Selasa, 28 April 2026   |   Arbia', 11 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 3.901
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



27 november 2010 07:07

Kantauan, Antologi Cerita Pendek Anak-anak

Kantauan, Antologi Cerita Pendek Anak-anak

Judul Buku
:
Kantauan, Antologi Cerita Pendek Anak-anak 
Penulis
:
Iwan Yusi
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Penyunting:Hermawan H. Nugroho, S.T
Cetakan:Mei, 2001
Tebal
:
xi + 114 halaman
Ukuran
:
14, 3 x 20, 1 cm
 

Cerita sebagai sebuah kreasi budaya adalah wujud dari peradaban sebuah bangsa. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang suka bercerita. Ratusan bahkan ribuan cerita panjang atau pendek, baik yang berbentuk mitos, legenda, maupun hanya sekedar cerita pengantar tidur, memenuhi kebudayaan Indonesia. Sebagian dari cerita-cerita tersebut telah menginspirasi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta untuk menerbitkan buku berjudul 366 Cerita Rakyat Nusantara dari seluruh Indonesia. Claude Levi Strauss, seorang Antropolog dan etnolog Prancis pernah mengumpulkan lebih dari 600 cerita yang berkembang di suku-suku di Afrika. Sebagian dari cerita-cerita tersebut tertulis dalam bukunya Totemism.

Buku dihadapan Anda ini adalah salah satu buku terbaik yang berisi tentang delapan cerita pendek yang datang dari kebudayaan Melayu. Iwan Yusi sang penulis cerita, mengikutkan buku ini dalam sayembara penulisan naskah buku bacaan fiksi tingkat pusat tahun 2000 yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Hasilnya, buku ini menjadi pemenang pertama dalam ajang tersebut. Bagi Anda, khususnya para pendidik penting kiranya untuk membaca buku ini, karena cerita yang dihadirkan dalam buku ini bukan hanya berisi cerita belaka, akan tetapi cerita yang memiliki muatan kritik terhadap kepercayaan rakyat.

Cerita dan Kritik Cerita         

Cerita rakyat dalam kajian budaya dianggap sebagai perwujudan dari kepercayaan rakyat yang diperoleh dari pengalaman hidup mereka. Ketika rakyat bersentuhan dengan berbagai fenomena alam, lahirlah beragam anggapan yang diwujudkan dalam bentuk cerita lisan (prasejarah) atau ada juga yang menuliskan (sejarah). Cerita tersebut dapat berhubungan kepercayaan agama, alam, kekuasaan Tuhan, tokoh, atau hanya sekedar cerita hiburan.

Dalam konteks kajian budaya pula, cerita terkadang tidak dipandang hanya sekedar cerita, tetapi cerita dari sisi tertentu jika dicermati adalah sebuah “didikan terselubung” atau perlawan dari kepercayaan rakyat yang diceritakan itu sendiri. Cerita kontra cerita. Akan tetapi karena daya kritis masyarakat tidak diolah, maka sisi perlawanan dalam cerita tersebut tidak tersingkap. Leluhur tampaknya memang sengaja hanya mengajarkan untuk mempercayai saja cerita yang ada, tanpa memberitahu maksud dari cerita tersebut.

Pada masa kecil, orangtua Jawa sering melarang anaknya agar jangan menebang pohon besar yang ada di tempat tertentu. Di perdesaan Jawa, cerita ini masih dipercaya dan ditularkan kepada anak-anak. Ketika dunia dilanda masalah pemanasan global, banjir di mana-mana, atau tanah longsor akibat hutan yang gundul, cerita ini baru menemukan maknanya. Cerita mistis tentang pelarangan menebang pohon tertentu itu bisa jadi adalah “didikan terselubung” orangtua dahulu agar generasi selanjutnya tidak sembarangan menebang pohon.

Dalam buku ini terdapat cerita perlawanan yang dijadikan judul buku ini, Kantauan. Kantauan adalah seorang pemuda rupawan yang bercita-cita ingin menjadi orang sakti, berilmu tinggi, dicintai, dan disegani warga di desa Lumpangi. Kemudian bertapalah Kantauan selama bertahun-tahun di gua di bawah bukit, karena itu bukit itu dinamakan bukit Kantauan .

Demi menghormati bukit tersebut, penduduk desa Lumpangi dilarang berkebun di tanah sekitar bukit. Namun suatu ketika ada seorang guru desa yang menanam pohon dan diikuti oleh sebagian penduduk yang lain. Lalu terjadilah prahara, desa Lumpangi diserang oleh makhluk besar hingga desa tersebut hancur. Penduduk percaya Kantauan marah akibat tanah bukit ditanami, buktinya ditemukan sebuah tapak kaki besar.

Guru desa tersebut disuruh bertanggung jawab dan akhirnya sang guru masuk ke dalam gua untuk menemui Kantauan, namun apa yang ditemui:

“Lihat Pangatua dan semua warga! Kedua benda berupa tapak kaki buatan berukuran raksasa ini kami temukan dalam gua. Benda ini sengaja dibuat dari semen dan diberi tangkai sedemikian rupa. Bila benda ini dihentakkan ke tanah, terlebih tanah yang lembab, maka di atas tanah tersebut akan meninggalkan bekas serupa tapak kaki raksasa yang kalian temukan di kebun-kebun ini” (h. 109-110). 

Dari cerita di atas dapatlah dicermati, bahwa kepercayaan warga akan kemistisan sehingga warga dilarang berkebun ditanah bukit karena takut penunggu bukit (Kantauan) marah, terjawab dengan ditemukannya benda mirip telapak kaki raksasa tersebut. Cerita ini ingin mengajarkan kepada masyarakat bahwa, cerita adalah buatan manusia (konstruksi social), karena itu tidak harus dikaji dan dikritisi. Cerita yang hanya dipercaya dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh orang tertentu untuk kepentingan pribadi.

Satu hal yang perlu juga dicermati adalah bahwa cerita sangat berkait erat dengan kekuasaan tertentu, karena itu perlu didudukan sebagai sebuah kreasi manusia, tidak lebih.

Yusuf Efendi (res/39/11-10).

Dibaca : 3.913 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi