16 desember 2010 00:07
Folklor Indonesia
Judul Buku
| : | Folklor Indonesia |
Penulis
| : | James Danandjaja |
| Penerbit | :
| Pustaka Utama Grafiti, Jakarta |
| Cetakan | : | Ketiga, 1991 |
Tebal
| :
| xii + 239 halaman |
Ukuran
| :
| 14, 1 x 19, 9 cm |
Mungkin Anda akan muak ketika menonton tayangan televisi berupa sinetron yang mengungkap legenda kampung tertentu, dongeng asal mula sungai, kisah tokoh masyarakat tertentu, atau kisah tentang kepercayaan rakyat pada sebuah pohon. Sinetron dengan tema-tema seperti ini sedang marak akhir-akhir. Masyarakat intelektual mencela tayangan ini karena dianggap membodohi masyarakat dengan cerita-cerita mistis. Media dalam konteks ini dianggap hanya memanfaatkan kebodohan masyarakat Indonesia yang memang akrab dan kental dengan kepercayaan magis.
Legenda, mitos, dongeng, atau kisah kepercayaan rakyat memang akrab dalam kehidupan rakyat Indonesia sedari dulu. Nenek moyang negeri ini memang dikenal sebagai pencerita. Melalui cerita, mereka sebenarnya mengajarkan nilai-nilai tertentu tentang kehidupan yang mungkin sulit untuk dibahasakan secara ilmiah. Sayangnya, banyak masyarakat yang hanya memahami sepenggal saja. Akhirnya cerita itu berlalu turun temurun tanpa ada perubahan dan penjelasan tentang makna yang terkandung di dalamnya.
Sebagai contoh, masyarakat hanya takut terhadap cerita bahwa seseorang tidak boleh mendekati pohon beringin, karena akan diganggu makhluk halus penunggunya. Menurut pemakna cerita, cerita ini sebenarnya bermakna agar orang tidak sembarangan menebang pohon, karena akan menyebabkan banjir atau tunas-tunas pohon akan mati. Pada zaman orde baru, cerita ini dipolitisir, yakni agar orang tidak mengganggu partai pohon beringin, partai milik orde baru.
Dengan berpijak pada pemahaman untuk “mencerahkan”, James Danadjaja, menulis buku ini. Buku ini terasa pas dengan kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk, yang memang penuh dengan cerita dari nenek moyang. Seluruh suku bangsa yang hidup di bumi pertiwi ini, pasti memiliki cerita, entah berupa dongeng, legenda, atau mitos tentang daerah, sungai, atau tokoh suku bangsa tersebut. Sayang sekali buku ini ditulis dalam konsep ilmiah, sehingga agak sulit dipahami oleh orang desa yang suka bercerita.
Bagi Anda pecinta kajian antropologi budaya, Anda penting untuk membaca buku ini. Buku ini menghadirkan argumen secara ilmiah tentang segala sesutau yang berhubungan dengan mitos, legenda, atau dongeng yang sering disalahpahami oleh banyak pihak. Setelah Anda membaca buku ini, sedikit banyak Anda akan memahami kenapa cerita rakyat (folklore) yang mistis atau magis (kurang masuk akal) dapat tumbuh subur di dalam kehidupan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Meskipun zaman sudah modern.
Cerita Rakyat adalah Rakyat itu Sendiri
Pernah diceritakan, ada seorang profesor yang akan menikahkan anaknya. Pernikahan tersebut telah direncanakan akan berlangsung di sebuah gedung pendidikan (simbol rasional) yang terletak di pusat kota (simbol modern). Sang profesor berasal dari suatu desa terpencil di Jawa dan dia mendapat gelar profesor dari sebuah universitas di Amerika Serikat.
Segala persiapan telah dilakukan, keluarga kedua mempelai tinggal menunggu hari pernikahan. Namun ternyata, malam sebelum hari pelaksanaan, sang profesor menyuruh kerabat beserta seorang paranormal agar membakar dupa dan membawa bunga-bunga tertentu untuk dibawa berkeliling mengitari gedung pernikahan. Dupa dibakar dan bunga-bunga tersebut dibuang di sekeliling gedung, tujuannya agar besok pas hari pernikahan tidak ada halangan yang merintangi. Sang profesor melakukan itu karena malam sebelumnya dia bermimpi ditegur ibunya yang telah lama meninggal.
Mungkin Kita akan bertanya, kenapa masyarakat sepertinya tidak dapat lepas dari kepercayaan tradisional yang datang dari nenek moyang mereka? Bahkan meskipun mereka sudah mendapat pendidikan modern? Pertanyaan ini tentu saja menggelitik, karena seharusnya orang modern (rasional) tidak akan percaya akan cerita leluhur (irrasional). Namun, realitasnya sebaliknya, tidak sedikit orang berpendidikan tinggi (simbol rasional) masih percaya dengan cerita rakyat (simbol irrasional).
Apa yang dialami professor di atas adalah sebuah bukti nyata, bahwa kepercayaan rakyat yang telah mengisi imajinasi professor tidak dapat hilang meski telah ditimbuni dengan ajaran-ajaran baru yang dianggap lebih rasional. Dalam hal ini, tampaknya cerita leluhur yang disampaikan oleh ibunya, telah menjadi memori kolektif sang professor ketika dirinya kembali lagi menjadi masyarakat aslinya (Jawa). Ketika dirinya menjadi rakyat biasa (bukan pelajar yang ada di ruang belajar), maka dirinya kembali ke habitat aslinya, yaitu rakyat yang terikat dengan cerita rakyat. Dengan demikian, cerita rakyat adalah rakyat itu sendiri.
Hal ini sesuai dengan definisi cerita rakyat (folklore) itu sendiri, yakni kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda-beda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (h. 2).
Terlepas dari pro dan kontra tentang keberadaan cerita rakyat, bagaimanapun cerita rakyat telah menjadi salah satu kebudayaan yang luhur. Banyaknya cerita rakyat yang belum dapat diterima rasional, menjadi satu tugas tersendiri bagi kaum cerdik pandai untuk menyampaikan secara rasional kepada masyarakat. Satu hal yang harus dipahami, cerita rakyat tidak mesti harus rasional, karena yang rasional pun terkadang dirasional-rasionalkan dengan cerita, bukan sejatinya rasional, karena keduanya memang berjarak.
Yusuf Efendi (res/45/12-10).
Dibaca : 5.594 kali.