Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.430
Hari ini : 11.531
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.270.876
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



28 april 2010 00:07

Kamus Bahasa Sasak Indonesia

Kamus Bahasa Sasak Indonesia

Judul Buku
:
Kamus Bahasa Sasak Indonesia
Penulis
:
Tim Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Penyunting:
Nazir Thoir, et al.,
Penerbit:
Balai Pustaka, Jakarta
Cetakan
:
Pertama, 2001
Tebal
:
xxxvi + 323 halaman
Ukuran
:
1,2 x 20,6 cm
 

Buku ini merupakan salah satu, atau bahkan mungkin satu-satunya, kamus bahasa Sasak-Indonesia yang telah diterbitkan. Kamus ini dihimpun berdasarkan putusan Kongres Bahasa Indonesia ke-VII tahun 1998 tentang perlunya diterbitkan berbagai naskah yang berkaitan dengan bahasa dan sastra. Sebagai kamus bahasa daerah, buku ini penting untuk dimiliki dan dibaca, khususnya bagi mereka yang ingin mempelajari kebudayaan suku Sasak yang mayoritas mendiami pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Banyak Kemiripan

Jika dibaca sekilas, bahasa Sasak banyak memiliki kemiripan dengan bahasa Jawa dan Bali. Kemiripan itu dapat dilihat dari beberapa kata, seperti pawon yang artinya dapur, nggih yang artinya ya, sugeng rawuh yang artinya selamat datang, atau lawang yang artinya pintu. Kata-kata ini dipakai dalam percakapan sehari-hari orang Sasak.   

Kemiripan ini secara antropologis juga melahirkan sebuah sangkaan bahwa leluhur Sasak berasal dari Jawa atau Bali, yaitu orang-orang Jawa semasa kekuasaan Majapahit yang lari karena diserang oleh Kerajaan Demak. Meskipun sejarah dan mitos yang berkembang di masyarakat Sasak memang menyebutkan demikian, namun ada pula pihak-pihak yang tidak sepenuhnya sepakat. Kubu yang kontra itu menyebut bahwa leluhur orang Sasak ada yang berasal dari Sulawesi.

Terlepas dari kontroversi asal-usul leluhur Sasak dan kemiripan bahasa Sasak dengan bahasa Jawa atau Bali, Sasak memiliki bahasa yang cukup unik dan tidak mudah untuk dipelajari. Hal ini dikarenakan di beberapa desa di Lombok memiliki bahasa dengan logat yang berbeda-beda. Bahasa Sasak memiliki lima logat, yaitu logat Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), dan Meriak-Meriku (Lombok Bagian Selatan).

Perbedaan logat dalam bahasa Sasak sebenarnya merupakan masin menjadi suatu kewajaran karena kebanyakan bahasa dari daerah-daerah lain juga mengalami hal yang sama. Dalam bahasa Jawa, misalnya, juga terdapat perbedaan logat antara Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Bahkan bukan hanya logat, akan tetapi juga pada bentuk tulisan dan tingkatan penggunaannya.

Dalam hal bahasa, leluhur orang Sasak tampak memiliki kebudayaan yang cukup tinggi meskipun banyak kemiripan dengan bahasa Jawa dan Bali. Ragam logat tampaknya akan menyulitkan orang Sasak dalam berinteraksi, akan tetapi ternyata tidak. Hampir seluruh masyarakat Sasak mengerti maksud penyampaian bahasa daerahnya meskipun dengan logat yang berbeda.  

Tantangan Bahasa Sasak 

Pulau Lombok sudah sejak lama terkenal dengan keaslian dan keindahan alamnya sehingga banyak dikunjungi turis asing. Pada masa orde baru, Lombok dikenal sebagai daerah penghasil padi unggul yang bernama padi gogo rancah. Maka dari itu, Lombok mendapat julukan sebagai Bumi Gora yang berarti Bumi Gogo Rancah.  

Lombok juga dikenal sebagai daerah yang banyak memasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negeri. Hal ini tampaknya menimbulkan efek negatif terhadap eksistensi bahasa Sasak di Lombok sendiri. Para tenaga kerja yang pulang kampung setelah bekerja di luar negeri ternyata ikut membawa bahasa baru yang sedikit banyak telah mengubah pola komunikasi masyarakat Lombok di desa-desa. Hal ini terlihat khususnya pada anak muda yang terkadang bahkan tidak bisa berbahasa Sasak.

Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi kita semua. Masyarakat Sasak harus disadarkan agar tetap setia menggunakan bahasa daerah sendiri. Penerbitan kamus ini tentu saja memiliki peran penting untuk membantu kita semua supaya bahasa Sasak tidak mengalami kepunahan dan tetap lestari untuk selama-lamanya.

Yusuf Efendi

Dibaca : 4.874 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat