27 november 2010 00:07
Perahu, Masyarakat Maritim, dan Pelabuhan Johor: Dahulu dan Kini
Judul Buku
| : | Perahu, Masyarakat Maritim, dan Pelabuhan Johor: Dahulu dan Kini |
Penulis
| : | Nik Hassan Shuhaimi Nik Abd. Rahman et al., |
| Penerbit | :
| Yayasan Warisan Johor, Malaysia |
Tebal
| :
| x + 111 halaman |
Ukuran
| :
| 25, 3 x 26 cm |
Suku bangsa Melayu selain dikenal dengan kesusasteraannya, juga tersohor dengan kreasi budayanya berupa perahu. Kesusateraan Melayu klasik seperti sejarah Melayu, Misa Melayu, syair Merong Maha Wangsa, hikayat Hang Tuah, atau syair Siti Zubaidah mencatat kebesaran bangsa Melayu lewat perahu. Dalam salah satu paragraph di Hikayat Hang Tuah disebutkan:
“Tatkala Sultan Mansur Shah akan kembali ke Melaka setelah perkawinannya dengan puteri Majapahit, baginda menaiki perahu bernama Mendam Berahi. Selain membawa kain, pakaian, perhiasan seperti emas, perak, dan permata mutu manikam, rombongan pulang membawa puteri Mas Ayu Majapahit dan dua ratus dayang-dayang, empat puluh anak penggawa yang cantik, empat puluh anak priyayi, dan tujuh ribu rakyat laki-laki dan perempuan. Saat Mendam Berahi akan mengarungi laut, Laksamana menembakkan meriam tujuh kali kemudian berlayarlah Mendam Berahi menuju Tuban”.
Pada zaman dulu, perahu menjadi identitas kebudayaan Melayu, khususnya masyarakat maritim. Perahu menjadi alat transportasi masyarakat maritim untuk perdagangan, mencari ikan, atau bersosialisasi. Dengan perahu, kebudayaan maritim Melayu terbentuk menjadi besar hingga melahirkan kebudayaan perahu yang dikenang hingga kini. Tidak heran jika jika dari Sulawesi tercipta lagu berjudul Nenek Moyangku Orang Pelaut.
Berbeda dari Sulawesi, kebudayaan maritim di Johor ditandai dengan banyaknya kreasi perahu masyarakatnya. Pada masa lampau, Johor dikenal sebagai pelabuhan terbesar tempat singgah pedagang-pedagang dari suluruh dunia. Buku dihadapan Anda ini menghadirkan pembahasan yang menarik tentang perahu Johor. Buku hasil penelitian ini sangat seimbang dan baik dalam mencatat perkembangan perahu yang pernah ada di masyarakat Johor dari masa dahulu hingga kini.
Bagi Anda para arkeolog, antropolog, sejarawan, maupun arsitektur penting untuk membaca buku ini, karena Anda akan mendapatkan informasi kebudayaan maritim masyarakat Johor masa lalu dan kini. Buku ini semakin enak dibaca karena selain disertai dengan foto-foto perahu Johor, juga dilengkapi dengan cara serta alat-alat membuat perahu.
Johor dan Perahu
Johor adalah nama salah satu kota sekaligus nama pelabuhan. Karena itu, johor selalu identik dengan kehidupan maritim dan hasil kreasi masyarakatnya berupa perahu. Johor dan perahu adalah dua identitas yang saling melengkapi. Jika Anda pergi ke Johor, Anda akan menemukan museum perahu. Sebuah museum yang menghadirkan informasi dan data arkeologi, sejarah, dan antropologi tentang perahu dan masyarakat Johor. Dari museum tersebut, Anda dapat mempelajari kehidupan maritim masyarakat Johor masa lalu dan kini.
Perahu di Johor tidak hanya untuk mengangkut barang dagangan dan manusia, tetapi juga hewan-hewan yang akan dijual. Kata perahu di Johor dikenakan secara umum pada semua jenis perahu, baik besar maupun kecil, memakai layar atau tidak, terbuat dari kayu atau kulit kayu, dan bermesin atau tidak. Namun, secara khusus masyarakat Johor memiliki sebutan tersendiri terhadap jenis-jenis perahu tersebut. Menurut literartur Melayu klasik, lebih kurang terdapat 82 jenis perahu tradisional di Johor, antara lain pilu atau pilau, tongkang, kelulus, jong, pembujangan, lelanang, jokong atau jongkong, sum, fusta, dan lain-lain. Perahu-perahu tersebut hingga kini masih dapat ditemui di museum perahu dan sebagai lagi sudah punah.
Ketika Malaysia masih di bawah koloni Ingrris, di Johor terdapat pelabuhan-pelabuhan (jeti) seperti Endau, Mersing, Kuala Sedili, Tanjong Ramuniah, Sungai Rengit/Pengerang/Pengelih/Tanjong Surat, Telok Sengat, Kota Tinggi, dan Kim Kim. Selepas Inggris pergi, pelabuhan-pelabuhan ini ada yang masih diaktifkan ada pula yang tidak. Meskipun demikian, perahu-perahu tradisional masih terlihat di sana.
Selain perahu-perahu tersebut, pada abad 20 (1950-an) lahir perahu-perahu jenis baru seperti perahu dengan daya angkut dan fungsi yang lebih besar. Tersebutlah seperti perahu kolek Johor. Perahu ini banyak ditemukan di Kepulauan Johor, Riau, Lingga, dan selatan Singapura. Ada juga perahu jenis baru bernama lapap. Perahu ini dikemudikan dengan dayung atau tali. Perahu jenis ini banyak ditemukan di daerah Mersing, pantai timur dan barat Johor, dan Selangor.
Pelabuhan Johor hingga kini masih beroperasi. Beberapa perahu tradisional masih terlihat berlalu lalang di perairan Johor. Realitas ini menjadikan pelabuhan Johor menjadi ramai. Sebuah pemadangan menarik biasanya terjadi saat sore hari, saat perahu-perahu tradisional berjejer sambil di pinggir pantai.
Penduduk Johor tampaknya bangga terhadap hasill budaya leluhur mereka. Para budayawan dan kaum cerdik pandai Johor tampaknya juga peduli dengan keberadaan perahu Johor. Festival perahu pun pada waktu-waktu tertentu di gelar diperairan tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa seperti umumnya kebudayaan Melayu yang lain seperti kesusasteraan, tarian, kuliner, dan busana, perahu menempati posisi tersendiri dalam kehidupan masyarakat Johor. Dan buku ini menjadi persembahan yang penting dalam pelestarian perahu Johor ke depan.
Yusuf Efendi (res/40/11-10).
Dibaca : 4.078 kali.