19 januari 2010 00:07
Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat
Judul Buku
| : | Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat. |
Penulis
| : | Tino Saroenggalo |
| Penerbit | :
| Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta |
Cetakan
| :
| Pertama 2008 |
Tebal
| :
| xxx + 384 halaman |
Ukuran
|
| 14 x 20 cm |
Aksi gugat menggugat tradisi leluhur sebenarnya bukanlah hal yang baru di negeri ini. Para pengkaji budaya sudah sering berdebat mengenai tema ini, bahkan hingga kini mereka terpecah menjadi tiga golongan besar, dengan alasan masing-masing. Pertama, golongan yang pro dengan mempertahankan tradisi (konstruksi) seperti apa adanya, karena hal itu merupakan identitas budaya bangsa. Mengubahnya berarti menghilangkan identitas bangsa. Kedua, golongan yang ingin mengubahnya (dekonstruksi) total, karena tradisi dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan mengekang pemiliknya. Ketiga, golongan yang ingin mengubah sekaligus mempertahankannya (rekonstruksi), karena tidak semua bagian dari tradisi itu tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Pemiliknya justru dituntut untuk kreatif agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Ternyata gugatan itu masih berlanjut, seperti tertuang dalam buku tulisan Tino Saroenggalo ini. Buku ini merupakan tulisan hasil pengalaman Tino Saroenggalo bersama saudara-saudaranya, yang “terpaksa” harus menyelenggarakan upacara adat kematian untuk ayahnya sendiri yang bernama Rendra Saroenggalo. Dikatakan “terpaksa” karena sebenarnya Tino dan saudara-saudaranya kurang setuju dengan adat tradisi Toraja yang dirasakan cukup membelenggu. Maka dari itu buku ini diberi judul “menggugat”, karena memang Tino ingin menggugat kembali tradisi adat Toraja.
Tino Saroenggalo adalah anak pasangan dari Rendra Saroenggalo, orang Toraja asli, dan LWJ Langendoen dari Belanda. Bapak Tino adalah seorang yang disegani di kalangan masyarakat Toraja, karena sering membantu pengembangan kampung Kete Kesu, Rantepoa, Tator, Sulawesi Selatan. Karena orang berpengaruh, maka kematiannya pun harus diselenggarakan dengan upacara adat yang meriah dan sakral. Namun justru dari sinilah awal mula “konflik” antara keluarga besar Saroenggalo dan “Tino kota” itu terjadi.
Satu hal yang membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca adalah bahasanya yang vulgar, bebas, mengalir dan tanpa takut. Tino tampaknya sangat menikmati “katarsis”-nya dalam menulis buku ini. Kegalauannya (atau mungkin kemarahannya) terhadap ketidakmampuannya melawan tradisi secara langsung dia tumpahkan habis dalam buku ini. Hanya sumpah serapah dan kata-kata kotor saja yang tidak tampak dalam buku ini.
Buku ini sangat bagus dan menarik karena ditulis dengan runtut sesuai upacara adat yang dilaksanakan, disertai dengan foto-foto, keterangan istilah, bahkan mengunakan judul-judul dalam setiap babnya seperti halnya dalam novel. Seperti contohnya judul “kamar mandi”, “24 kerbau”, “melirik kerbau”, “di sana rumahku”, “isu tau-tau”, “hiruk pikuk upacara” atau “pesta dan upacara”. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh latar belakang Tino yang berpendidikan sastra dan sekarang bergelut dalam dunia perfilman.
Tino juga terlihat sangat jeli dalam melihat sesuatu yang menurutnya sangat esensial dalam sebuah perhelatan upacara adat, seperti dalam pembahasan “melirik kerbau” (hal 110). Para antropolog dan pengkaji budaya perlu membaca buku ini sebagai referensi untuk melihat Toraja lebih dekat dan mengenalinya dari adat budayanya.
Selain membahas tentang upacara adat kematian, Tino juga menyinggung tentang pekerjaannya sebelum akhirnya masuk ke pembahasan tentang upacara adat itu sendiri. Hal itu bisa berhubungan dengan politik, artis, aparat, atau perusahaan. Dalam konteks ini tampaknya Tino ingin mengajak para pembaca untuk membandingkan dan menilai bagaimana rumitnya kondisi Indonesia dalam mengelola tradisi leluhur itu sendiri (hal 44).
Buku ini juga dilengkapi silsilah Rendra Saroenggalo sampai ke Tino sendiri. Hal ini cukup penting dan membantu pembaca memahami gugatan Saroenggala. Selain itu pada bagian akhir buku ini disisipkan juga lampiran tentang asal usul leluhur, awal penciptaan, dan manusia pertama di bumi menurut keyakinan orang Tana Toraja (Tator) (hal 347). Apendiks ini sangat membantu pembaca dalam memahami kosmologi orang Toraja dan memahami kenapa perhelatan upacara adat kematian Bapak Tino ini harus dilaksanakan.
Karena ditulis dengan gaya novel, pembaca akan enak membaca dan mudah mencerna buku ini. Dalam buku ini, upacara adat yang terlihat rumit dan membosankan akan mudah untuk dipahami dan dimengerti. Pembaca mungkin akan ikut-ikutan Tino menggugat tradisi sendiri, atau justru sebaliknya. Atau bahkan justru ingin pergi ke Toraja, atau ingin bertemu dengan Tino Saroenggalo, atau masih banyak lagi.
Yusuf Efendi
Dibaca : 3.892 kali.