Beranda »
Resensi Buku » Mengenal Pelalawan Aneka Istilah Budaya, Permainan Rakyat, Peralatan, Makanan Khas, Flora dan Fauna
30 januari 2010 00:07
Mengenal Pelalawan Aneka Istilah Budaya, Permainan Rakyat, Peralatan, Makanan Khas, Flora dan Fauna
Judul Buku
| : | Mengenal Pelalawan Aneka Istilah Budaya, Permainan Rakyat, Peralatan, Makanan Khas, Flora dan Fauna |
Penulis
| : | Syahrul |
| Penyunting | :
| Tim Penerbit |
| Penerbit | :
| Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Yogyakarta |
Cetakan
| :
| Pertama, Oktober 2004 |
Tebal
| :
| vii + 94 halaman |
Ukuran
| :
| 0,4 x 22,7 cm |
Buku di hadapan Anda ini adalah buku yang berisikan informasi singkat mengenai aneka istilah budaya, permainan rakyat, peralatan, makanan khas, flora, dan fauna yang ada di Kabupaten Pelalawan, Riau. Meskipun ditulis dalam bentuk ensiklopedi yang dilengkapi dengan foto dan informasinya singkat dan sederhana, buku ini memberikan cukup bahan pengetahuan tentang kebudayaan dan alam Kabupaten Pelalawan.
Dengan model tulisan seperti ensiklopedi, buku ini cocok untuk diletakkan di kantor-kantor dinas pariwisata, museum, atau tempat-tempa wisata dan menjadi bekal bagi para turis untuk mengetahui kebudayaan Pelalawan. Buku ini akan lebih baik jika ditulis kembali dengan memperkuat sisi keterangannya. Selain itu, agar pembaca mudah memahami, hendaknya dipisahkan antara istilah alat dan istilah prosesi dalam upacara adat Pelalawan. Dalam buku ini, sekarang keduanya dicampur menjadi satu, seperti mandi balimau (hal. 5), sunat rosul (hal. 7), dan ziarah kubur (hal. 9) ditulis menjadi satu bagian dengan istilah alat upacara adat.
Kebesaran Kebudayaan Pelalawan
Pelalawan adalah salah satu daerah yang memiliki jejak sejarah kebudayaan Melayu yang cukup besar. Jejak kebudayaan ini ditinggalkan oleh kerajaan besar yang pernah menguasai wilayah ini, yaitu Kerajaan Pelalawan yang dahulu berpusat di pinggiran sungai Kampar. Kerajaan Pelalawan merupakan pewaris dari Kerajaan Kampar. Dari nama Kerajaan Pelalawan inilah konon nama Kabupaten Pelalawan diambil.
Kerajaan Pelalawan berdiri tahun 1725 dan mulai terkenal pada masa pemerintahan Sultan Syed Abdurrahmman yang bergelar Assyaidis Syarif Abdurrahman Fachrudin yang memerintah pada tahun 1811–1822. Kerajaan Pelalawan terakhir diperintah oleh seorang penguasa yang bernama Tengku Said Haroen yang bergelar Assyaidis Syarif Haroen bin Hasyim Fachrudin Tengku Besar Kerajaan Pelalawan, yang memerintah pada tahun 1940–1945.
Pada saat kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 1945, Tengku Said Haroen bersama orang-orang besar kerajaan Pelalawan menyampaikan pernyataan taat setia dan bersatu dalam negara Republik Indonesia. Tengku Said Haroen sendiri akhirnya mangkat pada tanggal 21 November tahun 1959 di istananya di Pelalawan. Atas Jasa-jasanya kepada bangsa dan negaranya, melalui Musyawarah Orang-orang Besar Kerajaan, beliau dianugerahi gelar Marhum Setia Negara.
Rakyat kerajaan Pelalawan waktu itu konon adalah orang-orang Melayu yang terbagi dalam dua wilayah adat, yaitu masyarakat Adat Melayu Pesisir dan Masyarakat Adat Melayu Petalangan. Masyarakat inilah yang saat ini mayoritas menjadi penduduk Kabupaten Pelalawan. Namun, seiring dengan perkembangan daerah ini, penduduk Pelalawan saat ini sudah sangat beragam. Ada yang berasal dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Jawa dan lain-lain. Menurut situs resmi Kabupaten Pelalawan, jumlah penduduk pada saat ini lebih kurang mencapai 208.373 jiwa (http://www.pelalawankab.go.id/).
Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten yang baru dimekarkan di wilayah Propinsi Riau pada tanggal 12 Oktober 1999. Sebelumnya, Kabupaten Pelalawan menjadi satu dengan Kabupaten Kampar. Saat ini, Kabupaten Pelalawan memiliki luas wilayah lebih kurang 12.490,42 km˛ yang meliputi dua belas kecamatan, yakni Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kecamatan Langgam, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kecamatan Pelalawan, Kecamatan Bunut, Kecamatan Ukui, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kecamatan Kerumutan, Kecamatan Teluk Meranti, Kecamatan Kuala Kampar Kecamatan Bandar Sikijang, dan Kecamatan Bandar Petalangan.
Dengan wilayah yang begitu luas, Pelalawan memiliki kekayaan budaya maupun alam yang melimpah, mulai dari istilah, permainan rakyat, peralatan tradisional, tumbuhan, hingga hewan. Kekayaan tersebut hingga kini masih cukup terjaga dan dikelola oleh pemerintah kabupaten dan bekerjasama dengan dinas pariwisata. Salah satu daerah yang masih terjaga adalah taman suaka marga satwa Kerumutan. Taman ini terletak di Desa Kerumutan.
Taman Kerumutan ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari Pangkalan Kerinci selama lebih kurang 2 jam perjalanan atau 2 jam dari Pekanbaru. Taman ini berupa hutan dengan luas ± 93.222.20 Ha. Di dalamnya tumbuh dan hidup aneka macam pepohonan dan hewan yang dilindungi. Di antaranya Meranti (Shorea sp), Punak (Tetrameriota Glabra mig), Perupuk (Solena permum javanicum), Nipah (Nypa fructicons), Rengas (Gluta rengas), dan Pandan (Pandanus sp).
Adapun hewan-hewan yang hidup di sana antara lain Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis), Harimau Dahan (Neovoles nebulosa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Enggang (Buceros rhinoceros), Monyet (Mocacafa scicularis), Kuntul Putih (Egretta intermedia), Ikan Arwana (Slhleropoges formasus), Owa (Hylobutes moloch), dan Itik Liar (Cairina scutulata).
Selain kekayaan hutan, Pelalawan juga kaya dengan hasil adat dan kesenian. Hal ini dapat terlihat dengan masih adanya pemberian gelar pembesar maupun penobatan-penobatan lain yang merupakan warisan dari seremoni yang dilaksanakan oleh sultan-sultan terdahulu. Berbagai aktivitas kesenian juga tumbuh dan tetap dilestarikan di kalangan masyarakat, seperti seni sastra (nyanyian panjang, pantun, bidal, dan menumbai), seni musik (gambus, kompang, gendang, nafiri, ketobang, dan gambang), dan seni tari (zapin, joget, bagendong, belian, badewo, dan silat Payung). Terdapat juga seni kerajinan seperti anyaman pandan, daun kopau, bambu, pertukangan kayu, dan sulaman.
Yusuf Efendi
Dibaca : 8.674 kali.