Kamis, 23 Juli 2026   |   Jum'ah, 7 Shafar 1448 H
Pengunjung Online : 669
Hari ini : 15.894
Kemarin : 23.873
Minggu kemarin : 186.297
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



13 desember 2010 07:07

Kangkung Kembang Danau Bangkau

Kangkung Kembang Danau Bangkau

Judul Buku
:
Kangkung Kembang Danau Bangkau
Penulis
:
Djarani E.M
Penyunting:Rachmi N. Hamidawati
Penerbit:
Adicita Karya Nusa, Yogyakarta
Cetakan:September, 2001
Tebal
:
xi + 114 halaman
Ukuran
:
14, 3 x 20, 1 cm
 

Satu lagi karya Djarani E. M yang penting untuk dibaca, khususnya bagi para guru Bahasa Indonesia baik di tingkat SD, SLTP, maupun SMU. Sama seperti buku penulis sebelumnya yang berjudul Lelehe Petualangan anak-anak Balai Hunjur Meratus Kalimantan Selatan, buku karya Djarani E.M juga berkisah tentang cerita seorang anak kampung bernama Johan yang berusaha menyadarkan warga agar memanfaatkan danau di kampung dengan bijak. Cerita anak kampung yang menginspirasi tampaknya menjadi tema yang menarik bagi penulis untuk diangkat.

Buku ini juga istimewa karena pernah memenangi lomba tingkat nasional sayembara penulisan naskah buku bacaan tahun 1988/1989 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Sayembara yang diikuti oleh para guru seluruh Indonesia tersebut merupakan perlombaan yang cukup bergengsi, karena mewakili kreasi guru SD, SLTP, SMU seluruh Indonesia. Dalam konteks untuk membendung bacaan-bacaan cerita dari luar negeri, keberadaan buku ini penting untuk diapresiasi. Bagaimanapun, cerita anak-anak asli Indonesia tidak kalah menarik dari luar negeri. Satu hal yang kurang dari cerita-cerita anak Indonesia ini adalah kemasannya yang kurang mengikuti zaman modern, baik dari sisi percetakannya, ilustrasi, maupun bahasanya.

Semangat Cinta Lingkungan

Hampir semua buku karya Djarani berkisah tentang semangat yang sama, yakni cinta lingkungan. Hal ini tampaknya disebabkan latar belakang penulis yang orang Kalimantan Selatan, orang kampung yang akrab dengan alam, baik berupa gunung, laut, sawah, maupun ladang, menginspirasi penulis untuk dikisahkan. Alam menjadi modal yang kaya untuk diambil semangatnya lalu ditularkan kepada pembaca melalui kisah yang heroik, dramatis, romantik, dan mencerahkan.

Hutan Kalimantan dalam beberapa berita yang disiarkan media dikatakan sedang mengalami krisis akibat pembalakan liar. Dalam konteks ini, semangat cinta lingkungan ini penting untuk selalu digaungkan, agar generasi muda bangsa mengetahui kondisi alamnya. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang akhir-akhir ini sering terjadi, ikut mengingatkan akan bahaya bahaya lingkungan yang mengancam alam Indonesia.

Selain hutan, lingkungan seperti sungai, danau atau rawa, maupun laut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari semangat cinta lingkungan ini. Kalimantan Selatan yang kaya akan itu semua, tampak menjadi bagian yang ingin disasar penulis, agar masyarakat memahaminya. Alam saat ini juga mengalami sedang mengalami krisis akibat ulah warga.  

Danau Bangkau yang menjadi tema utama dalam buku ini, diceritakan sebagai danau yang mengalami perambahan tak terkontrol dari masyarakat. Ikan yang ada di dalamnya habis hingga akhirnya danau hanya berupa genangan air belaka. Perambahan tak terkontrol warga berupa pengambilan ikan yang memakai jaring dengan lubang yang kecil, mengakibatkan anak ikan ikut terjaring. Tentu saja anak ikan akan mati setelah terjaring. Selain itu, penggunaan media obat untuk menangkap ikan, menjadikan ikan mati semua. Perilaku-perilaku seperti ini hingga sekarang masih banyak terjadi di daerah-daerah.

Pentingnya Program Pemberdayaan

Kebutuhan ekonomi yang mendesak sering dijadikan alasan masyarakat kenapa mereka mengeksploitasi alam. Mereka sebenarnya mengetahui dampak negatif dari perilaku mereka, namun kebutuhan ekonomi menutupi mata dan hati mereka. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah tampaknya perlu membuat program-program pemberdayaan ekonomi.

Masyarakat  sering mengeluhkan banyaknya orang kaya yang begitu mudah memanfaatkan alam karena mereka memiliki alat yang canggih. Dengan alat itu mereka dapat menghasilkan ikan yang banyak hanya dengan sedikit keringat.  Sementara itu, masyarakat miskin harus memeras keringat membanting tulang, bahkan harus menyabung nyawa untuk mendapatkan ikan di tengah laut. Belum lagi harga solar yang mahal dan nilai jual ikan yang rendah.

Program pemberdayaan ekonomi masyarakat penting untuk dilaksanakan dengan ketat, karena itu akan membantu ekonomi masyarakat yang hanya mengandalkan hasil laut atau hutan yang kecil. Dengan pemberdayaan ekonomi seperti koperasi atau pemberian alat-alat produksi secara gratis, akan membantu masyarakat memaksimalkan usaha mereka.

Lebih daripada itu, satu hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan tersebut adalah, pemerintah juga harus memilih pihak-pihak yang bertugas mengontrol. Tanpa itu semua, dikhawatirkan program akan berjalan tidak semestinya, bahkan bisa jadi dana program diselewengkan. Kekhawatiran ini bukanlah isapan jempol, sudah banyak data dan penelitian yang menemukan dana sosial dari pemerintah di korupsi untuk kepentingan pribadi.

Semangat cinta lingkungan dan usaha dari orang-orang yang justru ingin memanfaatkan lingkungan untuk kepentingan pribadi akan selalu terjadi. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat  harus bergandengan tangan untuk menjaga lingkungan sendiri-sendiri. Tanpa itu semua, lingkungan akan menjadi masalah selamanya.

Yusuf Efendi (res/43/12-10).

Dibaca : 4.205 kali.
20 oktober 2016 07:07

Kerajinan Tenun Daerah Riau

05 oktober 2016 07:07

Permainan Rakyat Kabupaten Kuantan Singingi