29 april 2010 00:07
Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin, dan Pantun
Judul Buku
| : | Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin, dan Pantun |
Penulis
| : | Drs. H.M. Syamsiar Semanl |
| Penerbit | :
| Bina Budaya Banjar, Banjarmasin |
Cetakan
| :
| Kedua, 2006 |
Tebal
| :
| vi + 62 halaman |
Ukuran
| :
| 0,2 x 20,6 cm |
Buku berjudul Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin, dan Pantun ini sejatinya berasal dari makalah yang berjudul “Kesenian Lamut dan Madihin sebagai Media Tradisional dan Komunikatif Penulis”. Makalah ini pernah disajikan dalam sebuah rapat koordinasi sosio-drama Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin. Buku ini secara umum berisi pantun-pantun yang pernah jaya dalam interaksi kehidupan masyarakat Banjar. Bagi para pemerhati dan pengkaji sastra Banjar perlu kiranya membaca buku ini karena di dalam buku ini akan didapatkan berbagai macam contoh madihin, lamut, dan pantun Banjar.
Baik Lamut maupun Madihin, keduanya sama-sama merupakan seni bertutur masyarakat Banjarmasin yang sangat terkenal pada masa yang telah lalu. Pelaku seni Lamut disebut Palamutan. Sedangkan untuk pelaku seni Madihin disebut Pamadihin. Kesamaan lain kedua seni tradisional ini adalah keduanya hanya menggunakan satu alat sederhana, yaitu gendang yang dalam bahasa Banjar disebut tarbang. Keduanya juga sama-sama dipentaskan pada malam hari dan berfungsi sebagai hiburan.
Sepintas kedua kesenian ini juga merupakan kesenian humor. Perbedaan keduanya terdapat pada bentuk bertuturnya. Lamut bertutur menggunakan cerita, sementara Madihin menggunakan syair. Pada masa lampau, kedua kesenian ini sangat disenangi oleh masyarakat. Sayangnya, saat ini keduanya sudah renta dan sulit bertahan. Kesenian dan pelakunya saat ini sama-sama sulit ditemukan lagi.
Salah satu keistimewaan dari kedua seni tradisional ini adalah bahwa Palamutan dan Pamadihin dapat mengajak para penontonnya ikut aktif dalam melantunkan syair. Tema-tema cerita dan syair kedua kesenian tradisional ini juga sangat berhubungan dengan kehidupan masyarakat, seperti soal kesehatan, keluarga, hubungan anak muda, nasihat agama, maupun nasihat orangtua. Masyarakat lebih menyukai nasehat yang disampaikan dalam bentuk cerita dan syair humor, karena tidak terkesan menggurui.
Lamut, Madihin, dan syair bagi orang Banjar seakan tidak dapat dipisahkan. Ketiganya menjadi identitas budaya Banjar. Selain berfungsi sebagai media penjelas bagi problem-problem yang terjadi di masyarakat, syair yang dilantunkan terkadang dapat mengundang gelak tawa. Nukilan syair berikut ini misalnya:
Mambasuh tangan, mambasuh siku
Dibasuh jua telapak batis
Maliat marmot mambaca buku
Lalu kelinci handak manulis
Buah mantah rasanya kalat
Imbah masak andak di panci
Maliat tikus balajar silat
Lakas kucing barsambunyi (hal. 26)
Yusuf Efendi
Dibaca : 8.501 kali.