).
Salinan-salinan naskah SB ditulis dalam aksara Pegon dan umumnya digubah dalam tembang macapat, kecuali KITLV Or.267 dan Leiden LOr.7388 yang teksnya berbentuk prosa (Bahasa Jawa: gancaran).
Menurut penulis, terdapat dua bentuk teks SB: versi pendek, biasanya berkisar antara 40-50 halaman, yang disebutnya Sajarah Banten Kecil (SBK) dan versi panjang, maksimum 200 halaman, yang disebutnya Sajarah Banten Besar (SBB). Isi teks SBK terkonsentrasi pada cerita mengenai konflik dan peperangan ayah-anak, yaitu antara Sultan Agung Tirtayasa (berkuasa 1651-1682) dan anaknya, Sultan Abunashar Abdul Kahar alias Sultan Haji (berkuasa 1682-1687) sampai kepada dilenyapkannya Kesultanan Banten oleh Belanda. Sedangkan isi teks SBK lebih luas: cerita mengenai Banten sejak zaman Jawa pra-Islam sampai kepada tahun-tahun pertama bercokolnya kolonialis Belanda di Indonesia pada saat Banten mencapai zaman kegemilangannya.
Setelah membandingkan seluruh salinan SB, penulis menemukan delapan di antaranya adalah kopi karbon dari salinan-salinan yang lain, oleh karenanya dapat `disingkirkan` dalam seleksi berikutnya. Kedelapan salinan itu adalah G 168, SJ 223, KITLV Or 267, KBG 1099, 101b NBR 130, LOr.7387, LOr.1982, dan LOr.2244.
Tahap selanjutnya penulis memilih dua salinan yang representatif yang mewakili SBB dan SBK. Pilihan jatuh keapada LOr.789 (SBB) dan KBG 183 (SBK) karena kedua salinan itu lebih lengkap isinya dan memiliki kolofon yang lengkap pula. Kemudian penulis mendeskripsikan ringkasan isi kedua salinan itu, pupuh demi pupuh (hal. 250-65).
Kesimpulan umum mengenai perbandingan antara kedua sumber yang dibahas disampaikan dalam Bab 4 (hal.271-82). Menurut penulis, terdapat relevansi antara isi SSB dan isi SB, baik SBB maupun SBK. Walaupun SSB dan SB sering mengandung elemen-elemen mitos, namun di sisi lain sumber-sumber pribumi tersebut juga mengandung informasi historis yang sangat bermanfaat bagi kajian sejarah (lokal) Indonesia.
SSB dan SBB yang menjadi objek bahasan buku ini—genre yang sama juga ditemukan di banyak tempat lain di Nusantara—adalah sumber dari tangan pertama yang tidak kalah pentingnya dibanding sumber-sumber asing untuk studi sejarah politik, diplomatik, dan ekonomi Indonesia dan dunia Melayu pada umumnya, serta sejarah perkembangan Bahasa Melayu atau Indonesia.
Sumber-sumber pribumi seperti SSB dan SB masih belum dimanfaatkan secara maksimal dalam studi sejarah Indonesia. Saya berprasangka baik: mudah-mudahan hal ini hanya karena `kekurangan` kurikulum ilmu sejarah (kita) yang tidak mewajibkan penguasaan membaca aksara Jawi (dan aksara-aksara pribumi lainnya) kepada calon sejarawan kita (mungkin tidak banyak sejarawan yang melek aksara Jawi), bukan karena ikut-ikutan sikap xenosentrik (xenocentric) yang telah begitu parahnya melanda pikiran bangsa Indonesia.
Terlepas dari adanya sedikit kekurangan berupa ditemukannya beberapa salah cetak, dan juga judulnya yang hanya menonjolkan SSB saja, tak diragukan lagi bahwa buku ini—yang juga dilengkapi dengan lampiran-lampiran yang berisi senarai nama-nama sultan Banten, nama-nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, daftar naskah SSB dan SB yang dibahas, dan cap-cap kertas (watermarks) dan cap-cap tandingan (countermarks) kertas-kertas yang digunakan sebagai alas tulis naskah-nskah tersebut (hal. 295-322)—memberi sumbangan yang berarti bagi studi sejarah (lokal) Indonesia dan sastra klasiknya.
___________________________
Suryadi, dosen pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda.
Sumber: Kompas, Minggu, 10 Agustus 2008
Dibaca : 4.837 kali.