Sabtu, 25 April 2026   |   Ahad, 8 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 230
Hari ini : 8.918
Kemarin : 18.047
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



10 november 2010 07:07

Bertahan Dalam Badai

Bertahan Dalam Badai

Judul Buku
:
Bertahan Dalam Badai
Penulis
:
Darul Qutni
Penyunting:Daryatun
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, Juli 2009
Tebal
:
xiv + 134 halaman
Ukuran
:
0,8 x 19, 2 cm
 

Buku berjudul Bertahan Dalam Badai di hadapan Anda ini adalah buku kumpulan cerpen penulis yang pernah dimuat di dua koran lokal di Propinsi Nanggroe Aceh Darrusalam, yaitu harian Mercu Suar dan Demi Masa. Isi cerpen yang dimuat sejak tahun 1985-2000 itu dianggap penulisnya masih cukup aktual untuk dijadikan renungan dan pelajaran bangsa saat ini sekarang. Atas bantuan beberapa pihak, cerpen-cerpen tersebut akhirnya dibukukan seperti sekarang.  

Secara umum, cerpen-cerpen dalam buku ini menandakan dua hal, yaitu eksistensi sastra Islam di Aceh dan Islam sebagai agama yang tidak dapat lepas dari kehidupan orang Aceh. Islam menjadi inspirasi orang Aceh dalam menjalankan kehidupan mereka, baik suka maupun duka. Dua hal di atas menjadi sebuah perpaduan yang saling melengkapi. Keduanya hingga sekarang masih terjaga dan menjadi penanda identitas budaya orang Aceh.

Orang Aceh dan Sastra Islam

Sastra telah akrab dengan kehidupan orang Aceh sejak lama. Para penyair seperti Abdul Kadir Munsyi, Abdurrauf Singkel, dan Hamzah Fansuri telah lahir dari bumi serambi Mekah ini. Mereka telah mengajarkan orang Aceh untuk memahami kehidupan dengan seni. Sejalan dengan perkembangan agama Islam di Aceh, kehidupan sastra Aceh semakin maju. Semenjak itu, sastra Islam dan orang Aceh menjadi penanda budaya dan spiritual orang Aceh. Sesuatu yang juga menambah kekayaan khazanah pengetahuan bangsa.

Dalam perkembangan selanjutnya, kehidupan sastra Islam Aceh diramaikan oleh  munculnya tukang cerita bernama Adnan PM Toh (1931-2006). Konon nama PM toh diambil dari kebiasaan beliau yang dapat menirukan klakson bis PM Toh yang beliau tumpangi saat berkeliling desa dan kecamatan di Aceh. Nama itu disematkan oleh masyarakat yang menyukainya agar gampang dipanggil. Hingga sekarang PM Toh dikenal sebagai tukang cerita atau hikayat Aceh tentang nabi-nabi Islam atau sahabat nabi. 

Menurut versi lain cerita Aceh, konon nama PM Toh diambil dari kata poh tèm, yang berarti bercerita. Dalam tradisi Aceh, bercerita disebut juga dengan peugah haba, meuhaba, pohaba, poh cakra, poh tèm, atau cang panah, yang berarti cerita yang membahas segala hal, yang terkadang tak tentu ujung pangkalnya. Dari kata poh tèm itulah kemudian dipelesetkan menjadi pèm toh/ peng toh dan menjadi pe-em-toh.

Sepeninggal PM Toh, sastra Islam Aceh dipopulerkan lagi oleh murid Adnan PM Toh yang bernama Agus Nur Amal. Nama ini di kemudian hari juga disebut dengan Agus PM Toh. Pasca tsunami menerjang Aceh tahun 2006 lalu, Agus sering muncul di televisi untuk bercerita tentang berbagai hal kehidupan dan nilai-nilai Islam di Aceh. Melalui cerita-ceritanya, Agus PM Toh mengajak manusia untuk menyadari kebesaran Tuhan.

Seperti gurunya, ketika bercerita Agus menggunakan berbagai barang bekas sebagai media untuk memperagakan isi ceritanya. Selain menambah cerita semakin lucu, alat peraga tersebut menjadikan cerita mudah di cerna. Hingga sekarang, Agus PM Toh masih berkeliling Indonesia, bahkan dunia, mengenalkan sastra Islam Aceh melalui cerita.   

Islam Sebagai Jalan Keluar

Dengan tidak mengurangi kualitasnya, dari sisi isinya, buku ini merupakan salah satu penyambung sastra Islam di Aceh. Cerpen-cerpen dalam buku ini dapat dikatakan sebagai cerpen Islami, karena hampir semua tema cerpen bermuara pada pentingnya seseorang menaati ajaran agama Islam. Anda juga akan menemukan penulis mengutip ayat-ayat suci Al quran atau kata-kata mutiara Arab untuk menegaskan suatu hal.

Ajaran Islam yang menyejarah dalam kehidupan orang Aceh tampaknya menjadi inspirasi penulis untuk dihubungkan dengan masalah yang dihadapi orang Aceh. Penulis sendiri yang orang Aceh tampak memahami betul fenomena sosial orang Aceh dan mencoba mencarikan jawabannya dalam konsepsi Islam.

Selain ditujukan untuk pembaca orang Aceh, melalui cerpen ini, penulis ingin mengingatkan pembaca umumnya, akan perlunya kembali kepada Tuhan (baca: Allah). Tuhan sebagai sandaran puncak.  Segala permasalahan manusia, seperti permasalahan remaja, ekonomi, politik, rumah tangga, jodoh, atau bencana alam, hendaknya dikembalikan kepada yang kuasa, karena dialah penguasa segala yang ada. Dalam bayangan penulis, Islam adalah jalan keluar segala masalah manusia. Tuhan tempat kembali (h. 30).    

Sebagai jalan keluar, Islam diharapkan menjadi pemandu kehidupan manusia seluruhnya tidak hanya orang Aceh. Dengan begitu maka Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh umat di alam ini menjadi nyata. Meskipun cerpen-cerpen dalam buku ini banyak mengutip literatur-literatur Islam, semoga itu tidak menjadikan buku ini eksklusif.

Yusuf Efendi (res/33/10-10)

Dibaca : 5.180 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi