Kamis, 27 November 2014   |   Jum'ah, 4 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.430
Hari ini : 5.332
Kemarin : 20.967
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.387.519
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



09 januari 2010 00:07

Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur

Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur

Judul Buku
:
Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur 
Penulis
:
Tjilik Riwut
Penyunting
Nila Riwut 
Penerbit:
Pusaka Lima, Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Cetakan
:
Pertama, Oktober 2003
Tebal
:
xIiv + 616 halaman
Ukuran
:
155 x 235 mm
 

Buku ini merupakan tulisan yang lengkap, disertai dengan foto-foto pengalaman pribadi Tjilik Riwut dan Nila Riwut dan bait-bait doa dan mantra dalam bahasa Dayak Ngaju tentang identitas suku Dayak Ngaju, suku terbesar di Kalimantan Tengah. Buku ini juga dapat dijadikan referensi penting, karena data yang digunakan merupakan data primer yang langsung didapatkan oleh Tjilik Riwut. Secara metodologis, Tjilik Riwut telah melakukan penelitian partispasi observasi secara aktif, karena ikut terlibat langsung, baik secara fisik maupun psikis dalam perilaku kehidupan orang Dayak Ngaju.

Buku ini diawali dengan pembahasan tentang lingkungan, geografi dan kondisi alam pulau Kalimantan, perjuangan suku Dayak, asal mula dan adat istiadat Dayak, bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, tradisi leluhur, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian, dan diakhiri dengan sistem religi. Dalam pembahasannya, buku ini sangat rinci dan disertai dengan contoh, misalnya tentang tandang, yaitu cara-cara menimang anak (hal 234).

Dalam buku ini, Tjilik Riwut tampak sangat memahami kebudayaan Dayak Ngaju. Hal ini dikarenakan Tjilik Riwut sejak kecil sudah bersentuhan langsung dengan kebudayaan Ngaju. Baginya, menjunjung tinggi tradisi Tatu Hiang (leluhur) adalah sesuatu yang harus dilakukan, agar kebudayaan leluhur tidak punah dan agar suku Dayak Ngaju dapat terus terikat dengan Tatu Hiang mereka.

Suku Dayak adalah suku asli yang mendiami pulau Kalimantan sejak ratusan bahkan mungkin ribuan tahun silam. Suku ini telah menyebar ke seluruh penjuru pulau Kalimantan, sehingga melahirkan sub-sub suku yang beragam. Secara umum, sub-sub suku Dayak tersebut memiliki pengetahuan yang sama, misalnya tentang Tuhan, kosmologi dan agama. Namun, secara khusus mereka memiliki perbedaan yang cukup jauh, seperti dalam hal adat istiadat, bahasa, dan kesenian. Perbedaan ini menyebabkan kebudayaan suku Dayak di Kalimantan menjadi warna-warni di tiap-tiap propinsi. Bahkan di dalam satu propinsi, misalnya antara Dayak Ngaju dan Kanayan yang ada di Kalimantan Tengah.  

Informasi tentang suku Dayak yang ada di Kalimantan hingga saat ini, baik dalam bentuk tulisan maupun berita, lebih banyak disampaikan oleh orang-orang dari luar Dayak atau bukan orang Dayak sendiri. Akibatnya, informasi yang ditampilkan tidak lengkap, sepihak dan merugikan suku Dayak. Suku Dayak yang dikenal adalah suku yang suka membunuh, memotong kepala, mentato, atau memanjangkan telinga. Informasi ini tidak semuanya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.  

Nila Riwut sebagai orang Dayak Asli dan anak dari pahlawan nasional Tjilik Riwut sepertinya memahami kondisi ini. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dia mencoba menuliskan kembali (menyunting) buku Kalimantan Memanggil dan Kalimantan Membangun, ditambah dengan catatan harian, kumpulan naskah, serta kumpulan dokumen milik ayahnya. Jadilah sebuah buku yang diberinya judul: Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur. Tjilik Riwut adalah orang Dayak Ngaju asli yang telah mengelilingi pulau Kalimantan dengan berjalan kaki dan terkadang naik perahu atau rakit.

Bagi para antropolog, sosiolog, dan peneliti agama, buku ini sangat informatif dan lengkap. Hanya saja diperlukan penerjemah bahasa Dayak Ngaju, jika ingin memahami arti bagian-bagian tertentu, misalnya tentang nama-nama penjaga pintu langit (hal 499) dalam kosmologi Dayak Ngaju, atau tentang tandak (syair-syair menimang) (hal 234). Hal ini dikarenakan istilah-istilahnya ditulis dalam bahasa Dayak Ngaju asli, yang hanya dapat dipahami oleh orang Dayak Ngaju, atau bahkan mungkin hanya dipahami oleh orang Dayak Ngaju yang masih tinggal di hutan. Mereka yang tinggal di kota atau sudah modern sulit untuk mengerti istilah-istilah tersebut.

Terlepas dari kelebihan dan kelemahannya, buku ini mengajarkan kepada pembaca, bagaimana leluhur Dayak Ngaju itu mempunyai kebudayaan yang unik, besar, dan dihormati oleh masyarakatnya. Buku ini secara tidak langsung memberikan pesan bahwa orang Dayak jangan hanya dipandang sebagai suku yang primitif dan negatif, seperti yang selama ini dipahami oleh khalayak umum.   

Yusuf Efendi

Dibaca : 3.710 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat