Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 134
Hari ini : 7.924
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



02 februari 2010 00:07

Setangkai Selasih dari Kekasih

Setangkai Selasih dari Kekasih

Judul Buku
:
Setangkai Selasih dari Kekasih
Penulis
:
Tim Adicita dan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM)
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Tebal
:
123 halaman
 

Buku ini merupakan kumpulan ucapan doa, kritik, saran, dan nasehat dari para pegiat Melayuonline.com dan orang-orang yang peduli terhadap situs ini, baik dari Indonesia maupun dari negeri serumpun seperti Malaysia atau Brunei Darrusalam. Buku ini diterbitkan bertepatan dengan ulang tahun Melayuonline.com yang pertama (20 Januari 2007-20 Januari 2008). Sebagai situs budaya Malayu yang baru lahir, buku ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi perjalanan Melayuonline.com ke depan.

Segala sesuatu itu tidak sekali lecut menjadi, tidak sekali datangnya. Bukan karena ada emas kemas, tetapi karena ada pitih menjadi. Segalanya berproses, mengalami pencelupan rupa yang senantiasa berubah dan bermakna. Sebuah proses yang baik senantiasa mencari co-spirito agar mampu meraih essence of human beings yang mampu menyentuh semangat untuk senantiasa berlari kencang mengejar kebajikan-kebajikannya (hal 7).

Perjalanan hidup memang penuh warna. Penuh dengan suka duka, caci maki bahkan rindu dendam. Namun karena banyak warna, hidup justru terlihat semakin indah. Bukankah memang itulah keniscayaan hidup? Jika demikian buat apa hidup perlu disesali, dikutuki, disyukuri, diingat, atau bahkan dirayakan?

Memang hidup meniscayakan segalanya. Namun apakah dengan keniscayaan itu kita harus menerima apa adanya, menjalani saja tanpa perlu evaluasi dan introspeksi? Tidak. Evaluasi, introspeksi, rasa syukur, perayaan, penyesalan, bahkan mungkin kutukan, adalah juga bagian dari hidup. Hidup juga meniscayakan itu semua. Satu hal yang perlu disadari adalah kita jangan hanya berhenti pada evaluasi, introspeksi, mengungkapkan rasa syukur, menyelenggarakan pesta, menyesali, mengutuki atau bahkan mencaci maki belaka. Jika hanya berhenti sampai di situ maka sama saja dengan tidak hidup, karena keniscayaan hidup yang lebih penting adalah bekerja dan berperilaku lebih baik dari sebelumnya setelah melakukan evaluasi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mungkin jika untuk memenuhi kebaikan, kemajuan dan kebajikan dengan ukuran pribadi dapat kita lakukan, bagaimana dengan kebaikan, kemajuan dan kebajikan menurut masyarakat? Bukankah setiap masyarakat (budaya) memiliki ukuran tentang kebaikan yang berbeda-beda?

Ya, memang antarsatu masyarakat dengan masyarakat yang lain, bahkan setiap individu mempunyai ukuran tentang kebaikan, kemajuan dan kebajikan yang berbeda-beda. Namun dari seluruh masyarakat tidakkah mereka mempunyai batas toleransi tentang perilaku seseorang? Tentunya punya, karena setiap mesyarakat juga menyadari bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan yang terbatas dalam bertindak. Jika demikian halnya maka dalam berperilaku, ukuran yang terbaik adalah berperilaku sesuai dengan kemampuan masing-masing. Namun tidak lupa untuk tetap terbuka dan terus belajar guna mengasah kemampuan kita agar lebih baik lagi.

Pola pikir seperti inilah yang tampaknya disadari oleh seluruh awak kapal Melayuonline.com. Sebagai sebuah situs nirlaba yang bergerak dalam kajian dan pengembangan kebudayaan Melayu, mereka menyadari bahwa tidak mudah memang untuk mencapai kebaikan dan kemajuan sesuai kemauan seluruh masyarakat, khususnya puak-puak Melayu. Dalam usianya yang baru satu tahun (20 Januari 2007-20 Januari 2008), Melayuonline.com mencoba untuk mengevaluasi diri tentang apa yang telah mereka lakukan selama ini.

Memang waktu satu tahun bukanlah waktu yang panjang jika dilihat dari besarnya kajian wilayah yang akan disasar oleh situs Melayuonline.com. Bayangkan saja, kebudayaan Melayu yang terbentang dari Indonesia hingga Afrika menuntut untuk dikaji dan dimaknai dengan tujuan menyatukan puak-puak Melayu yang terserak dalam rentang waktu ribuan tahun. Tentu saja ini memerlukan usaha, dana, kemampuan intelektual, kesabaran, doa dan kemauan yang tulus untuk mendokumentasikan itu semua. Melihat begitu luasnya wilayah kajian Melayu dan kemampuan yang ada, sering terlontar ucapan pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) sendiri yang sekaligus pemimpin umum Melayuonline.com, yaitu Bang Mahyudin Al Mudra, bahwa usaha ini adalah usaha gila. Dengan itu dia memerlukan orang-orang yang mau diajak “gila”: “Gila memang atau memang gila.”

Namun jika dilihat dari semangat dan para awak yang menahkodai Melayuonline.com, khususnya “kegilaan” yang dimiliki oleh pemimpin Melayuonline.com dan para pengikutnya, waktu satu tahun bukanlah waktu yang pendek. Ingatlah kata-kata  Soekarno dahulu: “Berikan aku para pemuda, maka dengan sekejap aku akan mengubah dunia”. Kata-kata ini pula mungkin yang menjiwai pemimpin Melayuonline.com untuk terus bersemangat menceker-ceker seperti ayam, mengaum seperti singa, berlari dengan kencang seperti kuda, dan sesekali berhenti sebentar untuk mengambil nafas seperti paus. Upaya ini dilakukan untuk mendokumentasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebesaran kebudayaan Melayu.

Di mata pemimpin Melayuonline.com, kebudayaan Melayu yang dahulu pernah jaya dan mengikat rumpun Melayu dalam kehidupan yang damai, jika itu terhimpun kembali dan disadari oleh puak-puak Melayu, maka hal itu diyakini akan ikut menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa Indonesia ini. Bagaimanapun Melayu sebagai salah satu suku bangsa yang hidup di negara Indonesai harus ikut serta dalam pembelaan negara seperti yang diamanatkan undang-undang dasar 45. Kasus-kasus kecil seperti dugaan pencatutan salah satu budaya Indonesia semisal reog atau tari pendet adalah salah satu contoh kasus yang dapat diselesaikan jika puak-puak Melayu ini memahami kebudayaan mereka.

Kenapa harus memilih ruang maya (internet) untuk mempersatukan puak-puak Melayu atau lebih jauh ikut menyelesaikan permasalahan bangsa? Kenapa tidak sekalian ikut berpolitik praktis saja? Bukankah segala permasalahan bangsa selama ini muncul karena dipolitisir oleh politikus?

Pertanyaan di atas tidak semuanya salah dan tidak juga semuanya benar. Salah karena tidak semua masalah bangsa harus diselesaikan dengan politis. Benar karena politik memang menjadi salah satu ruang untuk menyelesaikan masalah bangsa.

Namun terlepas dari benar dan salah di atas, pemilihan dunia maya sebagai ruang pendokumentasian kebudayaan Melayu yang nantinya diharapkan menjadi salah satu ruang penyelesaiaan masalah bangsa didasarkan pada beberapa alasan, yaitu:

  • Ruang maya (internet) dianggap lebih cepat dan lebih mudah diakses oleh puak-puak Melayu yang terdiaspora dari Indonesia hingga Afrika
  • Ruang maya dianggap sebagai ruang yang cair. Harus dipahami bahwa Melayuonline.com memiliki peran utama yaitu pendokumentasian kebudayaan Melayu. Tentu saja dalam proses pendokumentasian ini akan terjadi perdebatan, dialog, diskusi, atau tukar menukar informasi. Ruang maya dianggap sangat memungkinkan semua itu dilakukan dengan terbuka
  • Ruang maya dianggap sebagai ruang yang dinamis dan terus mengikuti perkembangan zaman. Hal ini selaras dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi pada kebudayaan Melayu itu sendiri

Berdasar alasan-alasan di atas, saat ini Melayuonline.com terus bergerak mendokumentasikan kebudayaan Melayu. Tentu saja ke depan akan banyak hambatan dan rintangan yang dihadapi. Namun sesuai dengan keterbukaan yang disimbolkan dari pemilihan ruang maya sebagai ruang pendokumentasian kebudayaan Melayu, Melayuonline.com tetap mengharapkan kritik, informasi yang membangun, nasehat, bimbingan dan bantuan apapun dari semua pihak yang memiliki kepedulian yang sama terhadap kebudayaan Melayu.

Apa tanda Melayu gemilang
Masa lalu ia kenang
Masa sekarang ia timang
Masa mendatang ia rancang

Apa tanda Melayu bertuah
Menyimak yang sudah-sudah
Berpijak pada yang nyata
Berpikir jauh ke muka
(hal xiv)

Yusuf Efendi

Dibaca : 2.574 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi