Senin, 29 Juni 2026   |   Tsulasa', 13 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.240
Kemarin : 33.607
Minggu kemarin : 218.136
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



12 november 2010 00:07

Nilam Nilai Melayu Menurut Adat

Nilam Nilai Melayu Menurut Adat

Judul Buku
:
Nilam Nilai Melayu Menurut Adat
Penulis
:
Muhammad Arief Ahmad
Penerbit:
Malaysia Press, Singapore
Cetakan
:
Tanpa Tahun
Tebal
:
347 halaman
Ukuran
:
20, 9 x 27, 5 cm
 

Buku di hadapan Anda ini adalah buku yang membahas tentang adat istiadat kebudayaan Melayu yang ditulis oleh seorang tokoh Melayu Singapura Muhammad Arief Ahmad atau yang lebih dikenal dengan singkatan MAS. Pada masa hidupnya, MAS adalah salah satu pendiri dan Ketua Dewan Adat Melayu di Singapura yang sangat dihormati. Penerbitan buku ini salah satunya ditujukan untuk penghormatan tersebut.

Dalam membahas adat istiadat Melayu, buku ini terbilang detil, baik dari sosial, ekonomi, budaya, poltik, keluarga, maupun adat berbudi bahasa bagi sesama. Buku ini pantas untuk dijadikan rujukan bagi Anda yang ingin mengetahui lebih banyak dan dalam, mengenai adat istiadat Melayu. Namun demikian, bagi Anda yang tidak banyak memahami bahasa Melayu dialek Singapura atau Malaysia, Anda perlu lebih cermat dan hati-hati dalam membaca buku ini, karena jika tidak hati-hati, maka Anda akan salah menafsirkan atau memahami maksud dan isinya.  

Bagi pecinta kajian sastra, buku ini juga pantas untuk dibaca, karena selain Anda mendapatkan informasi adat istiadat Melayu, Anda juga akan mendapatkan beragam petatah petitih melalui pantun-pantun Melayu yang memang menjadi salah ciri khas  identitas kebudayaan Melayu. Bahkan ada sebuah idiom yang belum tentu benar, bahwa orang Melayu pasti bisa berpantun, karena itu ia pasti gampang meluluhkan hati perempuan.     

Pentingnya Kajian tentang Melayu dan Kemelayuan

Di saat pembacaan Melayu dari sisi identitas masih menjadi sesuatu yang sensitif, sehingga identitas Melayu masih terus diperdebatkan, buku ini seperti ingin mengajarkan kepada puak-puak Melayu bahwa lebih baik mempelajari nilai-nilai kemelayuan daripada bertengkar memperdebatkan suatu budaya Melayu atau bukan. Meskipun demikian, Melayu dan kemelayuan harus terus dibincangkan, namun bukan untuk mencari siapa yang kalah dan menang, atau siapa pintar dan siapa yang bodoh. Perbincang soal Melayu ditujukan untuk mencari terobosan baru dalam rangka pengembangan kebudayaan Melayu.

Melayu umumnya dipahami sebagai sebuah suku yang hidup sepanjang pulau-pulau dari Asia hingga Afrika Selatan. Dengan cakupan yang sangat luas tersebut, maka Melayu menjadi bagian kajian kebudayaan yang tidak akan ada habisnya. Tidak heran jika Balai Kajian dan Pengembangan Melayu (BKPBM) Yogyakarta menciptakan beragam website seperti http://balaikajian.melayuonline.com/, http://www.wisatamelayu.com/, http://www.rajaalihaji.com/, dan http://tengkuamirhamzah.com/. 

Luasanya cakupan kajian kebudayaan Melayu yang berserak dari Asia hingga Afrika Selatan, juga membuktikan bahwa Melayu tidak tepat jika hanya dipahami berdasar teritori semata. Lebih dari itu, Melayu adalah sebuah entitas budaya lintas batas. Sebuah entitas yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, upaya pengkotakan Melayu yang sempit tidaklah tepat. Dalam mengkaji Melayu perlu diperluas menjadi kajian tentang kemelayuan, yakni mengkaji unsur-unsur yang mempererat adat istiadat dan tradisi kebudayaan Melayu itu sendiri.

Buku Nilam Nilai Melayu Menurut Adat di hadapan Anda ini telah membuktikannya. MAS, sang penulis buku tampaknya menyadari bahwa Melayu akan dikenang oleh dunia melalui adat istiadat dan tradisi budayanya. Para leluhur Melayu telah mengajarkan bahwa adat istiadat, semisal pantun dan tata cara berumah tangga (h. 291), kesusasteraan (h. 105), atau adat berbudi bahasa (h. 69) telah menjadi penanda budaya dan menjaga marwah Melayu hingga kini. Meskipun diterjang kebudayaan modern dan terseok-seok, nilai-nilai adat Melayu masih menjadi pengikat yang kuat para puak Melayu dengan tanah leluhurnya. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah..begitu pepatah Melayu mengajarkan.       

Seperti halnya tradisi kebudayaan masa lalu yang dimiliki suku-suku lain, tradisi budaya Melayu juga mengalami kelesuan. Para puak Melayu khususnya para generasi muda sudah tidak begitu perhatian lagi dengan adat istiadat Melayu, seperti adat taat kepada orangtua atau berpantun. Sedikit dari generasi muda Melayu yang menekuni sastra Melayu. Akibatnya, adat istiadat Melayu hanya indah dalam kisah, namun sepi dalam praktek. Kebesaran adat istiadat Melayu ternyata tidak diringi dengan gairah para puak Melayu untuk melestarikan tradisi budaya leluhur. Rupanya terjangan globalisasi terasa dahsyat, karena hingga kini tidak semua suku-suku Melayu setia kepada adat istiadat mereka.

Ironi yang lain juga terlihat ketika kebudayaan Melayu hanya merdu digelar ketika musim pemilihan kepala daerah, misalnya melalui festival Melayu, atau gelar seni budaya Melayu. Melalui pergelaran ini tersirat sebuah kesan bahwa pergelaran dibuat hanya untuk menaikkan citra sang calon agar terlihat peduli dengan kebudayaan lokal.

Dalam konteks berbagai permasalahan di atas, buku ini menemukan fungsinya, yaitu mengingatkan para puak Melayu agar menyadari kebesaran kebudayaan Melayu dan terdorong untuk memelihara tanpa ada pamrih sedikitpun, seperti hanya para leluhur dahulu dalam menciptakan adat istiadat tersebut.

Yusuf Efendi (Res/35/11-2010)

Dibaca : 3.212 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi